Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Puting Beliung Politik

Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group
29/2/2024 05:00
Puting Beliung Politik
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

FENOMENA puting beliung dahsyat melanda sebagian wilayah Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada Rabu (21/2) lalu. Angin yang berputar hebat, yang diperkirakan turun dari kumpulan awan hitam di langit, menggulung benda-benda termasuk bangunan yang dilewatinya.

Saking dahsyatnya, fenomena itu bahkan memunculkan dua pendapat ahli. Pakar dari BRIN Erma Yulihastin menggolongkannya sebagai tornado, dengan alasan angin itu berkecepatan di atas 65 km per jam. Menurutnya, ini masuk kategori tornado Skala Fujita di level 0. Radius putaran anginnya juga lebih dari 2 kilometer, sedangkan radius putar puting beliung biasanya kurang dari itu.

BMKG berpandangan lain. Mereka kukuh pada pendapat bahwa itu bukan tornado, meskipun memang level kekuatannya lebih besar daripada puting beliung biasa. BMKG juga menyebut Indonesia tidak mengenal istilah tornado. Maka, dengan kekuatan fenomena di Sumedang dan Bandung itu, BMKG mengategorikannya sebagai 'cuaca ekstrem puting beliung'.

Apa pun nama atau sebutannya, yang pasti angin raksasa yang berputar menyerupai gasing dengan kekuatan sedahsyat itu adalah fenomena yang tak biasa di Tanah Air. Bahkan, menurut Erma, tornado yang terjadi di Bandung dan Sumedang merupakan yang pertama kali terjadi di Indonesia. Itu bisa menjadi pertanda alam bahwa kondisi Indonesia memang sedang tidak baik-baik saja.

Saya tidak sedang coba mengait-ngaitkan, tetapi fenomena puting beliung dengan kekuatan yang besar kiranya juga tengah melanda jagat perpolitikan nasional. Tentu saja ini hanya metafora. Akan tetapi, bila melihat situasi politik Indonesia akhir-akhir ini, frasa ‘puting beliung’ rasanya tidak berlebihan dipakai sebagai personifikasi dari kaum elite penguasa yang belakangan suka main hantam dan terjang.

Awan perpolitikan yang gelap telah menciptakan badai dan pusaran angin yang tanpa ampun meluluhlantakkan nalar dan etika demokrasi. Bangunan demokrasi yang bertahun-tahun dibangun dengan susah payah bertubi-tubi ditonjok oleh tangan-tangan kerusakan yang kekuatannya tak kalah dahsyat dengan tornado di Jawa Barat.

 

Miris memang, tetapi itulah yang terjadi di Republik ini, paling tidak sejak tahun lalu ketika mesin-mesin politik untuk menghadapi Pemilu 2024 mulai dihidupkan. Kalau cuma mesin yang dihidupkan sebetulnya masih wajar. Itu hal yang normal, suhu politik di tahun-tahun politik memang selalu bakal menghangat, bahkan memanas.

Namun, ketika kemudian yang dihidupkan tidak cuma mesin politik, tapi juga rekayasa-rekayasa politik yang kotor sekaligus niretika, di situlah kekacauan mulai muncul. Terlebih ketika angin rekayasa itu mulai menjangkau wilayah yang dianggap sebagai benteng konstitusi demi satu tujuan yang sejatinya melawan prinsip reformasi dan demokrasi, yaitu membangun politik dinasti dan nepotisme.

Berawal dari situ, puting beliung politik terus berputar. Kerusakan terus ditebar, termasuk dengan memproduksi kecurangan-kecurangan untuk memenangi kontestasi pemilu. Segala hal yang dianggap menghalangi atau menghambat, dihantam. Bahkan suara moral para guru besar dan sivitas akademika kampus yang mengingatkan demokrasi sedang menuju kerusakan karena masifnya kecurangan pemilu pun, tak digubris.

Puting beliung selama ini dinarasikan sebagai angin sepoi-sepoi yang menyejukkan. Padahal sesungguhnya ialah angin ketamakan, angin kekemarukan yang sama sekali tidak menyegarkan. Ketika angin itu berputar, ada kepentingan kekuasaan yang diutamakan, tapi ada kepentingan pihak lain yang dibenamkan. Lebih parah lagi, ada kepentingan rakyat yang dikorbankan.

Pada akhirnya, keporakporandaan demokrasi mungkin tinggal menunggu waktu. Bahkan sebelum fase kerusakan itu kian memuncak di masa Pemilu 2024, The Economist Intelligence Unit (EIU) dalam laporan bertajuk Age of Conflict, yang menganalisis indeks demokrasi 2023 secara global, juga sudah memberikan Indonesia nilai buruk.

Indonesia hanya menempati peringkat ke-56 dari 200 negara yang disurvei dengan skor 6,53 poin, turun dari 6,72 poin di tahun sebelumnya. Sejumlah pakar memprediksi skor itu bakal turun lagi jika survei dilakukan setelah karut-marut politik nasional yang terjadi belakangan ini.

Kita tentu tak mengharapkan kemungkinan terburuk itu terjadi. Demokrasi harus diselamatkan. Badai pasti berlalu, kata Berlian Hutauruk, dalam lagu berjudul sama yang diciptakan Eros Djarot. Begitu pun puting beliung politik, kita mesti percaya bakal pergi dan berlalu.

Etika, nurani, dan ikhtiar akan menjadi kunci. Semua elemen masyarakat, dari rakyat jelata, kalangan cendekia, pers, hingga partai politik, mesti terus mengawal proses pemerintahan di negeri ini tanpa sedikit pun menyisakan celah bagi petualang-petualang politik kotor meluluhlantakkan demokrasi.



Berita Lainnya
  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik