Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Dalam Jebakan Ekonomi Ekstraktif

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
23/12/2023 05:00
Dalam Jebakan Ekonomi Ekstraktif
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

APAKAH salah bila sebuah negara mengandalkan perekonomian mereka dari sektor ekstraktif? Tentu saja tidak salah. Namun, siap-siaplah menjadi bangsa bangkrut di kemudian hari bila melulu mengandalkan ekonomi ekstraktif.

Contohnya Nauru. Negara terkecil di dunia itu bernasib malang, jadi negara sangat miskin, setelah sempat mencecap sebagai salah satu negara terkaya di dunia. Sebelum 2000-an, Nauru jadi lumbungnya fosfat. Saat itu, permintaan fosfat sedang tinggi-tingginya.

Pada era 1980-an, negara bekas koloni Inggris itu menjadi salah satu negara terkaya di dunia dan salah satu negara dengan pendapatan per kapita tinggi di dunia. Semua predikat itu diperoleh dari banyak faktor, terutama ekonomi ekstraktif mereka karena memiliki lumbung fosfat. Setelah bebas dari penjajahan Inggris pada 1968, tambang fosfat mencuat di Nauru.

Puncaknya terjadi pada 1980, ketika produksi fosfat semakin menggila.

Fosfat yang ada di Nauru dinilai bermutu tinggi. Hal itu disebabkan fosfat tersebut terbentuk dari endapan kotoran burung yang telah ada selama berabad-abad di tempat itu.

Malang tidak dapat ditolak, untung tidak dapat diraih. Mengutip The Guardian, Nauru yang dulunya negara kaya kini justru jatuh miskin karena menjadi korban kolonialisme yang rakus, salah urus, dan ketamakan.

Lantaran eksploitasi tambang yang menggila, 1990-an cadangan fosfat di Nauru semakin menipis. Puncaknya, 2006 penambangan fosfat di Nauru resmi ditutup. Padahal, tambang fosfat menjadi salah satu sumber perekonomian utama negara Nauru. Ketika aksi penambangan fosfat melemah, perekonomian Nauru juga ikut terseret. Alhasil, bertahun-tahun negeri itu hidup dalam kemiskinan karena kehabisan uang.

Bank sentral bangkrut. Realestat di luar negeri disita. Pesawat disita dari landasan pacu bandara. The Guardian melukiskan krisis keuangan yang terjadi membuat Nauru mengeksploitasi kedaulatan mereka. Pada 1990-an, Nauru menjelma menjadi surga pencucian uang. Nauru menjual izin perbankan dan paspor termasuk paspor diplomatik.

Nauru kiranya menjadi pembelajaran nyata bahwa ekonomi ekstraktif yang mengandalkan sumber daya alam pasti rapuh di kemudian hari. Namun, nyatanya, kendati banyak yang mengetahui bahwa ekonomi ekstraktif meninabobokan, toh hingga kini perekonomian Indonesia juga masih sangat bergantung pada konsumsi sektor ekstraktif itu. Padahal, aktivitas itu, bila dilakukan secara masif, sangat merusak lingkungan.

Jenis pembangunan ekonomi dengan jalan mengeruk sumber daya alam, seperti tambang, lahan, kayu, dan laut itu memang cepat menghasilkan, tapi pasti melenakan dalam jangka panjang. Sejak era sebelum kemerdekaan, Indonesia masih bergantung pada sektor ekstraktif.

Saat ini, 78 tahun setelah merdeka, ekonomi ekstraktif jadi andalan. Eksploitasi mineral, nikel, dan bauksit masih amat masif dilakukan. Di sisi lain, ekonomi hijau yang lebih menghasilkan, ekonomi berbasiskan teknologi dan riset yang kuat menopang negeri untuk jangka panjang, masih minim perhatian.

Begitu terjadi booming harga komoditas pada sektor ekstraktif, yang kaya semakin kaya karena mereka punya tambang. Namun, sebaliknya, mereka yang rentan menjadi miskin, yang miskin menjadi sangat miskin. Ekonomi ekstraktif pun jadi biang ketimpangan. Banyak ahli sudah mengingatkan bahwa jika kita hanya bertumpu pada ekonomi ekstraktif, dampak terhadap daya ungkit pertumbuhan ekonominya sangat minim dan berjangka pendek.

Center of Economic and Law Studies juga sudah mewanti-wanti agar Indonesia segera meninggalkan ekonomi ekstraktif yang menjadi biang ketimpangan itu. Uang dari daerah-daerah penghasil tambang mengalir ke Jakarta. Akibatnya, 70% peredaran uang terpusat di Jakarta, sedangkan masyarakat lokal penghasil tambang seperti di Maluku Utara tetap miskin. Semakin banyak pabrik di wilayah itu, semakin tinggi pula tingkat kemiskinan di daerah itu.

Berbeda bila negeri ini bertumpu pada ekonomi hijau. Ekonomi yang ramah terhadap lingkungan. Untuk jangka panjang, ekonomi hijau justru menjanjikan pendapatan berlipat, dengan lingkungan yang tetap terjaga kelestariannya.

Transisi dari ekonomi ekstraktif ke ekonomi hijau tidak hanya menguntungkan negara dan pengusaha, tapi pendapatan masyarakat juga berpotensi meroket hingga dua kali lipat.

Negeri ini harus move on dari cengkeraman ekonomi ekstrak yang bisa membunuh menuju ke perekonomian yang lebih berkelanjutan, berdaya tahan, bahkan membangkitkan.



Berita Lainnya
  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik