Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Kecerdasan Buatan

Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group
30/11/2023 05:00
Kecerdasan Buatan
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

MENYARING antara fakta dan fiksi menjadi sebuah tantangan tersendiri di era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) saat ini. Itu sama sulitnya dengan membedakan antara informasi dan disinformasi. Memilah mana yang asli dan mana yang palsu. Mana realitas, mana imajinasi.

Batas-batas itu kian kabur karena ulah teknologi yang tak sedetik pun berhenti berkembang dan bertransformasi. Semakin canggih teknologi AI, yang salah satunya berperan memunculkan deepfake, pada dasarnya semakin memperumit kemampuan orang untuk memahami kenyataan.

Boleh jadi ketika kecanggihan teknologi AI generatif kian tak terbendung, akan tiba masanya ketika manusia betul-betul tidak mampu lagi membedakan fakta dan fiksi. Bagaimana tidak, semua fakta dan informasi bisa dimanipulasi dengan AI. Segala yang tidak nyata bisa diolah menjadi seolah-olah nyata.

Panggung demokrasi dengan segala instrumennya juga mendapat tantangan serius dengan hadirnya AI. Memang, ada sisi positifnya ketika, misalnya, AI didayagunakan untuk menaikkan partisipasi publik dalam setiap proses politik dan demokrasi. Dalam konteks pemilu, kecanggihan AI juga bisa dimaksimalkan sebagai deteksi dini dari kemungkinan-kemungkinan terjadinya kecurangan dan pelanggaran.

Namun, pada sisi yang lain AI dapat menghadirkan petaka. Kita lihat saat ini betapa mudahnya AI digunakan untuk membuat sekaligus menyebarkan konten-konten kampanye negatif. Tidak perlu kecerdasan alami karena dengan kecerdasan buatan setiap orang bisa menciptakan teks, audio, ataupun video rekaan yang untuk tujuan buruk sekalipun.

Dengan kekuatan algoritmanya AI dapat mengarahkan pengguna selalu beranggapan berada di pihak yang benar dan pihak lain selalu salah.

Menurut salah satu studi, penerapan AI bahkan dapat merangsang konflik politik secara algoritmik. Artinya, AI benar-benar sudah memengaruhi praktik politik dan demokrasi dalam tataran praktis, bukan lagi sekadar konsep.

Fenomena itu tentu berpotensi mengancam stabilitas negara-negara demokrasi bila mereka tidak segera mempersiapkan diri. Yang sudah mempersiapkan diri pun dituntut untuk konsisten meng-upgrade sistem keamanan dan pengawasannya. Jadi, sudah bisa dibayangkan manakala ada negara yang mesti menghadapi laju perkembangan teknologi kecerdasan buatan tanpa persiapan apa-apa. Bisa ambyar.

Bagaimana di Indonesia? Kiranya tidak sulit menjawab pertanyaan itu karena tingkat pemahaman dan literasi digital kita yang masih rendah. Pada Februari 2023 lalu, ekonom senior Indef, Aviliani, pernah memaparkan data bahwa tingkat literasi digital di Indonesia hanya 62%. Anga itu paling rendah jika dibandingkan negara di ASEAN lainnya yang rata-rata mencapai 70%.

Angka itu juga menunjukkan kemampuan masyarakat Indonesia menghindar dari segala jenis bentuk penipuan berbau teknologi masih minim. Kesiapan kita menghadapi era yang serbadigital ke depan juga amat lemah. Hal itu juga yang barangkali menyebabkan masyarakat kita mudah terpapar berita bohong (hoaks), berita fitnah, dan lain sebagainya yang disebar melalui media sosial ketika musim politik mulai datang.

Nah, kalau di era media sosial saja sesama teman dekat, kerabat, bahkan keluarga bisa bertengkar hanya karena kesalahpahaman, lantas bagaimana jadinya kalau teknologi AI juga mulai bermain? Kalau di Pemilu 2019 lalu ketika AI belum berkembang sepesat sekarang saja media sosial dan ruang-ruang digital sudah teramat kotor hampir tanpa kontrol, lalu bagaimana kalau AI sudah ikut pula mengisi ruang-ruang itu?

Membayangkan saja ngeri. Apalagi, pemerintah sendiri, dari beberapa pernyataan yang disampaikan justru memperlihatkan ketidaksiapan. Kementerian Komunikasi dan Informatika bebrapa waktu lalu menyebut bahwa saat ini pemerintah masih dalam tahap proses kajian untuk mengembangkan regulasi terkait bahaya teknologi AI.

Nah lo, teknologinya saja sudah teraplikasi dan merasuk ke semua lini, tapi regulasinya masih dalam proses kajian. Apa enggak tambah ngeri kalau begitu?

Karena regulasi yang selalu tertinggal jauh, bangsa ini pada akhirnya menyerahkan urusan mencerna sekaligus menahan gempuran serbuan konten negatif di ruang digital kepada kecakapan warganya. Publik pula yang, lagi-lagi, dituntut lebih pintar menyaring hasil olahan si kecerdasan buatan itu, memilah mana yang fakta, mana yang setengah nyata, dan mana yang betul-betul fiksi.

Kita bukannya tidak mau, tapi apa iya negara selemah itu? Apa iya negara dengan segala sumber daya yang dimiliki tidak mampu mendefinisikan dampak buruk dari penerapan AI yang semakin masif dan sekaligus menciptakan obat penawarnya?

Ini yang dipertaruhkan masa depan demokrasi dan persatuan bangsa, lho. Bukankah negara yang semestinya mengendalikan teknologi, masa malah sebegitu gampangnya takluk dipermainkan kecerdasan buatan manusia?



Berita Lainnya
  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik