Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
ADA kisah sufi yang masyhur di Timur Tengah. Kisah itu bercerita tentang rasa waswas, rasa cemas, dan rasa takut dari penguasa despotik yang usia kekuasaannya sudah renta, di ujung senja.
Di sebuah negeri, sang penguasa despotik itu menyangka dirinya seorang penyair besar. Ia amat mengagumi syair-syair yang ditulisnya dan dideklamasikan sendiri. Bagi dia, tulisan dan vokalnya itu tiada tanding, tiada banding.
Sang penguasa makin besar kepala karena ia dikelilingi para penjilat yang saban hari memuji-muji syair-syairnya. Adrenalinnya membuncah saban pujian itu mengalir deras. Seperti yang terjadi di suatu waktu, saat sang penguasa mengumpulkan orang-orang demi menyaksikan dan mendengarnya mendeklamasikan syair-syair dari atas podium yang megah.
Seusai pembacaan syair-syair itu, ia menyuruh orang-orang yang hadir untuk menilainya. Maka, puja-puji berhamburan. "Sangat indah, Tuanku," seru mereka bak kor terorkestrasi. "Tuan, ini teramat indah. Tidak disangkal, Tuan adalah penyair terbesar di negeri ini," timpal yang lainnya disertai tempik sorak membahana.
Sang penguasa itu pun semringah. Ia bersiap membacakan syair-syair selanjutnya hingga tatapan matanya tertumbuk pada seorang tua yang diam membatu. "Hei, kau orang tua, mengapa diam saja? Kau tidak bisa mengagumi syair-syairku?" tanya sang penguasa.
Orang tua itu pun menjawab, "Menurut saya, syair-syair yang Tuan baca tadi buruk. Sangat buruk. Begitu pula suara Tuan saat membacakan syair-syair tadi, sangat buruk. Saya diam karena tidak kunjung bisa menikmati syair dan bacaan Tuan terhadap syair itu."
Di tengah kor 'sangat bagus', ada seorang renta usia berani mengatakan sebaliknya, 'sangat buruk', tentu ini masalah serius bagi sang penguasa yang tidak mau didebat itu. Orang tua yang berani itu bernama Nasruddin. Di kalangan sufi ia dikenal dengan nama Nasruddin Hoja.
Selain Abu Nawas, peradaban Islam juga mengenal sosok Nasruddin Hoja. Lantaran banyak dikisahkan dengan pelbagai cerita dan anekdot tentang kehidupannya, Nasruddin Hoja dikira tokoh fiksi. Padahal, sebenarnya ia sosok nyata, bahkan punya julukan mullah atau tokoh sufi.
Dalam kisah penguasa lalim itu, Nasruddin tampil sebagai sosok antagonis yang berani jujur mengkritik sang penguasa. Pasti, sang penguasa marah. Ia mengusir Nasruddin dan memerintahkan pasukan keamanannya untuk menyeret Nasruddin ke kandang kuda. "Kamu harus mendekam di kandang kuda untuk tiga hari sebagai hukuman atas kekurangajaranmu," tandas sang penguasa.
Sejak saat itu, Nasruddin sadar diri. Ia akan lari ke kandang kuda saban mendengar sang penguasa mendeklamasikan syair-syairnya. Ia terlihat konyol, tapi genius nan teguh pendirian. Ia memilih berada di kandang kuda ketimbang mengubah suara yang bertentangan dengan nuraninya.
Nasruddin mewakili perlawanan rakyat yang tertindas. Ia suara pengingat bagi penguasa yang mulai bernafsu memiliki semuanya sembari cemas kekuasaannya tergerus dan dicampakkan alias tidak dilanjutkan. Penguasa despotik yang cemas akan menggunakan rasa takut untuk menjaga kekuasaannya.
Seperti kata Ignazio Silone, peraih Nobel Sastra asal Italia, yang menyebutkan bahwa penguasa yang cenderung otoriter biasanya berangkat dari rasa cemas terus-menerus. Maka, suara yang berbeda, tindakan yang berbeda, akan selalu tidak menyenangkan baginya. Saat tidak senang, saat cemas, penguasa otoriter pun akan mengembangbiakkan ketakutan.
Di negeri Nasruddin, rasa cemas sang penguasa itu kian hari makin menggulung. Itu karena tembok-tembok dan pagar-pagar tebal kekuasaan yang ia bangun mulai rontok. Sejak Nasruddin yang diidentifikasi sebagai orang tua yang lemah bersuara berbeda, banyak orang makin percaya bahwa Nasruddin benar adanya. Kepercayaan itu meletupkan keberanian yang juga kian menggunung.
Suara yang tadinya sayup-sayup dan senyap mulai berubah menjadi pekikan yang makin membuat sang penguasa tambah cemas. Di sisi lain, pujian demi pujian, jilatan demi jilatan, sudah tidak segegap gempita sebelumnya.
Kini, tiap malam tiba, ketika hendak tidur, sang penguasa dihinggapi rasa cemas bertalu-talu. Sembari menatap langit-langit, berkali-kali ia bergumam, "Oh Nasruddin, kamu memang terlalu...."
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)
JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved