Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
APAKAH masuknya Gibran Rakabuming Raka bin Joko Widodo dalam bursa cawapres merupakan tanda kebangkitan kaum muda? Saya mesti tegas mengatakan: belum tentu. Dengan segala hormat saya kepada Wali Kota Surakarta itu, izinkan saya meragukan cara-cara yang ia gunakan untuk melompat menuju jenjang pencawapresan, plus jejak pengalaman dia yang teramat lekas menggapai salah satu puncak kekuasaan.
Banyak orang mengatakan muda bukan soal umur belaka. Dalam kontestasi demokrasi, muda lebih pada tata dan cara. Orang bisa muda secara usia, tapi bila jalan menuju gerbang kontestasi demokrasi menggunakan cara-cara 'tua', ia tidak mewakili spirit kemudaan.
Cara-cara tua yang kuno, usang, instan, menggelayut kepada kekuasaan, jelas amat jauh dari spirit kemudaan. Sebaliknya, kendati secara usia sudah setengah baya, bila jalan yang ditempuh penuh dengan spirit kemudaan, lewat kerja keras, mandiri, independen, ia sah mewakili jiwa muda. Ia membawa pembaruan, mengapungkan kesegaran.
Jadi, muda itu memiliki keunikan, yakni spirit kebaruan. Kalau ada anak muda tidak membawa kebaruan, itu bukan lagi anak muda. Muda dan tua memang bukan persoalan usia, melainkan bagaimana seseorang melihat masa depan.
Muda juga berarti adaptasi dan kemampuan seseorang dalam menjawab persoalan zamannya. Lahirnya Sumpah Pemuda ialah sejarah bagaimana anak muda kala itu tidak saja mampu menjawab spirit zaman, tapi juga bergerak melampaui zaman. Ketika itu, para pemuda di masa itu bersepakat menggunakan bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia, padahal mereka belum memiliki negara.
Jadi, kemudaan itu menggerakkan kebangkitan. Kebangkitan, di mana pun, merupakan usaha kesengajaan. Kebangkitan yang disulut spirit kemudaan itu melahirkan gerak maju peradaban, bukan malah kemunduran atau mengulang sejarah kelam. Nepotisme, mengandalkan dinasti, menggunakan cara terabas, itu cara-cara kelam yang kerap dipraktikkan Orde Baru.
Spirit kemudaan itu selalu merupakan buah atau cermin dari ikhtiar kesengajaan. Sumpah Pemuda dibangun secara sadar oleh usaha kesengajaan. Begitu juga dengan proklamasi kemerdekaan kita, mewujud oleh ikhtiar penuh kesadaran dari beragam elemen Republik ini untuk hidup bebas dari penjajahan. Reformasi juga akumulasi kesengajaan untuk mengubah arah sejarah menjadi lebih adil dan demokratis.
Karena itu, bila kita bicara siapa mewakili kelompok muda, jawabnya ialah mereka yang memotori gerak maju dan gerak perubahan menuju bangsa berperadaban lebih unggul. Bangsa ini jelas tidak akan baik-baik saja dan bisa sekonyong-konyong unggul tanpa usaha keras.
Mereka yang disebut muda berarti yang punya mimpi dan tekad pantang menyerah, dengan cara-cara yang penuh keadaban. Tekad, usaha keras dengan cara-cara elegan, dan optimisme itu terbukti menjadi bahan bakar ampuh menuju kemerdekaan. Saat para pejuang kemerdekaan memekikkan Indonesia merdeka, tidak banyak yang percaya mimpi itu bisa terwujud.
Apalagi, saat itu Indonesia tengah digencet dua poros raksasa kolonialis, Belanda (sekutu) dan Jepang. Namun, sumbu keyakinan yang mewakili spirit muda tetap menyala. Akhirnya, kemerdekaan bisa diraih.
Begitu juga dengan Sumpah Pemuda. Banyak muncul keraguan bahwa persatuan bisa ditenun hanya oleh tekad segelintir pemuda di tengah keinginan berbeda-beda dan keragaman bangsa dengan macam-macam kompleksitasnya. Nyatanya, keraguan itu gugur oleh tekad kemudaan yang segar, penuh visi kebaruan, dan bukan oleh usaha instan.
Bahkan, ajaran para nabi meneguhkan, jika kamu yakin bisa berjalan di atas laut, semesta akan membuatmu mewujudkannya. Bila kalian percaya api bisa ditaklukkan menjadi energi positif, tidak ada yang mustahil untuk diwujudkan.
Namun, keyakinan tanpa diikuti visi akan menjadi buta. Ia semacam taklid. Bahkan, ada yang menyebutnya bonek, alias bondho nekat (modal nekat). Para pendiri Republik ini tidak sekadar yakin usia muda akan membawa kemerdekaan. Mereka muda, tapi bukan instan. Mereka muda, sekaligus punya visi tentang Indonesia pascakemerdekaan, bahkan bagaimana Indonesia masa depan.
Para pejuang gigih Sumpah Pemuda jelas tidak sekadar punya modal pekik. Mereka membawa visi seperti apa bangsa ini merawat persatuan ke depan. Mereka merawat sumpah persatuan itu dalam visi besar Bhinneka Tunggal Ika. Sumpah persatuan tidak sekadar diteriakkan lalu dilipat di bawah bantal sebagai teman bermimpi.
Saya sepenuhnya masih percaya dengan pandangan Ernest Renan, filsuf Prancis. Kata dia, bangsa terjadi karena adanya perasaan dan tekad yang kuat untuk bersatu dari para penyokongnya yang bersedia melakukan pengorbanan dan punya visi bagi kejayaan mereka.
Selama masih ada semangat bersatu, spirit berkorban, semangat kemudaan, dan visi ke depan, bangsa itu akan tetap memiliki gerak maju. Sebaliknya, para penyokong bangsa yang gemar memilih cara instan dan tidak punya visi ke depan, mereka setara dengan sekumpulan pecundang.
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)
JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved