Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM berpolitik, inkonsistensi rupanya bisa menurun. Itulah kiranya yang terjadi antara Jokowi dan Gibran Rakabuming Raka.
Like father like son. Ungkapan dalam bahasa Inggris ini biasa digunakan untuk menggambarkan bagaimana seorang anak punya kesamaan dengan ayahnya. Kalau pepatah kita, buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
Namanya bapak dan anak, antara Jokowi dan Gibran punya kemiripan. Tak perlu kita mengulik kemiripan pribadi, tapi untuk urusan kepublikan penting rasanya diungkapkan. Bahwa ada keserupaan dalam hal inkonsistensi, itulah yang belakangan banyak diperbincangkan orang.
Sejak sebelum hingga setelah menjadi presiden, Jokowi tidak jarang inkonsisten. Mari sedikit kilas balik ke belakang. Dulu, di 2013 atau setahun jelang Pilpres 2014, dia berulang kali mengatakan 'tak mikir urusan capres. 'Enggak ngurus copras-capres', begitu dia menjawab acap kali ditanya wartawan.
Kata Jokowi yang ketika itu menjabat Gubernur DKI Jakarta, dia hanya memikirkan Jakarta, bukan yang lain. Dia cuma ngurusin banjir, macet, kaki lima, bukan soal survei-survei, bukan soal bagaimana kalau nanti diusung menjadi calon presiden. Namun, sejarah mencatat, Jokowi akhirnya berlaga di pilpres, menang, lalu meninggalkan kursi gubernur, menanggalkan amanah warga Jakarta yang baru dua tahun dipikul.
Lain dulu beda kemudian. Inkonsistensi juga dilakukan Jokowi saat menjabat. Dia bahkan dicap sebagai manusia yang dalam dirinya penuh kontradiksi.
Bagaimana dengan Gibran? Tidak jauh beda. Dulu, dia terang-terangan mengaku tidak tertarik menjadi politikus. "Kalau jadi pebisnis, saya tertarik. Namun, kalau politikus, tidak," katanya di Cikini, Jakarta Pusat, 11 Maret 2018.
Gibran yang kelahiran 1 Oktober 1987 memang pengusaha. Dia mendirikan katering Chili Pari, lalu jualan martabak dengan merek Markobar, makanan ringan, minuman tradisional, dll.
Namun, lidah tak bertulang. Gibran yang tadinya tidak berminat pada politik berbalik arah dan terjun ke politik praktis. Dia berkontestasi di Pilkada Surakarta 2020, menang, dan menjadi wali kota termuda sepanjang sejarah Kota Bengawan pada usia 33 tahun. Konon, Gibran bisa diusung PDIP karena Jokowi minta langsung ke Megawati.
Sejarah berulang. Apa yang dilakukan Jokowi dilakukan pula oleh Gibran. Hanya sekitar dua tahun menjadi wali kota, dia ikut berkompetisi di pilpres sebagai cawapres. Dia menjadi pendamping Prabowo Subianto.
Dalam berproses, Gibran juga serupa bapaknya. Pada sebuah kesempatan di Mei 2023, dia mengaku tidak memikirkan pilpres. Alasannya, umur belum cukup. Alasan lain, dia baru dua tahun bertugas di Surakarta. Dia bilang masih perlu banyak belajar dan menjadi cawapres merupakan tugas berat. "Fokus saya masih di sini (Surakarta). Fokus saya tidak ke sana (pilpres)," katanya di kesempatan yang lain.
Soal umur, Jokowi pun sempat mengamini. Kata dia, wacana Gibran berduet dengan Prabowo tidak logis karena usia Gibran masih muda, belum 40 tahun. Dalih lain, Gibran baru dua tahun menjadi wali kota. ''Yang logis sajalah,'' tukasnya di Gedung Sarinah Jakarta, 4 Mei 2023.
Dalam salah satu lagunya, Agnes Monica menyebut cinta kadang-kadang tak kenal logika. Ternyata, tidak cuma cinta, syahwat untuk berkuasa tak perlu logika pula. Faktanya, melalui rentetan upaya termasuk memanfaatkan lembaga nanmulia Mahkamah Konstitusi yang diketuai sang paman, yang tak logis dalam diri Gibran bisa dilogis-logiskan.
Gibran juga pernah bilang tidak mungkin keluarganya membangun dinasti. Katanya, kasihan rakyat kalau ada dinasti. Namun, itu dulu. Sekarang?
Tidak ada manusia, apalagi politikus, yang tidak pernah berubah sikap. Hadis mengumpamakan hati laksana bulu yang tertempel di pangkal pohon diembus angin sehingga terbalik. Namun, lain cerita jika perubahan itu tidak cuma sekali dua kali. Konsekuensinya akan berbeda jika inkonsistensi itu dilakukan oleh pejabat publik atau pemegang kuasa yang hendak punya kekuasaan lebih besar.
Konsistensi ialah salah satu syarat utama seorang pemimpin. Pemimpin pantang plin-plan. Tidak boleh hari ini begini, besok begitu, lusa begono. Tidak boleh janjinya ke sini, realisasinya ke sana. Ia juga tidak boleh jarkoni, bisa berujar tidak bisa nglakoni. Apakah Gibran termasuk pemimpin yang seperti itu? Silakan para pembaca menilainya.
Pada 1 September 2020, penulis Australia Ben Bland meluncurkan buku berjudul Man of Contradictions: Joko Widodo and the Struggle to Remake Indonesia. Jangan sampai dia menulis tema serupa tentang Mas Gibran.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved