Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Dulu Jokowi Sekarang Gibran

Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group
27/10/2023 05:00
Dulu Jokowi Sekarang Gibran
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

DALAM berpolitik, inkonsistensi rupanya bisa menurun. Itulah kiranya yang terjadi antara Jokowi dan Gibran Rakabuming Raka.

Like father like son. Ungkapan dalam bahasa Inggris ini biasa digunakan untuk menggambarkan bagaimana seorang anak punya kesamaan dengan ayahnya. Kalau pepatah kita, buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

Namanya bapak dan anak, antara Jokowi dan Gibran punya kemiripan. Tak perlu kita mengulik kemiripan pribadi, tapi untuk urusan kepublikan penting rasanya diungkapkan. Bahwa ada keserupaan dalam hal inkonsistensi, itulah yang belakangan banyak diperbincangkan orang.

Sejak sebelum hingga setelah menjadi presiden, Jokowi tidak jarang inkonsisten. Mari sedikit kilas balik ke belakang. Dulu, di 2013 atau setahun jelang Pilpres 2014, dia berulang kali mengatakan 'tak mikir urusan capres. 'Enggak ngurus copras-capres', begitu dia menjawab acap kali ditanya wartawan.

Kata Jokowi yang ketika itu menjabat Gubernur DKI Jakarta, dia hanya memikirkan Jakarta, bukan yang lain. Dia cuma ngurusin banjir, macet, kaki lima, bukan soal survei-survei, bukan soal bagaimana kalau nanti diusung menjadi calon presiden. Namun, sejarah mencatat, Jokowi akhirnya berlaga di pilpres, menang, lalu meninggalkan kursi gubernur, menanggalkan amanah warga Jakarta yang baru dua tahun dipikul.

Lain dulu beda kemudian. Inkonsistensi juga dilakukan Jokowi saat menjabat. Dia bahkan dicap sebagai manusia yang dalam dirinya penuh kontradiksi.

Bagaimana dengan Gibran? Tidak jauh beda. Dulu, dia terang-terangan mengaku tidak tertarik menjadi politikus. "Kalau jadi pebisnis, saya tertarik. Namun, kalau politikus, tidak," katanya di Cikini, Jakarta Pusat, 11 Maret 2018.

Gibran yang kelahiran 1 Oktober 1987 memang pengusaha. Dia mendirikan katering Chili Pari, lalu jualan martabak dengan merek Markobar, makanan ringan, minuman tradisional, dll.

Namun, lidah tak bertulang. Gibran yang tadinya tidak berminat pada politik berbalik arah dan terjun ke politik praktis. Dia berkontestasi di Pilkada Surakarta 2020, menang, dan menjadi wali kota termuda sepanjang sejarah Kota Bengawan pada usia 33 tahun. Konon, Gibran bisa diusung PDIP karena Jokowi minta langsung ke Megawati.

Sejarah berulang. Apa yang dilakukan Jokowi dilakukan pula oleh Gibran. Hanya sekitar dua tahun menjadi wali kota, dia ikut berkompetisi di pilpres sebagai cawapres. Dia menjadi pendamping Prabowo Subianto.

Dalam berproses, Gibran juga serupa bapaknya. Pada sebuah kesempatan di Mei 2023, dia mengaku tidak memikirkan pilpres. Alasannya, umur belum cukup. Alasan lain, dia baru dua tahun bertugas di Surakarta. Dia bilang masih perlu banyak belajar dan menjadi cawapres merupakan tugas berat. "Fokus saya masih di sini (Surakarta). Fokus saya tidak ke sana (pilpres)," katanya di kesempatan yang lain.

Soal umur, Jokowi pun sempat mengamini. Kata dia, wacana Gibran berduet dengan Prabowo tidak logis karena usia Gibran masih muda, belum 40 tahun. Dalih lain, Gibran baru dua tahun menjadi wali kota. ''Yang logis sajalah,'' tukasnya di Gedung Sarinah Jakarta, 4 Mei 2023.

Dalam salah satu lagunya, Agnes Monica menyebut cinta kadang-kadang tak kenal logika. Ternyata, tidak cuma cinta, syahwat untuk berkuasa tak perlu logika pula. Faktanya, melalui rentetan upaya termasuk memanfaatkan lembaga nanmulia Mahkamah Konstitusi yang diketuai sang paman, yang tak logis dalam diri Gibran bisa dilogis-logiskan.

Gibran juga pernah bilang tidak mungkin keluarganya membangun dinasti. Katanya, kasihan rakyat kalau ada dinasti. Namun, itu dulu. Sekarang?

Tidak ada manusia, apalagi politikus, yang tidak pernah berubah sikap. Hadis mengumpamakan hati laksana bulu yang tertempel di pangkal pohon diembus angin sehingga terbalik. Namun, lain cerita jika perubahan itu tidak cuma sekali dua kali. Konsekuensinya akan berbeda jika inkonsistensi itu dilakukan oleh pejabat publik atau pemegang kuasa yang hendak punya kekuasaan lebih besar.

Konsistensi ialah salah satu syarat utama seorang pemimpin. Pemimpin pantang plin-plan. Tidak boleh hari ini begini, besok begitu, lusa begono. Tidak boleh janjinya ke sini, realisasinya ke sana. Ia juga tidak boleh jarkoni, bisa berujar tidak bisa nglakoni. Apakah Gibran termasuk pemimpin yang seperti itu? Silakan para pembaca menilainya.

Pada 1 September 2020, penulis Australia Ben Bland meluncurkan buku berjudul Man of Contradictions: Joko Widodo and the Struggle to Remake Indonesia. Jangan sampai dia menulis tema serupa tentang Mas Gibran.



Berita Lainnya
  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.