Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Kemaruk

Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group
26/10/2023 05:00
Kemaruk
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

LAGI heboh-hebohnya polemik di ruang publik tentang isu dinasti politik ala Presiden Joko Widodo, secara tidak sengaja sebuah tayangan film pendek mampir di layar Youtube dan langsung mencuri perhatian saya. Judulnya Film Pendek II Kemaruk, diunggah oleh akun anaknegeri indonesia. Meskipun sederhana dari sisi penggarapan maupun latar belakang, film yang menurut krjogja.com digarap sutradara Ambar Wiyanto itu sangat cocok menggambarkan situasi perpolitikan nasional terkini.

Sesuai kategorinya sebagai film pendek, film produksi 2020 tersebut cuma berdurasi 18 menit lebih sedikit. Setting-nya juga sangat lokal, menceritakan kejadian di sebuah desa, sepertinya di daerah pinggiran Yogyakarta atau Jawa Tengah. Namun, kesahajaan durasi waktu dan latar itu tidak membuat tontonan tersebut kehilangan pesan. Film itu mampu mendeskripsikan betapa tidak eloknya upaya melanggengkan kekuasaan dengan segala cara yang diinisiasi oleh sifat kemaruk alias serakah.

Dikisahkan dalam film itu, sebuah desa sebentar lagi akan menggelar suksesi alias pemilihan kepala desa (pilkades). Asal Anda tahu, dalam tradisi di perdesaan, aroma kompetisi politik dalam kontestasi pilkades tak kalah keras daripada pilkada atau pilpres sekalipun. Pilkades serupa pilpres dalam versi miniatur. Polemik, intrik, bahkan akrobat politik yang sering kita saksikan di level nasional, sesungguhnya sering pula tersaji di pilkades.

Contohnya ada di film singkat ini. Sang kepala desa, yang tampaknya masih berambisi untuk berkuasa, tidak boleh lagi ikut kontestasi karena terganjal aturan pembatasan masa jabatan. Namun, dengan dalih bahwa masyarakat masih membutuhkan kepemimpinannya dan program-program yang sudah dia jalankan harus ada keberlanjutan, syahwat Pak Kades untuk tetap mengontrol kekuasaan pun tak bisa dibendung.

Dalam prinsip Pak Kades, boleh saja dia tidak bisa memegang langsung kekuasaan desa itu lagi, tapi minimal dia harus bisa mengendalikannya melalui kerabat atau keluarganya. Maka, ia menyorongkan istrinya untuk maju dalam pencalonan. Sang istri awalnya menolak karena menyadari dia tak punya kapasitas untuk itu dan malu jadi cibiran warga. Akan tetapi, lama-lama ia menyerah setelah sang suami terus merayu dan mendesaknya.

Pada titik itulah sejatinya Pak Kades sedang membangun dinasti politik desanya. Agar proses pembangunan dinasti lancar, aral-aral mesti disingkirkan. Gulma-gulma harus dibersihkan. Satu kaki mengangkat sang istri, kaki lainnya menginjak para penentangnya. Dengan menggunakan kekuasaannya, kades mulai menyerang calon lainnya. Kampanye hitam disebar ke warga desa untuk memukul pesaing dengan harapan istrinya bisa melenggang memenangi kompetisi.

Ya, seperti itulah harga sebuah dinasti politik. Harga mahal untuk satu kekemarukan politik. Untuk dapat mendirikannya, jangan harap tangan kita bisa tetap bersih. Untuk bisa mengerek satu sosok (yang seharusnya tidak atau belum layak untuk diangkat), pasti ada pihak lain yang lebih pantas akan dibenamkan, ada sosok lain yang harus dipinggirkan. Lebih parah lagi, ada kepentingan rakyat yang dikorbankan.

Nah, kalau di film ada Pak Kades, di dunia nyata ada 'Pak Lurah'. Sebutan Pak Lurah selama ini banyak diasosiasikan dengan Presiden Jokowi. Dalam konteks nasional hari ini, apa yang dilakukan Pak Kades di Film Pendek II Kemaruk itu persis seperti yang sedang dilakukan Jokowi. Ia juga diduga tengah membangun dinasti politik demi mengamankan kendali kekuasaan tetap di tangan orang dekatnya.

Bedanya, kalau Pak Kades membangun dinasti melalui istrinya, 'Pak Lurah' memilih melalui anak-anak dan menantunya. Yang membedakan lagi, 'Pak Lurah' sudah menyiapkan fondasi dinastinya sejak tiga tahun sebelumnya ketika anak sulungnya ia promosikan menjadi Waki Kota Surakarta, dan menantu laki-lakinya menjadi Wali Kota Medan. Ibarat membangun rumah, kalau fondasinya sudah ada, tentu proses konstruksi selanjutnya akan lebih mudah.

Karena itu, buat yang mengikuti manuvernya sejak awal, pendaftaran Gibran Rakabuming Raka, sang putra Presiden, sebagai cawapres mendampingi capres Prabowo Subianto ke KPU, kemarin, barangkali sudah tidak terlalu mengagetkan. Melajunya Gibran boleh dimaknai sebagai buah dari kukuhnya persiapan dan fondasi dinasti yang sudah disiapkan sejak awal.

Kini tinggal menunggu hasil akhirnya saja nanti pada Pilpres 2024. Apakah Gibran dengan keunggulan popularitas dan kekuatan kekuasaan yang masih dipegang sang ayah mampu membuat rakyat terbujuk dan melupakan racun dinasti politik yang sesungguhnya telah mencemari prinsip demokrasi dan meritokrasi?

Atau malah sebaliknya, boleh jadi ia akan bernasib seperti istri Pak Kades dalam film yang akhirnya ditinggalkan warga karena mereka enggan mendukung dinasti politik nirkapabilitas. Kita nantikan saja.



Berita Lainnya
  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.