Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Menyehatkan Jantung Demokrasi

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Grou
18/10/2023 05:00
Menyehatkan Jantung Demokrasi
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Grou(MI/Ebet)

KAMIS, 19 Oktober 2023, besok, ialah hari pertama pendaftaran bacapres dan bacawapres oleh partai politik atau gabungan parpol. Rencananya, pasangan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar (Amin) yang diusung Koalisi Perubahan (NasDem, PKB, dan PKS) menjadi bacapres-bacawapres yang bakal 'mengawali start' kontestasi Pilpres 2024 itu.

Kita layak mengapresiasi Koalisi Perubahan yang membuat tradisi 'pembuka pintu' rumah demokrasi itu. Kelayakan apresiasi itu berkaitan dengan kesiapan koalisi tersebut dalam mengarungi kompetisi yang menjadi jantungnya demokrasi, yakni pemilu. Apalagi, ada sebagian sikap skeptis publik atas keberlangsungan demokrasi di negeri ini. Sikap itu kiranya bisa dijawab besok, saat pasangan Amin benar-benar bisa mendaftar dengan lancar.

Skeptisisme publik kiranya wajar belaka. Sebab, beberapa langkah rezim akhir-akhir ini dinilai mulai menyimpang dari jalur konsistensi demokrasi. Dimulai dari munculnya wacana presiden tiga periode, penundaan pemilu, hambatan (ada yang menarasikan penjegalan) kepada kelompok politik yang berbeda, dugaan kriminalisasi terhadap kelompok yang berseberangan, hingga aturan batas usia capres dan cawapres, ialah bentuk-bentuk aksi keluar jalur itu.

Namun, apa pun dan sebesar apa pun tingkat skeptisisme terhadap jalannya demokrasi, mestinya jantung demokrasi harus berjalan dengan baik. Suplai darah ke otot-otot jantung harus dipastikan sanggup mengalir dengan baik. Jantung dalam sistem demokrasi ialah pemilihan umum yang bebas, transparan, jujur, dan adil.

Karena dengan melalui pemilihan umumlah, mayoritas rakyat dapat menentukan pilihan nasib bangsa ke depan. Melalui pemilu pula demokrasi bisa dipastikan kelangsungan hidupnya. Apalagi, demokrasi sudah kita sepakati sebagai konsensus bangsa.

Maka, ketegangan yang terjadi pascaputusan Mahkamah Konstitusi awal pekan ini, mestinya tidak membuat ada yang berangan-angan menunda tahapan Pemilu 2024, termasuk tahapan pendaftaran bacapres dan bacawapres. Kemarahan para pihak atas putusan MK mesti dijawab oleh penyelenggara pemilu dengan memastikan bahwa Pemilu 2024 berjalan jujur, adil, dan transparan.

Hanya dengan garansi seperti itu, skeptisisme sebagian kalangan bisa dikurangi. Sebab, saban pemilu, kita menghadapi kekhawatiran akan minimnya partisipasi. Khususnya pemilu pasca-Orde Baru. Pada Pemilu 1999, partisipasi publik dalam pemilu mulai turun, dari 96% pada pemilu-pemilu Orde Baru menjadi 92%.

Sejak itu, tingkat partisipasi pemilu terus turun, yakni 84,1% pada 2004, lalu anjlok menjadi 71% pada Pemilu 2009. Pada Pemilu 2014, partisipasi memang naik lagi menjadi 75%, dan kembali meningkat menjadi 81,6% di Pemilu 2019, tetapi belum mampu menyamai partisipasi publik seperti pada 1999.

Begitu pula dengan tingkat partisipasi pemilih dalam pilpres langsung sebelum 2019, yang lebih minim. Pada Pilpres 2004, tingkat partisipasi pemilih 79,7%. Lalu, Pilpres 2009 turun hanya 74,8%. Pada Pilpres 2014, tingkat partisipasi bahkan anjlok ke angka 69,78%. Baru pada Pilpres 2019, tingkat keikutsertaan pemilih bisa mencapai 81,9%.

Partisipasi dalam pemilu-pemilu di era Orde Baru memang tinggi. Namun, partisipasi itu semu. Partisipasi tinggi terjadi lebih karena mobilisasi dan 'ancaman' pelabelan bahwa mereka yang tidak berpartisipasi dalam pemilu ialah warga yang tidak bertanggung jawab. Pemilu pasca-Orde Baru disebut sebagai babak baru demokrasi karena partisipasi muncul karena tingkat kesadaran.

Kendati demikian, munculnya sikap skeptis sebagian publik patut jadi catatan. Tantangan kali ini ialah mulai munculnya kegalauan bahwa Republik ini akan berada di jalur despotisme baru. Sebagaimana pernah disebutkan ahli politik John Keane, despotisme baru ditandai dengan kelihaian penguasa dalam memanipulasi dukungan luas publik.

Dalam despotisme baru, semua tatanan demokrasi dijalankan. Tapi, ia serupa pseudo democracy, demokrasi seolah-olah. 'Kelebihan' dari despotisme baru ini ialah kendati banyak langkah penguasa yang sejatinya antidemokrasi, merekayasa hukum, mengkriminalisasi siapa pun yang berbeda, tapi mereka tetap mampu mendulang dukungan dan meraup tingkat kepuasan.

Maka, kelancaran pendaftaran bacapres dan bacawapres di KPU besok ialah upaya menyehatkan jantung demokrasi. Kelancaran kontestasi ialah cara memastikan bahwa otot-otot demokrasi cukup kuat mengangkat tantangan yang berat. Juga, garansi agar sirkulasi darah demokrasi tetap berjalan sehat dan lancar.



Berita Lainnya
  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik