Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Cemas Jatah Beras

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
07/10/2023 05:00
Cemas Jatah Beras
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

RAK-RAK khusus beras di sejumlah toko di Jakarta dan sekitarnya hampir kosong. Sejumlah toko pun membatasi konsumen hanya boleh membeli beras 10 kilogram dalam sehari. Selain langka, harga pangan mayoritas rakyat Indonesia itu pun terus membubung. Pembatasan dilakukan agar konsumen beras mendapat jatah merata.

Jangan salah, itu bukan situasi tahun 1960-an saat kelangkaan pangan melanda negeri ini. Laporan di atas ialah fakta hari ini, atau enam dekade kemudian, saat negeri yang dikenal sebagai lumbung padi ini dipukul limbung oleh kelangkaan beras dan mahalnya harga pangan pokok.

Di sejumlah ritel modern, rak-rak khusus beras premium yang biasanya penuh dengan berbagai jenis beras, saat ini hanya terlihat satu jenis beras premium. Stok beras di rak juga banyak yang mulai kosong. Petugas toko mengatakan akhir-akhir ini stok beras sedang kosong. Dia bilang sudah sekitar dua pekan beras susah didapat. Tidak ada jalan lain, penjatahan pun dilakukan.

Harga beras sudah naik lebih dari 30% dalam dua bulan terakhir, dari sekitar Rp12 ribu per kg menjadi hampir Rp15 ribu per kg. Persediaan beras di gudang-gudang Bulog terus menipis. Pada saat bersamaan, pasokan beras dalam negeri dan beras dari luar negeri juga amat minim.

Di dalam negeri, sejumlah petani gagal panen karena bencana kekeringan. Di luar negeri, sejumlah negara pemasok beras utama dunia juga menyetop atau mengurangi keran ekspor. India, salah satu pemasok beras terbesar di dunia, menyetop ekspor beras nonbasmati ke seluruh dunia demi mengamankan pasokan dalam negeri mereka. Thailand dan Vietnam mulai mengurangi pasokan juga.

Badan Pusat Statistik (BPS), saat Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi tahun 2023, sudah memprediksi akan terjadi defisit beras di dalam negeri. Jumlah kekurangan itu sebanyak 0,09 juta ton di September dan 0,27 juta ton pada Oktober. Mengkhawatirkan bukan? Apalagi, beras itu urusan perut, hal yang tidak bisa ditunda-tunda lagi.

Produksi beras di dalam negeri diperkirakan hanya sebanyak 2,46 juta dan 2,28 juta ton. Padahal, konsumsi beras diperkirakan 2,55 juta ton per bulan. Dalam beberapa bulan ke depan hingga awal 2024, BPS memprediksi produksi beras akan memasuki level terendah jika dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.

Situasi ini sebenarnya bukan sesuatu yang tiba-tiba. Gejalanya sudah diwanti-wanti jauh-jauh hari, bahkan hampir setahun yang lalu. Karena itu, kata teman saya, menuding El Nino dan seretnya setok beras global sebagai kambing hitam sejatinya bentuk ngeles atas ketidakmampuan mengatasi keadaan.

Situasi mundur 60 tahun ke masa lampau ini, tukas sang teman, ialah cermin kegagalan menyiapkan perencanaan. "Jangan-jangan, memang tidak ada antisipasi dan mitigasi? Sepertinya business as usual," tandas sang teman yang kerap meneliti soal pangan rakyat ini.

Saya sepakat dengan analisis itu. Dalam pandangan saya, ada orkestrasi yang tidak mulus dari para pemangku kebijakan bidang pangan. Kondisi ini diperparah oleh data perberasan yang tidak kunjung bisa disatukan.

Bila situasi sudah terdesak, yang ada justru anjuran-anjuran aneh dari pejabat ihwal pentingnya diversifikasi pangan, mendesakkan substitusi pangan. Rakyat yang menuntut pemerintah menyediakan beras dalam jumlah cukup dan dengan harga terjangkau, eh, malah dijawab dengan anjuran mengganti konsumsi beras dengan jagung, ketela, ubi, sagu, sukun, sorgum, kentang, talas alias keladi, dan lain sebagainya.

"Makanan-makanan tersebut sehat dan mengandung karbohidrat yang baik untuk kesehatan. Masyarakat di area perkotaan pun telah banyak yang beralih pada makanan nonberas untuk menghindari gula yang berlebihan," Mendagri Tito Karnavian menyarankan.

Tidak semua pernyataan Tito keliru, tetapi menyarankan mengganti beras dengan sukun saat rakyat betul-betul membutuhkan beras saat ini seperti petugas apotek memberi obat panu kepada pasien yang butuh obat sakit kepala.

Saya menjadi ingat ceramah KH Zainuddin MZ yang pernah mengkritik pejabat yang sering menjawab kebutuhan masyarakat dengan anjuran-anjuran aneh. Kata 'Dai Sejuta Umat' itu, "Saat harga cabe mahal, rakyat disuruh nanam cabe. Ketika harga beras mahal, rakyat diminta nanam padi. Nanti bila harga telur mahal, masa iya rakyat dianjurkan bertelur?"

Rakyat sedang risau. Kondisi saat ini, walau tidak sama persis, hampir mirip dengan situasi di tahun '60-an. Semoga saja, respons negara tidak mereplikasi suasana 60 tahun lalu.

Saat itu, di tengah kepiluan rakyat akibat kelangkaan pangan, di Istana, suasana tetap gembira ria. Bung Karno masih suka mendendangkan lagu Mari Bersuka Ria yang dinyanyikan dengan musik irama Lenso bersama penyanyi top saat itu, yakni Bing Slamet, Nien Lesmana, dan Rita Zahara:

'Ayo Bergembira.

Siapa bilang bapak dari Blitar

Bapak kita dari Prambanan

Siapa bilang rakyat kita lapar

Indonesa banyak makanan

Mari bergembira… bergembira bersama...'.



Berita Lainnya
  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik