Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Sendirian Melawan Kekeringan

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
04/10/2023 05:00
Sendirian Melawan Kekeringan
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

MARI kita tunggu datangnya hujan

Duduk bersanding di pelataran

sambil menjaga mendung di langit

agar tak ingkar, agar tak pergi lagi

Kau dengar ada jeritan

ilalang yang terbakar dan musnah

Usah menangis

simpan di langit

Jadikan mendung

segera luruh jatuh ke bumi

Basahi ladang kita yang butuh minum

basahi sawah kita yang kekeringan

basahi jiwa kita yang putus asa

Kemarau ini begitu mencekam

Saya tulis lagi petikan lirik lagu Doa Sepasang Petani Muda karya Ebiet G Ade tersebut untuk kali kedua di forum ini. Bukan untuk mengajak Anda melow, tapi siapa tahu dengan mengingat pesan dalam lagu itu, Anda tergerak untuk menengok kanan-kiri Anda, lalu beraksi meringankan mereka yang tengah merana. Hingga kini sudah lebih dari sejuta petani dan penduduk desa di berbagai Tanah Air, amat merindukan kucuran air dari langit.

Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sudah mewanti-wanti bahwa puncak musim kering tahun ini akan terjadi pada Agustus dan September. Namun, pekan ini, saat bulan Oktober sudah tiba, kekeringan masih terjadi di banyak tempat.

Peringatan itu ternyata masih saja jauh kalah riuh bila dibandingkan dengan saling intip bakal calon wakil presiden di koalisi capres Prabowo ataupun koalisi Ganjar Pranowo pada Pemilu 2024. Padahal, peringatan dini itu amat serius. Bahkan, faktanya, di alam nyata, dampak kekeringan itu terbukti amat sangat serius.

Bencana yang bertambah parah karena menguatnya intensitas El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) itu sedikitnya telah membuat merana lebih dari 166 ribu jiwa akibat krisis air bersih hingga akhir September 2023 lalu. Itu baru yang terdata. Di lapangan, angkanya bisa 5, bahkan 10 kali lipat.

Dalam dua bulan terakhir, warga yang terdampak kekeringan di Tanah Air semakin banyak. Data informasi bencana mingguan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana menunjukkan dampak meluasnya kekeringan di Tanah Air. Laporan sejak Senin, 25 September hingga awal pekan ini menyebutkan, kekeringan melanda beberapa wilayah di Provinsi Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur. Bahkan, di beberapa tempat di Sumatra Selatan, Riau, Kepri, dan Kalimantan, kekeringan mulai membuat warga terpaksa menutupi dengan masker karena polusi meningkat.

Kementerian Pertanian juga memprediksi El Nino berpotensi menyebabkan 870 ribu hektare lahan pertanian kekeringan. Adapun pada tahun normal, hanya 200 ribu hektare lahan kekeringan. Itu berarti meningkat empat kali lipat. Selain kekeringan, El Nino juga berpotensi menyebabkan kebakaran lahan pertanian, gagal panen, hingga peningkatan intensitas serangan hama dan penyakit tanaman.

Namun, saya belum melihat upaya ekstra dari pemangku kepentingan di sejumlah tempat untuk mengatasi bencana ini. Ada sejumlah langkah sudah dilakukan, tetapi selalu saja menggunakan pola serupa dari waktu ke waktu: sporadis, instan, tidak terstruktur, dan tidak sistematis.

Kita mengapresiasi langkah sejumlah partai politik di sejumlah tempat yang giat mengirim air bersih ke beberapa titik warga yang terdampak. Namun, bila melihat luasnya skala kekeringan, jelas mengandalkan langkah seperti itu tidak cukup.

Berulang kali di berbagai forum diteriakkan agar negara menyiapkan langkah mitigasi yang lebih matang dan tersistematisasi. Nyatanya, teriakan itu masih membentur dinding-dinding tebal kedap suara. Negara, baik itu di level pusat maupun daerah, misalnya, belum banyak tergerak untuk menyiapkan politik anggaran bencana kekeringan.

Anggaran mitigasi dan penanggulangan bencana saja hingga kini belum menunjukkan tingkat kesepadanan dengan posisi negeri ini sebagai wilayah berisiko tinggi terhadap bencana. Pendanaan mitigasi bencana, dari waktu ke waktu, tidak sampai 1% dari APBN atau APBD. Usulan wakil rakyat agar anggaran mitigasi bencana dialokasikan 2% dari APBN dan APBD, kini hanya sayup-sayup terdengar, begitu bencana covid-19 berakhir.

Kita patut iri pada Jepang, negara dengan risiko bencana serupa dengan Indonesia. Di Negeri Sakura itu, politik anggaran lebih kentara keberpihakannya. Didedikasikan setidaknya 5% dari total APBN atau APBD Jepang untuk dana mitigasi bencana tiap tahun. Bahkan, nilainya bisa naik ketika ada kejadian bencana.

Padahal, di forum-forum dunia, Indonesia termasuk yang lantang mengingatkan bahaya perubahan iklim, termasuk bencana kekeringan. Dunia diingatkan bakal membutuhkan investasi setidaknya US$6 miliar per tahun untuk biaya pengelolaan risiko bencana. Teriakan lantang di forum global tersebut mestinya juga tecermin dalam tindakan di dalam negeri.

Jangan sampai rakyat dari waktu ke waktu terus menghadapi perkara yang sama dengan intensitas yang lebih tinggi, dibiarkan 'bertarung' sendirian melawan bencana. Di sejumlah tempat memang mulai muncul mendung. Namun, mendung tidak berarti hujan, bukan?



Berita Lainnya
  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik