Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Rempang

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
16/9/2023 05:00
Rempang
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

'AKULAH orang Rempang, akulah orang Galang dan Bulang, pewaris semangat Tuah, Jebat dan Nadim yang kini menghadang kekuasaan zalim 
yang datang dengan janji janji dan investasi, tapi nak habisi kampung kampung kami, kampung yang kami warisi ratusan tahun lamanya.

Dulu, moyang kami bertikam lawan Kompeni. Tapi, kenapa di musim ini, kami harus terusir dari kampung sendiri?
 
Akulah orang Rempang, Bulang dan Galang, tak kan beranjak dari tanah tempat berpijak, tanah warisan moyang wira wira gemilang. Esa hilang, dua terbilang, tiada rela kampung kan hilang.'

Penggalan sajak di atas ialah karya pegiat sastra asal Rempang, Batam, Tarmizi Rumahitam. Ia menuangkan kemarahannya lewat puisi. Ia ingin mengingatkan bahwa suara rakyat Rempang harus didengar sebelum membuat keputusan.

Upaya pembangunan proyek strategis nasional Rempang Eco City dengan janji perbaikan ekonomi mestinya tidak meninggalkan siapa pun. Justru yang paling utama, mendengar suara rakyat Rempang tentang janji kesejahteraan tanpa harus membuat mereka pergi dari kampung halaman.

Apakah itu 'penggusuran' atau 'pengosongan', mestinya kuasa modal tidak boleh mendiktekan kehendak. Jika terjadi pertarungan antara modal dan manusia, rumusnya jelas: kemanusiaan mesti dimenangkan. Itu karena manusia priceless, tidak terhitung harganya.

Kasus Rempang kiranya bukti kegagalan negara dalam mendesain dan merencanakan pembangunan berdasarkan kemanusiaan yang adil dan beradab. Tidak tersedia ruang luas untuk mendialogkan bagaimana cara mewujudkan janji kemakmuran tanpa pengusiran. 

Pendekatan yang digunakan di Rempang, sejauh ini, lebih menonjolkan pendekatan kekuasaan, alih-alih memilih jalan partisipatif.  Pendekatan kekuasaan akan memilih pola komunikasi koersif, 'pokoknya harus ikut dan nurut'. Siapa pun yang enggak ikut, dianggap 'antipembangunan', 'provokator', 'tidak prokemakmuran'.

Mestinya, dalam setiap desain peta jalan menuju kemakmuran, setiap orang dilibatkan. Setiap yang orang mesti punya ruang luas untuk mempertanyakan, 'pembangunan untuk siapa?', 'kemakmuran buat siapa?'. 

"Rakyat dan aparat sama-sama korban. Investasi yang masih gaib dan belum pasti memberi kesejahteraan telah membuat rakyat dan aparat berjibaku. Ini menyedihkan. Sesama bangsa sendiri saling hantam. Kelak, siapa kah yang paling besar dapat untung, dan siapa yang paling buntung?" kata Tarmizi, sang penyair Rempang.
 
Apa yang dikatakan Tarmizi  diamini oleh pegiat sastra Melayu asal Riau, Syarifah Laila Hayati. Lewat sajak berjudul Ada Lanun di Pulau Rempang, ia menulis:

Inilah kisah disebutkan
Si pulau Rempang namanya
Pulau nan elok indah permai
Masyarakat hidup penuh damai
Datanglah seorang lanun
Lanun membawa keris pusaka
Menikam tanah
Menikam masa
Menghalau sanak sedarah sebangsa
Lanun
Lanun berkaki besi
Atas titah sang maha duli
Ucap petuah si ekonomi
Merebut paksa pustaka Pertiwi
Jika Rempang tak dipeduli
Kisah Rempang hilang tertelan bumi
Kukuh jemari usir lanun
Rempang milik Melayu tua
Hingga akhir masa.

Rempang mestinya tidak perlu menjadi ladang persabungan, bila negara mampu merebut kepercayaan. Cukuplah itu jadi sejarah lampau, di era Orde Baru, ketika kasus Waduk Kedung Ombo, Jateng, atau saat tragedi Nipah, Madura, terjadi.

Semoga kemakmuran terwujud, tanpa harus ada jiwa atau raga yang terenggut. Kemakmuran mestinya milik semua orang, bukan cuma untuk sebagian-sebagian.



Berita Lainnya
  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.