Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Solusi yang Menyengsarakan

Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group
07/9/2023 05:00
Solusi yang Menyengsarakan
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

AWALNYA saya agak bingung dengan istilah 'pinpri' yang tiba-tiba saja sempat viral dan ramai dibincangkan di sebuah rangkaian percakapan (utas) pada salah satu akun X (dulu Twitter), beberapa waktu lalu. Setelah saya ikuti obrolannya, saya baca komentar-komentarnya, baru saya mengerti kalau istilah pinpri sebetulnya kependekan dari pinjaman pribadi.

Duh, lagi-lagi singkatan. Saya rasa orang Indonesia memang paling juara dalam hal singkat menyingkat kata. Semua disingkat, diakronimkan. Sebentar lagi mungkin kosakata pinpri juga akan familier di kuping kita seperti halnya kata daring (dalam jaringan) atau japri (jaringan pribadi). Awalnya terdengar aneh, tapi lama-lama menjadi biasa karena terus digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Kembali ke soal pinpri. Kebingungan saya soal makna katanya sudah terjawab. Tetapi kemudian saya penasaran apa sebetulnya yang dimaksud pinpri dalam percakapan itu, bagaimana cara beroperasinya, dan kenapa banyak orang yang menggunakannya? Pinpri benar-benar hal baru buat manusia zadul (lagi-lagi singkatan) seperti saya yang sebagian otak dan pemikirannya mungkin masih lumayan konvensional.

Sesuai namanya, pinpri atau pinjaman pribadi merupakan modus yang menawarkan pinjaman dari orang per orang kepada pihak peminjam. Namun, meskipun secara prinsip sama, konsep pinpri masa kini berbeda dengan konsep pinjaman secara pribadi di era dahulu. Dulu, kita mungkin biasa meminjamkan uang atau, sebaliknya, meminjam uang ke kerabat, teman, atau tetangga. Artinya antara pemberi pinjaman dan peminjam saling kenal.

Kalau di pinpri yang sekarang lagi heboh, dana pinjaman bisa diberikan kepada orang yang tidak dikenal. Antara pemberi pinjaman dan peminjam tak harus saling kenal. Mereka hanya terhubung melalui obrolan di media sosial atau japri via aplikasi Whatsapp atau Telegram. Begitu tercapai kesepakatan, uang ditransfer, selesai. Cepat dan mudah, itu salah satu sebab kenapa banyak orang tertarik mengambil pinpri.

Akan tetapi, atas nama kemudahan itu pula, si pemberi pinjaman bisa 'semena-mena' dalam mengikat perjanjian. Memang, prosesnya bisa cepat dan tak perlu jaminan (collateral), tapi calon peminjam harus mau menyerahkan informasi data pribadi, bahkan yang sangat pribadi, seperti KTP, kartu keluarga, akun medsos, foto profil Whatsapp, gantungan nama (name tag) kerja, sampai berbagi lokasi peminjam. Padahal kita tahu, di negeri ini perlindungan data pribadi masih sangat minimal.

Itulah yang terjadi. Dalam kasus pinpri, yang kemudian heboh di media sosial, terkuak bahwa data-data pribadi itu sebagian disebar ke publik oleh pemberi pinpri sebagai ancaman ketika si peminjam tak mampu membayar utangnya sesuai waktu yang disepakati. Menurut salah satu korban yang saya baca di utas itu, dia telat bayar sehari saja, langsung data pribadinya disebar di media sosial tanpa sensor. Ia juga diancam data-data itu akan terus terpampang di lini masa medsos sebelum pinjaman berikut bunganya yang tinggi dilunasi.

Mirip-mirip pinjaman online (pinjol) juga sebenarnya, tapi bila dicermati pinpri levelnya lebih berbahaya. Pinjol masih ada yang legal, walaupun yang ilegal mungkin lebih banyak. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga masih ada untuk mengawasi pergerakan mereka. Nah, pinpri tak ada yang mengatur. Ia berjalan tanpa kontrol. Lingkup dan sistem kerjanya di luar ranah OJK. Artinya, tidak ada perlindungan sama sekali kepada peminjam sekiranya terjadi masalah.

Lalu, pertanyaannya, kenapa platform pinjam-meminjam dengan level seberbahaya itu tetap mampu menggaet nasabah alias peminjam? Jawabannya barangkali akan sama dengan jawaban atas pertanyaan, mengapa pinjol, rumah-rumah gadai, juga judi online saat ini sangat marak dan sebegitu diminatinya oleh masyarakat, bahkan ketika banyak korban sudah berjatuhan.

Semua yang disebut tadi, termasuk pinpri, sesungguhnya adalah fenomena sosial ekonomi yang sangat mungkin berasal dari hulu musabab yang sama. Mereka sejatinya hanyalah rangkaian gejala (symptom) yang seolah ingin memberi tahu bahwa perekonomian negara ini sedang tidak sehat. Sedang tidak baik-baik saja. Kehadiran mereka seperti mau menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang konon tertinggi ketiga di antara negara-negara G-20 pada akhirnya hanyalah angka statistik yang tak mampu diwujudkan dalam realitas.

Faktanya ketimpangan memang terus terpelihara. Di balik angka pertumbuhan yang tinggi, masih banyak orang tidak punya uang, kehilangan penghasilan dan daya beli. Cashflow rumah tangga mereka kian menipis, sementara mereka terus dihadapkan dengan kebutuhan yang bertambah dan harga barang yang konsisten naik.

Alasan-alasan itulah yang mungkin bisa menjelaskan mengapa orang mau berbondong-bondong meminjam uang di pinjol atau pinpri, tergerak kakinya ke rumah-rumah gadai untuk menggadaikan sebagian barangnya, atau mengadu peruntungan dengan bermain judi online. Mereka butuh duit cash, bukan semata untuk memanjakan nafsu konsumtif mereka, melainkan untuk bertahan hidup.

Oleh karena itu, hulu musababnya yang mesti diselesaikan dulu, bukan fokus ke gejalanya. Selama hulunya tidak diatasi, fenomena-fenomena seperti itu mungkin akan terus terjadi. Pinjol akan tetap hidup, pinpri juga bakal terus ada karena bagi sebagian orang mereka adalah solusi. Negara mestinya memberikan pilihan solusi agar rakyat tidak terus-terusan mengambil jalan pintas dengan memilih solusi yang sesungguhnya menyengsarakan.



Berita Lainnya
  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.