Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Selamat Tinggal Cebong-Kampret

Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group
04/9/2023 05:00
Selamat Tinggal Cebong-Kampret
Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

ATMOSFER politik negeri ini disesaki oleh aktivitas partai politik. Aktivitasnya itu menjadi barometer kualitas demokrasi. Kata Schattschneider, demokrasi tidak dapat hidup dengan baik dan layak tanpa kehadiran partai politik.

Partai politik itu, menurut Max Weber, ialah anak kandung demokrasi. Ada dua kegiatan partai yang menyedot perhatian publik saat ini. Pertama, rekrutmen calon anggota legislatif dari tingkat pusat sampai kabupaten/kota. Kedua, rekrutmen bakal calon presiden dan wakil presiden. Tidak ada seorang pun mengisi kedua posisi itu tanpa melalui partai politik.

Terdapat 9.919 orang masuk ke daftar calon sementara yang diumumkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 19 Agustus 2023. Akan tetapi, calon anggota legislatif yang diajukan 18 partai politik itu kalah pamor jika dibandingkan dengan capres-cawapres.

Capres-cawapres menjadi topik paling menarik didiskusikan dari tingkat elite sampai warung kopi. Meski demikian, setelah ada kepastian nama bakal capres, perhatian publik pun bergeser kepada bakal cawapres yang selama ini dikenal sebagai ban serep.

Bakal cawapres yang resmi dideklarasikan ialah Muhaimin Iskandar untuk mendampingi bakal capres Anies Baswedan. Keduanya dideklarasikan oleh Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) di Hotel Majapahit, Surabaya, Sabtu (2/9/). Dua bakal capres lainnya masih jomblo, yaitu Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo.

Jabatan wapres disebut sebagai ban serep. Ibarat ban serep mobil, wapres berfungsi ketika presiden berhalangan. Ban serep itu tetap diletakkan pada tempatnya sepanjang ban utama masih berfungsi dengan baik.

Meski berfungsi sebagai ban serep, posisi cawapres tetap dikejar sampai melampaui akal sehat. Ketika bakal capres dan bakal cawapres masih sejalan, mereka saling memuji. Tatkala berpisah jalan, muncul tudingan pengkhianatan. Itu namanya politik poco-poco, maju memuji mundur mengumpat.

Posisi bakal akan menentuan kemenangan dalam Pemilu 2024 karena elektabilitas bakal calon presiden yang terekam dalam berbagai survei masih beda-beda tipis.

Faktor-faktor yang menjadi penentu seseorang dilamar menjadi bakal cawapres ialah elektabilitas, dukungan partai politik, kesiapan logistik, dan kecocokan pribadi antara bakal capres dan bakal cawapres.

Bakal cawapres diharapkan menjadi penentu kemenangan di daerah dengan jumlah pemilih terbanyak. KPU menetapkan daftar pemilih tetap (DPT) Pemilu 2024 sebanyak 204.807.222 orang pada 2 Juli 2023.

Dari DPT yang telah ditetapkan, pemilih di enam provinsi di Pulau Jawa mencapai 56,33% dari total pemilih nasional. Rinciannya, pemilih di Jawa Barat 35.714.901 pemilih, Jawa Timur 31.402.838, Jawa Tengah 28.289.413, Banten 8.842.646, DKI Jakarta 8.252.897, dan DI Yogyakarta 2.870.974. Provinsi di luar Pulau Jawa yang memiliki jumlah pemilih masuk lima besar ialah Sumatra Utara dengan 10.853.940 pemilih.

Sebaran data pemilih itu mengonfirmasikan bahwa Jawa masih menjadi penentu kemenangan. Siapa pun capres-cawapres yang menguasai Jawa akan berpotensi besar memenangi Pilpres 2024.

Elok nian bila partai politik tidak hanya mengedepankan fungsi rekrutmen. Peran lain yan mestinya dijalankan secara saksama ialah sebagai sarana pendidikan politik bagi anggota dan masyarakat luas agar menjadi warga negara Indonesia yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Selain itu, partai politik hendaknya tetap tegak lurus atas perannya sebagai penciptaan iklim yang kondusif bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia untuk kesejahteraan masyarakat.

Pendidikan politik dan perekat kebangsaan sangat dibutuhkan saat ini tatakala menjelang Pemilu 2024, politik identitas masih digunakan secara vulgar. Kata Donald L Morowitz, politik identitas merupakan suatu pemberian label atau garis yang tegas untuk siapa yang akan dipilih atau siapa yang akan ditolak.

Harus tegas dikatakan bahwa politik identitas itu telah menegasikan hakikat politik sebagai jalan kemuliaan untuk menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

Polarisasi masyarakat masih dirasakan dalam label cebong dan kamparet. Mestinya, tugas partai politik untuk menolak pembelahan dengan mengatakan selamat tinggal cebong dan kampret.

Dalam perspektif itulah, patut diapresiasi pidato politik Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh saat deklarasi Anies-Muhaimin. ”Hari ini, kita ucapkan selamat tinggal pada politik cebong dan kampret yang memang mengadu domba, memecah belah, dan merusak semua sistem nilai kebangsaan. Tentunya selamat datang politik kebinekaan yang mempersatukan semua elemen secara kukuh di negeri tercinta ini,” kata Surya Paloh.



Berita Lainnya
  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.