Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Rumah yang Terlupakan

Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group
24/8/2023 05:00
Rumah yang Terlupakan
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SAYA hakul yakin tidak banyak orang Indonesia yang tahu kalau besok, tanggal 25 Agustus, ialah Hari Perumahan Nasional. Tidak semata lantaran hari itu bukan merupakan hari libur nasional sehingga mereka tidak peduli, tetapi memang karena isu di sektor perumahan selama ini tidak dipandang sebagai isu yang seksi. Ia hampir selalu terlupakan dan tenggelam di antara perbincangan tentang isu-isu kepublikan lain.

Namun, tak bisa juga menyalahkan publik karena sesungguhnya ketidaktahuan dan ketidakpedulian mereka adalah refleksi dari minimnya perhatian pemerintah terhadap sektor perumahan. Coba saja lihat di pemerintahan sekarang, di balik kengototan pemerintah menggenjot pembangunan infrastruktur dan beberapa proyek mercusuar, ada potret yang memiriskan tentang kurangnya kesungguhan negara membangun sektor perumahan.

Selama sembilan tahun terakhir ini, urusan perumahan digabung dalam satu kementerian dengan urusan infrastruktur di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Harapannya dulu, kebijakan pemenuhan perumahan bagi masyarakat akan lebih holistik karena perumahan dan infrastruktur sangat berkait erat. Pikiran sederhananya, mustahil membangun perumahan tanpa kesiapan infrastruktur di sekitarnya.

Akan tetapi, apa yang terjadi? Semakin ke sini semakin jelas terlihat ada ketimpangan perhatian terhadap dua sektor itu. Urusan perumahan seolah hanya kegiatan tambahan di antara kesibukan kementerian tersebut mengurusi infrastruktur. Kalau bisa jalan, syukur, kalau tidak bisa, ya tidak apa-apa. Terobosan nyaris tak tampak. Yang muncul malah persoalan yang sebetulnya dari dulu, ya itu-itu saja.

Mau bukti? Presiden Joko Widodo saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) XVII Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) di Jakarta, beberapa waktu lalu, menyodorkan angka kekurangan (backlog) kepemilikan rumah saat ini sebesar 12,1 juta unit. Menurut Presiden, backlog itu ialah sebuah opportunity, sebuah peluang yang bisa dimanfaatkan oleh pengembang.

Mohon maaf, Pak Presiden, kalau kita lihat lagi data-data lama, backlog rumah itu terus berkutat di angka segitu-segitu saja. Pernah di 2010 Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut backlog secara nasional mencapai 13,6 juta unit rumah. Lima tahun kemudian, 2015, Kementerian PU-Pera merilis angka backlog sudah turun menjadi 11,4 unit. Kini, menurut data yang dipaparkan Presiden, lho kok malah naik lagi menjadi 12,1 juta unit.

Ini salah yang survei sehingga menghasilkan angka yang naik turun tak jelas itu, atau memang pemerintahnya yang tak menghasilkan prestasi dalam hal penurunan backlog? Harus kita ingat bahwa di dalam angka backlog itu, sebagian besar atau bahkan semua ialah menyangkut pemenuhan rumah bagi kalangan menengah bawah. Dalam bahasa perumahan sering diistilahkan sebagai masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Artinya, merekalah yang sebetulnya belum terlayani kebutuhan utamanya akibat minimnya kesungguhan pemerintah mengurusi sektor papan.

Padahal, dahulu, Bung Hatta sudah mewanti-wanti, "Cita-cita untuk terselenggaranya kebutuhan perumahan rakyat bukan mustahil apabila kita sungguh-sungguh mau dengan penuh kepercayaan. Semua pasti bisa." Kalimat itu disampaikan Sang Proklamator saat membuka Kongres Perumahan Rakyat Sehat, 25 Agustus 1950. Tanggal itu pula yang kemudian dijadikan dasar penentuan Hari Perumahan Nasional.

Ya, persoalannya memang ada di kemauan dan kesungguhan. Kemauan dan kesungguhan dari pemimpin negeri untuk menguatkan politik perumahan sampai hari kiranya ini belum juga tampak. Sampai-sampai seorang kawan pengamat properti senior dengan gaya kelakarnya pernah berujar, "Jangan-jangan tanpa diurus negara sama sekalipun, industri perumahan rakyat tetap akan jalan seperti biasa dan dengan kecepatan sama?"

Tentu saja itu sarkasme. Sebuah bentuk sindiran bahwa selama ini negara memang tidak total mendukung sektor perumahan. Setengah hati.

Akibatnya, dalam mendukung pengembangan hunian bagi MBR pun mereka kedodoran. Tidak mengherankan bila untuk soal perumahan, banyak petuah yang menyarankan agar kita tidak perlu berekspektasi terlalu tinggi terhadap pemerintahan ini. Lagi pula apa yang bisa diharapkan dari sisa waktu setahun pemerintahan, apalagi akan diselingi dengan gelaran kontestasi politik?

Barangkali akan lebih afdol kalau kita menggantungkan harapan itu kepada rezim pemerintahan berikutnya hasil Pemilu 2024. Mumpung kandidat-kandidat pemimpin sudah bermunculan, mesti diingatkan sedari awal bahwa ada satu tugas besar yang selama ini kerap dilupakan pemimpin-pemimpin sebelumnya, yaitu merumahkan rakyat. Mengakselerasi pemenuhan hunian bagi seluruh rakyat seperti cita-cita Bung Hatta semestinya menjadi prioritas, bukan sekadar kegiatan tambahan yang dikerjakan ala kadarnya.



Berita Lainnya
  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.