Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
ADA falsafah Jawa yang sampai saat ini masih relevan kita simpan sebagai pegangan mengarungi hidup: ojo kagetan, ojo gumunan, ojo dumeh. Kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, makna falsafah yang sejatinya bersumber dari pesan pujangga Ranggawarsita itu, kira-kira, ialah 'jangan gampang kaget/terkejut, jangan gampang heran/terpukau, jangan mentang-mentang'.
Dalam bidang apa pun, untuk siapa pun, sampai kapan pun, ajaran 'tiga jangan' itu tampaknya bisa masuk. Terlebih buat para pemimpin dan calon pemimpin, baik pemimpin di lingkup terkecil maupun level yang paling besar seperti negara. Kiranya bakal lebih dekat kepada kemudaratan kalau kita punya pemimpin yang kagetan, gumunan, sekaligus suka mentang-mentang atau aji mumpung.
Mungkin tidak perlu sampai tiga-tiganya. Satu saja dulu soal kagetan. Satu sifat itu saja sudah mencerminkan bukan ciri-ciri pemimpin yang baik. Orang yang suka kagetan konon jiwanya kecil. Lantas bagaimana kalau orang yang jiwanya kecil itu harus memimpin orang banyak dengan semua persoalan dan tantangan yang harus ia panggul di pundaknya? Bisa-bisa kerjanya hanya terkaget-kaget setiap hari.
Lebih celaka lagi kalau sikap kagetan itu ditunjukkan hanya sebagai gimik. Berpura-pura mudah kaget demi menarik simpati. Pura-pura terkejut mendengar harga telur ayam sampai Rp40 ribu/kilogram saat blusukan, misalnya, cuma biar kelihatan punya empati dan kepedulian terhadap apa yang dirasakan masyarakat banyak. Padahal, sebagai pemimpin atau calon pemimpin, ia mestinya tahu persis akar persoalannya melalui data dan fakta yang selalu ia dapatkan.
Yang ditunggu dari seorang pemimpin ialah kebijaksanaan dan solusi atas permasalahan yang ada, bukan wajah atau malah topeng kekagetan. Bila pemimpin mudah kaget (betulan), sedikit-sedikit kaget atas kondisi rakyatnya, sangat mungkin ia akan lebih sering mengambil kebijakan reaksioner, hanya didasari emosional tanpa konsep dan analisis yang jelas. Ujung-ujungnya, kebijakannya bisa keliru atau jauh dari kata solusi.
Lain lagi kalau pemimpin suka memamerkan kekagetan palsu, boleh jadi dia bahkan tidak bakal menawarkan solusi apa-apa karena memang bukan itu tujuan dia. Menemukan jalan keluar jadi urusan nomor sekian, syukur-syukur ada, tapi kalau tidak ada ya tidak masalah. Yang penting dia sudah menunjukkan empati (dengan kekagetannya) dan di saat yang sama ia berharap simpati publik balik datang ke dia.
Kata The Beatles, kehidupan ini ibarat 'long and winding road''. Kadang kita disuguhi jalanan yang lurus dan mulus, tetapi tikungan, kelokan, bahkan jalan terjal juga akan selalu muncul dan mesti dilewati. Di balik turunan pasti ada tanjakan, begitu adagium yang kerap jadi patokan para pehobi sepeda alias goweser.
Begitu pun dalam kehidupan berbangsa, dinamika persoalannya tak pernah berhenti, apalagi berakhir. Kalau yang kita hadapi jalanan mulus terus, barangkali tidak terlalu masalah punya pemimpin kagetan. Namun, bagaimana ketika tiba-tiba jalan terjal berliku nongol di depan mata, apa iya kita mau membiarkan si pemimpin kagetan menuntun langkah kita, sementara dia sendiri terkaget-kaget sepanjang jalan?
Kalau sudah begini, tampaknya masyarakat yang harus lebih cerdas menyikapi. Terutama bagi golongan generasi muda, jangan malah ikut-ikutan kagetan. Biarlah perilaku itu jadi gimik orang-orang tua kolot yang secara fisik dan usia memang makin gampang terkena serangan kagetan.
Jika bicara dalam konteks memilih pemimpin negeri, publik masih punya waktu sekitar tujuh bulan sebelum pelaksanaan Pemilu 2004, Februari 2024 mendatang. Dengan tidak ikut gampang terkena sindrom kaget, rakyat bisa lebih matang dalam memilah mana pemimpin atau calon pemimpin yang kagetan dan mana yang tidak. Mana pula pemimpin yang hanya mengandalkan reaksi dan mana pemimpin yang memiliki visi.
Tidak seperti dulu, kini informasi soal calon pemimpin atau wakil rakyat melimpah ruah di ruang-ruang dunia maya. Visinya apa, rencana programnya bagaimana, rekam jejaknya seperti apa, arah politiknya ke mana, dan rupa-rupa informasi lain. Begitu pula informasi dan data perihal isu-isu nasional bahkan global, di berbagai sektor, yang akan menjadi tantangan bangsa ini ke depan.
Semua terpampang lebar di era keterbukaan informasi. Jadi, sebetulnya tidak ada alasan buat kita untuk ikut-ikutan menjadi masyarakat yang kagetan, gampang terbengong-bengong, atau bahkan jadi masyarakat yang mudah terpukau alias gumunan.
Kalau masih gampang terkaget-kaget, masih suka terbengong-bengong, berarti tidak ada bedanya dengan pemimpin yang kagetan. Antara malas menggali informasi, fakta, dan data, atau memang mereka sedang berpura-pura bodoh.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved