Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Pede

Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group
28/7/2023 05:00
Pede
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

INI soal pede, percaya diri. Soal ini mengemuka, menjadi ajang perdebatan, bahkan bahan perselisihan antara dua partai besar, yakni PDI Perjuangan dan Partai Gerindra. Penyebabnya sekilas sepele, yaitu soal baliho.

Namun, baliho yang dimaksud bukan sembarang baliho. Ia ialah baliho politik jelang kontestasi politik di pemilu, khususnya Pilpres 2024. Ia menjadi soal karena dalam baliho itu terpampang wajah Jokowi.

Jokowi ialah kader PDIP yang selama dua periode menjabat Presiden RI. Sebagai kader, PDIP tentu boleh mengklaim bahwa Jokowi ialah miliknya. Namun, sebagai presiden, siapa pun dia, termasuk Gerindra tentu saja, tak dilarang untuk merasa memiliki Jokowi.

Kewajaran itu menjadi persoalan karena wajah Jokowi dibawa ke ranah politik. Gerindra mengapitalisasinya untuk memenangkan Prabowo Subianto. Manuver ini pun sebenarnya sah-sah saja selama yang dikapitalisasi tak keberatan. Toh, Jokowi tak ambil pusing. Kata dia, fotonya juga dipajang PDIP dan partai-partai lain. Dia santai-santai saja, oke-oke saja, bahkan bisa jadi malah menikmatinya.

Gerindra memang yang paling bersemangat, paling gencar, menyebar baliho bergambar Jokowi bersama Prabowo. Baliho ukuran besar dipasang di mana-mana, termasuk di kandang-kandang banteng. Pesannya jelas, lugas, yaitu untuk mempersepsikan sekaligus meyakinkan kepada publik bahwa Jokowi mendukung Prabowo.

Di baliho, Jokowi dan Prabowo sama-sama berkemeja putih. Narasi yang melengkapinya jelas dan lugas pula bahwa Prabowo ialah sosok penerus Jokowi paling pas. Wis Wayahe, 2024 Jatahnya Pak Prabowo, Bergerak Bersama Bangkitkan Indonesia Raya. Begitulah salah satu tulisan yang dipampang. Pun Untuk Indonesia Maju. Ada pula, Bersatu Membangun Bangsa. 

Itulah yang membuat PDIP kemudian jengah. Dalam berbagai kesempatan, elite-elite PDIP terkesan tak bisa menerima manuver Gerindra itu. Salah satu politikus senior PDIP bahkan menyebut, dengan menebar baliho bergambar Jokowi dan Prabowo, Gerindra sebenarnya tak pede.

Baginya, Prabowo enggak punya kepercayaan diri. ''Lihat dia harus pake kadernya (PDIP) Jokowi biar naik rating-nya. Wah, naik betul barang itu, begitu ditarik langsung anjlok, jangan berpikir ini dialektikanya," ujar sang politikus.

Benarkah Prabowo dan Gerindra minderan? Menurut penulis Amerika Barbara De Angelis, percaya diri merupakan suatu keyakinan dalam jiwa manusia untuk menghadapi tantangan hidup apa pun dengan berbuat sesuatu. Orang yang pede ialah yang punya keyakinan bahwa dirinya mampu menghadapi sesuatu. Dia tak butuh validasi dari orang lain, apa pun bentuk validasi itu.

Jika definisi itu yang jadi patokan, kiranya Prabowo memang tidak, atau setidak-tidaknya, kurang percaya diri. Dia sebenarnya tokoh besar, partainya juga besar, tetapi masih merasa perlu bergantung pada dukungan dari orang lain, dari kekuasaan. Namun, dalam politik, hal itu sah-sah saja meski kepantasannya boleh dipertanyakan. Ia bagian dari strategi kendati harus merendahkan diri.

Bagaimana dengan PDIP? Kiranya tak jauh beda. PDIP ialah partai terbesar, partai pemenang pemilu, tapi kesan bahwa mereka juga bergantung pada Jokowi sulit dihindari. Dengan menyoal baliho Jokowi yang disebar Gerindra, mereka tampak kurang percaya diri. Mereka dinilai minder, atau mungkin juga khawatir, takut, Jokowi akan mendua atau bahkan pindah ke lain hati.

Manuver PDIP belakangan menguatkan kesan tersebut. Mereka mempermasalahkan baliho Gerindra, tapi malah melakukan hal yang sama. Sama-sama menyebar baliho dengan gambar yang sama, gambar Jokowi, yang tentu disandingkan dengan Ganjar. Bedanya, kalau Jokowi dan Prabowo di baliho Gerindra berbaju putih, di baliho PDIP pakai jas dan peci.

Bahkan, di Semarang yang merupakan salah satu daerah basis PDIP, spanduk bertuliskan ‘Jokowi Pilih Ganjar Presiden’ dibentangkan. Bukankah manuver itu justru bisa dimaknai bahwa mereka sebenarnya tak haqul yakin bahwa hati Jokowi hanya untuk si rambut putih? Bukankah penegasan itu bisa diartikan bahwa mereka tak percaya diri?

Kata salah satu aktivis 1998, Faizal Assegaf, rebutan partai besar terhadap istana atau kekuasaan ialah sesuatu yang memalukan. Dia juga menyebut ini mengonfirmasi tidak adanya rasa percaya diri.

Banyak pula yang bilang, kontestasi demokrasi akan mengasyikkan jika partai atau kontestan tak bergantung pada kekuasaan dan kekuasaan tak cawe-cawe dalam persaingan. Saya sih sepakat itu. Bagaimana dengan Anda, para pembaca yang budiman?



Berita Lainnya
  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.