Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Otot Politik

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
22/7/2023 05:00
Otot Politik
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

BERSABAR dan tabah dalam mengelola demokrasi tidaklah gampang. Ia butuh energi penuh. Ia perlu tenaga ekstra. Ibarat perlombaan lari, mengelola demokrasi itu lomba maraton, bukan sprint.

Pesan itu pula kiranya yang bisa kita tangkap dari pernyataan Anies Baswedan, bakal capres dari Koalisi Perubahan untuk Persatuan, saat menjadi salah satu pembicara kunci pada acara Asosiasi Pemerintahan Kota Seluruh Indonesia (Apeksi), pekan lalu. Ketika ditanya tentang keberlanjutan Ibu Kota Nusantara (IKN), Anies bicara tentang otot politik.

Menurut Anies, segala sesuatu yang direncanakan dengan baik dan memiliki pijakan kuat, tidak perlu otot politik untuk melaksanakannya. Segala sesuatu yang memiliki pijakan baik itu, apakah program pembangunan atau proyek apa pun, akan menggelinding dengan sendirinya karena rakyat pasti bakal mendukung penuh.

Otot politik itu menggunakan segala sumber daya kekuasaan untuk mengegolkan suatu program kendati program itu masih dalam pertanyaan. Para pengguna otot politik umumnya menihilkan partisipasi publik, hal yang jadi penanda utama demokrasi. Dengan otot politik, penguasa merasa programnya mahabenar.

Dalam ketabahan demokrasi, proses penyelenggaraan program pemerintah dimulai dari bawah. Salah satunya dengan melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan. Pemilik ide program akan melakukan pemberdayaan kepada masyarakat, kemudian mempersuasi sehingga semua masalah bisa diselesaikan.

Sebaliknya, dalam program yang mengandalkan otot politik, perencanaan tidak dilakukan melalui musyawarah dan mufakat dari bawah ke atas. Pendekatan kepada masyarakat dilakukan dari atas ke bawah. Maka, untuk jangka panjang, program dengan mendayagunakan otot politik ini akan bermasalah.

Pesan Anies itu sangat jelas, bahwa dalam mengupayakan apa pun jangan menggunakan kekerasan, jangan menggunakan cara-cara pemaksaan, jangan menggunakan komunikasi satu arah dari atas ke bawah. Cara-cara penggunaan otot politik itu sudah usang. Ia kelihatan efektif, tapi suatu saat akan menjadi bom waktu.

Dalam kesabaran berdemokrasi, dialog dengan masyarakat menjadi prasyarat dalam menjalankan sebuah program. Suara masyarakat amat perlu didengarkan dalam merumuskan suatu kebijakan. Dengar dulu keinginan masyarakat, baru dirumuskan. Bukan hanya menurut sudut pandang pemerintah.

Kasus pembentukan Undang-Undang Cipta Kerja mestinya menjadi pembelajaran, bahwa beleid yang menihilkan partisipasi publik akan menjadi noda sejarah pembentukan undang-undang kita. Sampai kapan pun, undang-undang yang oleh Mahkamah Konstitusi disebut 'inkonstitusional bersyarat', itu akan menjadi cacat sejarah.

Pemerintah yang menolak menggunakan otot politik akan menomorsatukan pertimbangan teknokratis daripada pertimbangan politis. Kekuasaan yang tabah dalam menjalankan demokrasi akan membiarkan teknokrasi mendominasi. Prinsipnya, bila program atau kebijakan itu baik secara assessment, jalankan dengan sungguh-sungguh. Namun, bila harus dikoreksi tunjukkan letak koreksinya.

Sebaliknya, kekuasaan yang mengandalkan otot politik akan mendasarkan keputusan berdasarkan selera dan aspirasi pribadi dalam pertimbangannya. Tidak ada pandangan para ahli, para teknokrat.

Tidak ada yang instan dalam berdemokrasi. Butuh waktu panjang untuk setia pada prinsip-prinsip kesetaraan dan kedaulatan rakyat. Kedua nilai itu memerlukan kesabaran untuk terus memperjuangkannya. Tentu, tidak dengan otot politik. Benar kata Rendra, kesabaran adalah bumi.*



Berita Lainnya
  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik