Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Setengah Triliun

Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group
09/3/2023 05:00
Setengah Triliun
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SEBETULNYA saya malas terlalu sering membicarakan kekayaan dan harta orang. Mestinya biarlah itu menjadi urusan privat, kenapa pula mesti kita repot menggunjingkannya. Kalau terlampau rajin membicarakannya, lama-lama kita malah bisa dapat julukan pemerhati harta orang atau pengamat pendapatan orang. Sungguh sebuah atribusi yang aneh dan sama sekali tak membanggakan.

Akan tetapi, kali ini ceritanya lain. Begitu mendengar PPATK telah memblokir 40 rekening milik mantan pejabat Ditjen Pajak Kementerian Keuangan Rafael Alun Trisambodo dan keluarganya dengan nilai transaksi sampai Rp500 miliar alias setengah triliun rupiah, kemalasan itu seketika hilang. Tak tahan pula saya tak membicarakannya.

Lagi pula ini bukan lagi urusan privat karena Rafael notabene masih seorang aparatur sipil negara (ASN) alias pelayan publik. Kabarnya, Kementerian Keuangan baru akan memecatnya dalam waktu dekat, setelah pengunduran diri yang diajukan Rafael sebelumnya ditolak.

Meskipun sejumlah rekening yang diblokir PPATK itu tidak semuanya atas nama Rafael, tapi juga rekening keluarganya dan beberapa pihak terkait, tetap saja patut dicurigai itu semua berkaitan dengan aliran uang dari Rafael. Begitu pula uang setengah triliun rupiah itu, menurut PPATK, bukan nilai dana (saldo) di 40 rekening tersebut, melainkan nilai mutasi rekening selama 2019 hingga 2023. Tapi tetap saja, mau dilihat dari sisi dan sudut mana pun, itu jumlah yang sangat besar.

Mari kita bikin komparasinya biar ketahuan seberapa besar uang itu. Kita perbandingkan dengan harga rumah subsidi, misalnya. Saat ini harga satu unit rumah bersubsidi di Jabedotabek maksimal Rp168 juta, maka berapa yang bisa didapat dari transaksi sebesar Rp500 miliar? Jawabnya sekitar 3.000 unit. Besar bukan? Developer menengah saja bakal ngos-ngosan membangun ribuan unit seperti itu.

Ya, transaksi atau mutasi di rekening lembaga keuangan sampai Rp500 miliar mungkin wajar buat orang yang berprofesi sebagai pengusaha. Namun, itu pun pengusaha yang memiliki usaha berskala besar. Bukan yang kelas medium, apalagi kecil-kecilan.

Menurut Badan Standardisasi Nasional, yang disebut perusahaan besar ialah perusahaan yang memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp10 miliar termasuk tanah dan bangunan. Selain itu memiliki penjualan lebih dari Rp50 miliar per tahun. Pengusaha sekelas itu mungkin yang tidak kaget melihat transaksi setengah triliun rupiah di rekening perusahaannya.

Nah, masalahnya, yang ditemukan PPATK kali ini ialah mutasi transaksi dari rekening pribadi. Rekening ASN pula. Maka tidak ada keraguan ketika PPATK menganggapnya tidak wajar, mencurigakan, dan kemudian membekukannya sebelum rekening itu 'diselamatkan' pemiliknya.

Perkara dari mana Rafael memperoleh uang sebanyak itu, biarlah KPK yang mencari tahu. KPK pun sudah menyatakan kasus kekayaan jumbo Rafael telah ditingkatkan ke penyelidikan. Mudah-mudahan, kalau KPK serius, akan segera terbongkar asal-usul atau sumber duit Rafael selama ini selain dari penghasilannya sebagai ASN di Kemenkeu.

Di sini saya cuma ingin berandai-andai, kalau saja kasus penganiayaan brutal yang dilakukan anak Rafael, yakni Mario Dandy Satriyo, terhadap David tidak diangkat publik, apakah harta jumbo Rafael bakal terekspos dan beritanya menggegerkan negeri ini? Rasa-rasanya kok tidak, ya.

Boleh dibilang Rafael baru apes saja. Andai anaknya tak banyak tingkah, tidak menganiaya orang hingga sekarat, tidak memamerkan Harley Davidson dan Rubicon, barangkali Rafael sampai hari ini masih bisa tidur nyenyak di kamar rumahnya yang konon besar-besar dan ada di banyak tempat. Atau mungkin dia lagi liburan keliling dunia bersama keluarga buat menggenapi transaksi di rekening mereka menjadi Rp510 miliar.

Faktanya memang begitu, seperti tidak ada masalah sebelum kasus itu merebak. Ke mana saja Inspektorat Jenderal Kementeran Keuangan, kok enggak ada pengawasannya? Ke mana Menteri Keuangan kok seolah baru tahu kalau anak buahnya banyak yang memperkaya diri dengan cara-cara yang tidak wajar, bahkan kemudian memamerkan kekayaannya itu dengan terang-terangan di media sosial?

Di dunia keuangan dikenal teori fraud triangle atau segitiga pemicu kecurangan yang dikembangkan kriminolog Donald R Cressey. Segitiga itu ialah tekanan (pressure), peluang (opportunity), dan pembenaran (rationalize). Dalam kasus Rafael, kalau mau menggunakan teori itu, penyebab utama sepertinya ada pada poin peluang. Peluang terbuka karena selama tahunan dibiarkan bekerja tanpa deteksi dan pengawasan.

Rafael pada akhirnya memang kena apes. Namun, jika institusinya tetap melestarikan peluang itu, ya nanti pasti akan muncul penerus Rafael. Seperti halnya Rafael yang meneruskan kelakuan Gayus Tambunan.



Berita Lainnya
  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.