Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Kode-Kode Jokowi

Jaka Budi Santosa, Dewan Redaksi Media Group
11/11/2022 05:05
Kode-Kode Jokowi
Jaka Budi Santosa, Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

DI antara sekian banyak pemain politik di Republik ini, kiranya ada empat politikus yang sedang gelisah. Di antara 270 juta penduduk negeri ini, barangkali ada empat orang yang terus berharap-harap cemas.

Keempat orang politikus itu bolehlah kita sebut Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, Puan Maharani, dan Airlangga Hartarto. Mereka gelisah, harap-harap cemas, karena menunggu kepastian sikap Joko Widodo. Sikap bukan sembarang sikap karena terkait dengan kesempatan mereka untuk berkompetisi di Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2024.

Jokowi memang tak bisa lagi berkontestasi. Dia sudah dua periode menjadi presiden. Konstitusi yang direvisi sebagai amanah reformasi jelas dan tegas menggariskan, presiden hanya boleh berkuasa maksimal dua kali masa jabatan. Tidak boleh lebih barang semenit pun.

Namun, suka tidak suka mesti diamini, posisi Jokowi masih tinggi. Jokowi memang tak bisa lagi menjadi orang nomor satu, tetapi dia punya kekuatan besar untuk mengkreasi pengganti dirinya. Istilah kerennya king maker.

Dalam Pilpres 2019, Jokowi yang berpasangan dengan Ma'ruf Amin meraup 85.607.362 atau 55,50% suara. Jumlah itu banyak, sangat banyak. Hasil sigi sejumlah lembaga survei juga menunjukkan, jika masih bisa maju di Pilpres 2024, Jokowi paling berpeluang menang. Elektabilitasnya masih yang terdepan kendati tingkat kepuasan publik terhadapnya menurun.

Karena itu, wajar, sangat wajar, jika restu Jokowi sangat dinanti.

Dukungannya amat ditunggu, dan mereka yang tengah menunggu restu dan dukungan itu utamanya ialah Prabowo, Ganjar, Puan, dan Airlangga. Meski bukan satu-satunya, faktor Jokowi ikut menentukan jadi tidaknya mereka nyalon atau menang kalahnya di pilpres. Tak mengherankan jika mereka sering caper, cari perhatian, kepada Jokowi.

Prabowo yang menjabat Menteri Pertahanan berulang kali memuji setinggi langit eks rivalnya di Pilpres 2014 dan 2019 itu. "Saya jadi saksi, saya lihat beliau salah satu pimpinan Indonesia yang paling keras kerjanya," begitu salah satu sanjungan Prabowo kepada Jokowi.

Pun dengan Ganjar. ‘Salah satu yang membuat saya dan mungkin yang lainnya tidak merasa kikuk atau berjarak dengan Presiden @jokowi adalah penampilan beliau yang sederhana. Penampilan seperti kita-kita ini. Kemeja putih, celana hitam. Ibu Iriana juga demikian. Benar-benar santai’, cicitnya suatu kala. "Namun, kalau soal kerja, wah, jangan ditanya. Penginnya gas terus," kata Ganjar.

Airlangga setali tiga uang. Barangkali yang tak terlalu sering memuji Jokowi hanya Puan.

Sah-sah saja mereka menebar daya pikat. Boleh-boleh saja mereka merayu Jokowi dengan beragam kiat. Pertanyaannya, siapa yang akan direstui dan didukung Jokowi? Itulah yang jadi soal.

Hingga kini, Jokowi belum menjatuhkan pilihan hatinya. Dia masih sekadar menyalakan sinyal, baru sebatas memberikan kode. Itu pun masih samar, malah berubah-ubah. Pada Rakernas V Pro Jokowi (Projo) di Borobudur, Magelang, 21 Mei 2022, sinyal dan kode dukungan diarahkan untuk Ganjar.

“Urusan politik? Ojo kesusu sik. Jangan tergesa-gesa,” kata Jokowi ketika itu. Lalu disambung, “Meskipun..meskipun mungkin yang kita dukung ada di sini.” Ganjar hadir di acara itu. Kata 'kita' yang diucapkan Jokowi berarti termasuk dirinya. Apakah itu berarti Jokowi mendukung Ganjar? Bolehlah hati Ganjar berbunga-bunga. Tak cuma sekali Jokowi memberikan kode yang dipersepsikan sebagai dukungan untuk Ganjar.

Persoalannya, sinyal dukungan dihidupkan pula buat Prabowo, Puan, dan Airlangga. Tak cuma sekali, juga berulang kali. Bahkan, baru-baru ini Jokowi menyebut Pilpres 2024 jatah Prabowo. Kode keras itu disampaikan Jokowi di HUT Perindo, Senin (7/11). "Saya ini dua kali wali kota di Solo menang, kemudian ditarik ke Jakarta, gubernur sekali menang. Kemudian, dua kali di pemilu presiden juga menang. Mohon maaf, Pak Prabowo. Kelihatannya setelah ini jatahnya Pak Prabowo," ujar Jokowi. Kali ini, bolehlah Prabowo yang bungah.

Akan tetapi, sekali lagi, semua itu baru isyarat. Dia boleh jadi ingin menyenangkan semua orang. Karena itu, kiranya Prabowo, Ganjar, Puan, dan Airlangga tak perlu terlalu ge er, gede rasa, ketika mendapat kode dari Jokowi. Ge er tidak selamanya baik. Lebih baik biasa saja.

Mereka tak perlu pula baper, bawa perasaan, ketika sinyal dukungan diberikan Jokowi untuk yang lain. Baper bisa berdampak negatif, hanya buang-buang waktu, gampang berprasangka buruk, dan bisa makan hati. Hati ayam sih enak, tapi kalau hati sendiri siapa yang doyan?

Untuk Pak Jokowi, dukungan Bapak memang akan sangat berarti. Namun, apakah tidak lebih baik Bapak memberikan restu kepada semua kandidat, bahkan Anies Baswedan sekalipun? Sebagai presiden, bersikap netral lebih elok, lebih arif, dan lebih terhormat.

SBY pernah mencontohkan hal itu di Pilpres 2014. Dia tak mendukung Prabowo atau Jokowi, kendati partainya, Partai Demokrat, mengusung Prabowo-Hatta Rajasa. Dia ingin mengantarkan transisi kekuasaan sedemokratis dan sedamai mungkin.

Perbedaan antara politikus dan negarawan ialah politikus hanya memikirkan pemilihan umum, sedangkan negarawan memikirkan generasi akan datang. Begitu penulis Amerika James Freeman Clarke bilang, “Saya tidak tahu apakah Pak Jokowi ingin mengakhiri kepemimpinannya sebagai politikus atau negarawan.”



Berita Lainnya
  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.

  • Pertobatan Ekologis

    03/1/2026 05:00

    ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik

  • Tahun Lompatan Ekonomi

    02/1/2026 05:00

    SETIAP datang pergantian tahun, kita selalu seperti sedang berdiri di ambang pintu. Di satu sisi kita ingin menutup pintu tahun sebelumnya dengan menyunggi optimisme yang tinggi.

  • Tahun Baru Lagi

    31/12/2025 05:00

    SETIAP pergantian tahun, banyak orang memaknainya bukan sekadar pergeseran angka pada kalender, melainkan juga jeda batin untuk menimbang arah perjalanan bersama.

  • Tunas Terempas

    30/12/2025 05:00

    SUARANYA bergetar nyaris hilang ditelan hujan deras pada senja pekan silam. Nadanya getir mewakili dilema anak muda Indonesia yang menjadi penyokong bonus demografi.  

  • SP3 Setitik Gadai Prestasi

    29/12/2025 05:00

    IBARAT nila setitik rusak susu sebelanga. Benarkah nila setitik bernama surat perintah penghentian penyidikan (SP3) mampu menggadaikan sebelanga prestasi KPK?