Headline

Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.

Kode-Kode Jokowi

Jaka Budi Santosa, Dewan Redaksi Media Group
11/11/2022 05:05
Kode-Kode Jokowi
Jaka Budi Santosa, Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

DI antara sekian banyak pemain politik di Republik ini, kiranya ada empat politikus yang sedang gelisah. Di antara 270 juta penduduk negeri ini, barangkali ada empat orang yang terus berharap-harap cemas.

Keempat orang politikus itu bolehlah kita sebut Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, Puan Maharani, dan Airlangga Hartarto. Mereka gelisah, harap-harap cemas, karena menunggu kepastian sikap Joko Widodo. Sikap bukan sembarang sikap karena terkait dengan kesempatan mereka untuk berkompetisi di Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2024.

Jokowi memang tak bisa lagi berkontestasi. Dia sudah dua periode menjadi presiden. Konstitusi yang direvisi sebagai amanah reformasi jelas dan tegas menggariskan, presiden hanya boleh berkuasa maksimal dua kali masa jabatan. Tidak boleh lebih barang semenit pun.

Namun, suka tidak suka mesti diamini, posisi Jokowi masih tinggi. Jokowi memang tak bisa lagi menjadi orang nomor satu, tetapi dia punya kekuatan besar untuk mengkreasi pengganti dirinya. Istilah kerennya king maker.

Dalam Pilpres 2019, Jokowi yang berpasangan dengan Ma'ruf Amin meraup 85.607.362 atau 55,50% suara. Jumlah itu banyak, sangat banyak. Hasil sigi sejumlah lembaga survei juga menunjukkan, jika masih bisa maju di Pilpres 2024, Jokowi paling berpeluang menang. Elektabilitasnya masih yang terdepan kendati tingkat kepuasan publik terhadapnya menurun.

Karena itu, wajar, sangat wajar, jika restu Jokowi sangat dinanti.

Dukungannya amat ditunggu, dan mereka yang tengah menunggu restu dan dukungan itu utamanya ialah Prabowo, Ganjar, Puan, dan Airlangga. Meski bukan satu-satunya, faktor Jokowi ikut menentukan jadi tidaknya mereka nyalon atau menang kalahnya di pilpres. Tak mengherankan jika mereka sering caper, cari perhatian, kepada Jokowi.

Prabowo yang menjabat Menteri Pertahanan berulang kali memuji setinggi langit eks rivalnya di Pilpres 2014 dan 2019 itu. "Saya jadi saksi, saya lihat beliau salah satu pimpinan Indonesia yang paling keras kerjanya," begitu salah satu sanjungan Prabowo kepada Jokowi.

Pun dengan Ganjar. ‘Salah satu yang membuat saya dan mungkin yang lainnya tidak merasa kikuk atau berjarak dengan Presiden @jokowi adalah penampilan beliau yang sederhana. Penampilan seperti kita-kita ini. Kemeja putih, celana hitam. Ibu Iriana juga demikian. Benar-benar santai’, cicitnya suatu kala. "Namun, kalau soal kerja, wah, jangan ditanya. Penginnya gas terus," kata Ganjar.

Airlangga setali tiga uang. Barangkali yang tak terlalu sering memuji Jokowi hanya Puan.

Sah-sah saja mereka menebar daya pikat. Boleh-boleh saja mereka merayu Jokowi dengan beragam kiat. Pertanyaannya, siapa yang akan direstui dan didukung Jokowi? Itulah yang jadi soal.

Hingga kini, Jokowi belum menjatuhkan pilihan hatinya. Dia masih sekadar menyalakan sinyal, baru sebatas memberikan kode. Itu pun masih samar, malah berubah-ubah. Pada Rakernas V Pro Jokowi (Projo) di Borobudur, Magelang, 21 Mei 2022, sinyal dan kode dukungan diarahkan untuk Ganjar.

“Urusan politik? Ojo kesusu sik. Jangan tergesa-gesa,” kata Jokowi ketika itu. Lalu disambung, “Meskipun..meskipun mungkin yang kita dukung ada di sini.” Ganjar hadir di acara itu. Kata 'kita' yang diucapkan Jokowi berarti termasuk dirinya. Apakah itu berarti Jokowi mendukung Ganjar? Bolehlah hati Ganjar berbunga-bunga. Tak cuma sekali Jokowi memberikan kode yang dipersepsikan sebagai dukungan untuk Ganjar.

Persoalannya, sinyal dukungan dihidupkan pula buat Prabowo, Puan, dan Airlangga. Tak cuma sekali, juga berulang kali. Bahkan, baru-baru ini Jokowi menyebut Pilpres 2024 jatah Prabowo. Kode keras itu disampaikan Jokowi di HUT Perindo, Senin (7/11). "Saya ini dua kali wali kota di Solo menang, kemudian ditarik ke Jakarta, gubernur sekali menang. Kemudian, dua kali di pemilu presiden juga menang. Mohon maaf, Pak Prabowo. Kelihatannya setelah ini jatahnya Pak Prabowo," ujar Jokowi. Kali ini, bolehlah Prabowo yang bungah.

Akan tetapi, sekali lagi, semua itu baru isyarat. Dia boleh jadi ingin menyenangkan semua orang. Karena itu, kiranya Prabowo, Ganjar, Puan, dan Airlangga tak perlu terlalu ge er, gede rasa, ketika mendapat kode dari Jokowi. Ge er tidak selamanya baik. Lebih baik biasa saja.

Mereka tak perlu pula baper, bawa perasaan, ketika sinyal dukungan diberikan Jokowi untuk yang lain. Baper bisa berdampak negatif, hanya buang-buang waktu, gampang berprasangka buruk, dan bisa makan hati. Hati ayam sih enak, tapi kalau hati sendiri siapa yang doyan?

Untuk Pak Jokowi, dukungan Bapak memang akan sangat berarti. Namun, apakah tidak lebih baik Bapak memberikan restu kepada semua kandidat, bahkan Anies Baswedan sekalipun? Sebagai presiden, bersikap netral lebih elok, lebih arif, dan lebih terhormat.

SBY pernah mencontohkan hal itu di Pilpres 2014. Dia tak mendukung Prabowo atau Jokowi, kendati partainya, Partai Demokrat, mengusung Prabowo-Hatta Rajasa. Dia ingin mengantarkan transisi kekuasaan sedemokratis dan sedamai mungkin.

Perbedaan antara politikus dan negarawan ialah politikus hanya memikirkan pemilihan umum, sedangkan negarawan memikirkan generasi akan datang. Begitu penulis Amerika James Freeman Clarke bilang, “Saya tidak tahu apakah Pak Jokowi ingin mengakhiri kepemimpinannya sebagai politikus atau negarawan.”



Berita Lainnya
  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.