Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Serakah tiada Tepi

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
21/9/2022 05:00
Serakah tiada Tepi
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

ADA tiga tipe korupsi menurut para ahli. Pertama, korupsi karena kebutuhan. Kedua, korupsi karena sistem. Ketiga, korupsi karena keserakahan. Meskipun sama-sama korupsi, karena penyebabnya berbeda, penanganannya pun tidak bisa sama.

Korupsi karena kebutuhan terjadi karena antara pendapatan dan kecukupan kebutuhan sehari-hari jomplang. Pendapatan kurang, kebutuhan membengkak. Anggaran rumah tangga defisit. Begitu ada niat dan kesempatan, terjadilah korupsi.

Menangani dan mencegah korupsi karena kebutuhan relatif mudah. Naikkan saja pendapatan mereka agar sesuai standar kelayakan hidup. Beri remunerasi atau tunjangan yang memadai. Beres. Sesimpel itu, semudah itu.

Lebih rumit daripada jenis pertama, korupsi jenis kedua, yakni karena sistem, membutuhkan penanganan yang terstruktur, sistematis, dan masif. Segala regulasi, termasuk sistem pencegahan, harus benar-benar solid. Pendek kata, jangan ada celah. Rombak sistem yang busuk.

Sementara itu, korupsi jenis yang ketiga, yakni karena keserakahan, lebih kompleks lagi. Ibarat penyakit, korupsi jenis ini seperti kanker yang terus menggerogoti. Siapa yang bisa mengukur kecukupan orang serakah?

Keserakahan itu tidak ada ujungnya. Serakah itu tidak bertepi, tidak mengenal kata cukup. Kata Mahatma Gandhi, "Ada kecukupan di dunia ini untuk kebutuhan manusia, tetapi tidak untuk keserakahan manusia."

Kata Erich Fromm, filsuf dan psikoanalis Jerman, keserakahan itu jurang maut. Ia melelahkan orang dalam upaya tanpa akhir untuk memuaskan kebutuhan tanpa pernah mencapai kepuasan. Jadi, tidak ada kata puas untuk keserakahan.

Keserakahan makin merajalela saat muncul aliran atau 'mazhab' Kyrene yang didirikan Aristippus. Ia menawarkan ajaran hedonisme sebagai tujuan kehidupan etis, yakni tujuan hidup yang paling mulia dari setiap manusia. Semua tindakan manusia akan dianggap baik apabila tindakan tersebut mendatangkan kenikmatan yang berpangkal pada kesenangan.

Manusia yang bijaksana ialah manusia yang mencari kenikmatan sebesar-sebesarnya di dunia ini. Ironisnya, demi pencapaian itu, manusia harus rela melepaskan segala norma, susila, etika, bahkan bila perlu ajaran agama yang dianggap membelenggu. Hedonisme dapat dikatakan sebagai cikal-bakal tindakan keserakahan yang merusak.

Saat keserakahan menjadi biang keladi korupsi, sistem pengawasan, kendali, pencegahan, bahkan pola-pola rekrutmen pejabat mesti dilakukan secara ketat dan berlapis. Sistem efek jera harus dibuat seefektif mungkin sehingga membuat koruptor bertobat, pula membuat orang berpikir berkali-kali untuk mencoba-coba korupsi.

Daya rusak korupsi yang berhulu dari keserakahan ini sudah terbukti. Data yang dikumpulkan Indonesia Corruption Watch (ICW) menunjukkan nilai kerugian negara akibat tindak pidana korupsi terus meningkat dalam lima tahun terakhir. Angka itu pun yang terdeteksi secara pasti.

Pada 2021, misalnya, nilai kerugian negara yang sudah pasti mencapai Rp62,9 triliun. Angka kerugian negara akibat korupsi tersebut naik bila dibandingkan dengan nilai kerugian pada tahun sebelumnya yang mencapai lebih dari Rp56 triliun.

Itu baru dua tahun terakhir dan yang sudah pasti. Bila ditambah dengan nilai kerugian negara pada tahun-tahun sebelumnya, boleh jadi dalam satu dekade terakhir negara sudah dirugikan lebih dari Rp500 triliun. Jumlah yang sangat cukup untuk mengatasi kemiskinan ekstrem.

Bila uang kerugian negara itu diinvestasikan untuk rupa-rupa kegiatan, dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat sudah bisa dirasakan. Itu artinya, keserakahan telah jauh menghambat dan memukul mundur kemajuan.

Pejabat yang terlibat dalam praktik keserakahan korupsi ini juga mencapai ratusan orang. Dalam satu setengah dekade terakhir, misalnya, sudah lebih dari 170 kepala daerah ditangkap KPK karena kasus korupsi. Yang paling gres, KPK menetapkan Gubernur Papua Lukas Enembe sebagai tersangka kasus korupsi senilai Rp1 miliar.

KPK juga sedang menyelidiki dugaan pidana pencucian uang setelah PPATK menemukan aliran uang mencurigakan ke luar negeri berjumlah superjumbo, Rp560 miliar, dari Lukas Enembe. Uang itu diduga mengalir ke meja kasino.

Keserakahan dan korupsi sudah menjadi saudara kembar identik. Keserakahan juga menjadi kausa prima korupsi. Benar kata Gandhi: bumi ini tidak akan pernah mampu mencukupi keserakahan. *



Berita Lainnya
  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.