Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Mencla-mencle

Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group
14/7/2022 05:00
Mencla-mencle
Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SEORANG teman uring-uringan di kedai kopi. Dia mengaku kecewa atas kebijakan pejabat di negeri ini yang ia sebut ibarat pagi kedelai, sore tempe. Ungkapan itu dimaksudkan sebagai sindiran terhadap sikap inkonsistensi, plin-plan, mencla-mencle.

Ia terus saja nyerocos. Kata dia, lidah para pemimpin di negeri ini memang tidak bertulang. Kemudian ia melantunkan sepenggal lirik lagu Tinggi Gunung Seribu Janji dari Bob Tutupoly: ‘memang lidah tak bertulang tak berbekas kata-kata’.

Saya mencoba menyimak jalan pikiran teman itu. Dalam hati, saya membenarkannya sebab para pemimpin itu amat kampiun dalam hal bersilat lidah. Dan, ciri paling menonjol dari para jago bicara ialah inkonsistensi.

Kemudian saya menasihati temanku. “Apa yang engkau katakan 100% benar, tapi belum 100% yang benar engkau katakan.” Bukankah Presiden Joko Widodo, saat pidato dalam sidang tahunan MPR pada 16 Agustus 2021, sudah mengakui kebijakan-kebijakan pemerintah yang terkesan mencla-mencle?

Presiden mengatakan tujuan dan arah kebijakan tetap dipegang secara konsisten, tetapi strategi dan manajemen lapangan harus dinamis menyesuaikan permasalahan dan tantangan.

“Pengetatan dan pelonggaran mobilitas masyarakat, misalnya, harus dilakukan paling lama setiap minggu dengan merujuk kepada data-data terkini. Mungkin hal ini sering dibaca sebagai kebijakan yang berubah-ubah atau sering dibaca sebagai kebijakan yang tidak konsisten,” kata Jokowi menjelaskan kebijakan di masa pandemi covid-19.

Elok nian bila para pejabat menjelaskan secara terbuka latar belakang perubahan sebuah keputusan sehingga tidak disebut plin-plan. Itu karena ucapan merupakan cermin pikiran dan pribadi seseorang.

Ambil contoh kebijakan pemerintah pusat yang merevisi kenaikan level pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat atau PPKM di Jakarta dari 2 ke 1 hanya dalam satu hari.

Alasan revisi yang disampaikan Direktur Jenderal Bina Administrasi Wilayah Kementerian Dalam Negeri Syafrizal ialah terkait angka penularan dan kematian covid-19 yang melandai setelah sempat ada kenaikan. Tetap saja penjelasan tersebut belum mampu menjawab persoalan perubahan kebijakan hanya dalam waktu satu hari.

Begitu juga menyangkut kebijakan pencabutan izin Pondok Pesantren Majma'al Bahrain Shiddiqiyyah, Jombang, yang hanya berumur empat hari. Saat membekukan izin pada 7 Juli 2022, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag, Waryono, memastikan pihaknya sebagai regulator memiliki kuasa administratif untuk membatasi ruang gerak lembaga yang di dalamnya diduga melakukan pelanggaran hukum berat.

Ketika mengumumkan pembatalan pencabutan izin operasian pondok pesantren pada 12 Juli 2022, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan pembatalan itu atas arahan dari Presiden Joko Widodo.

Masih ada kebijakan lain yang berumur pendek. Misalnya, kebijakan larangan ekspor batu bara hanya berlaku selama 12 hari. Begitu juga terkait kebijakan pelarangan ekspor minyak goreng dan CPO yang mampu bertahan selama tiga pekan.

Kebijakan berumur pendek bisa dilihat dari dua sisi. Pertama, pemerintah terkesan tergesa-gesa mengambil kebijakan untuk mengatasi persoalan yang amat mendesak. Kedua, setelah menyadari ada kekeliruan dalam mengambil keputusan, pemerintah tidak malu-malu mencabut kebijakan tersebut.

Kebijakan yang baik tentu saja kebijakan yang terbuka untuk dikoreksi jika terbukti ada jalan keluar yang lebih baik lagi. Bukan soal panjang pendek umur kebijakan, jauh lebih penting ialah kebijakan itu bermanfaat untuk masyarakat.

Meski demikian, elok nian bila dalam mengambil keputusan akal mendahului tindakan sehingga tidak malu kemudian. Kiranya wejangan Felix A Nigro dan Lloyd Nigro, keduanya ahli kebijakan publik, selalu menjadi rujukan.

Setidaknya ada dua dari tujuh kesalahan yang perlu dihindari dalam proses pembuatan kebijakan. Pertama, cara berpikir yang sempit. Membuat keputusan hanya untuk memenuhi kebutuhan seketika sehingga melupakan antisipasi ke masa depan seperti dalam kasus pembatalan pencabutan izin pondok pesantren.

Kedua, terlalu menyederhanakan sesuatu seperti dalam kasus larangan ekspor batu bara dan minyak goreng. Keputusan diambil hanya mempertimbangkan gejala-gejala di depan mata tanpa mencoba mempelajari secara mendalam sebab-sebab timbulnya masalah tersebut.

Teman saya masih saja uring-uringan. Saya meyakinkan dia bahwa semua kebijakan yang diambil pemerintah pasti dilandasi niat baik. Akan tetapi, jika terlalu sering gonta-ganti kebijakan dalam waktu singkat, yang salah pasti pejabatnya, mencla-mencle.



Berita Lainnya
  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik