Headline

Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.

Triple Combo

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
25/5/2022 05:00
Triple Combo
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

DUNIA, termasuk Indonesia, sedang berikhtiar keras mencari jawaban atas satu pertanyaan: bagaimana menemukan solusi untuk bangkit dari hantaman krisis, bahkan depresi, ekonomi yang terjadi akhir-akhir ini? Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebutkan bahwa pemulihan ekonomi bakal dihadapkan pada tantangan triple combo. Tiga masalah besar.

Tantangan pertama bukan lagi didominasi oleh pandemi covid-19, melainkan kenaikan harga-harga karena disrupsi dan kondisi geopolitik internasional. Kondisi tersebut akan memberikan efek domino terhadap banyak hal. Kenaikan harga yang ekstrem memicu suku bunga naik dan likuiditas yang ketat.

Tantangan kedua yang akan dihadapi Indonesia ialah inflasi tinggi. Tanda-tanda inflasi tinggi tidak terbendung sudah tampak di triwulan pertama 2022. Bahkan, ada yang memprediksi di akhir tahun nanti inflasi bakal menyentuh 5%, malah lebih. Padahal, target inflasi di kisaran 4%. Naiknya harga minyak goreng, kebutuhan pangan, mungkin juga naiknya harga BBM, elpiji 3 kilogram, dan tarif listrik, akan mengerek inflasi dan memukul daya beli.

Setelah naiknya inflasi dan terpukulnya daya beli, tantangan ketiga ialah perlambatan pertumbuhan ekonomi. Benar bahwa petumbuhan ekonomi kita dalam dua kuartal ini di atas 5%. Namun, melihat ekonomi global yang tidak sedang baik-baik saja, berat kiranya menjaga pertumbuhan itu hingga di penghujung tahun.

Apalagi, krisis pangan sudah terjadi. Bahkan, menurut Sekjen PBB Antonio Guterres krisis yang dipicu perang Rusia-Ukraina itu bisa berlangsung bertahun-tahun ke depan. Majalah terkemuka The Economist menyebutnya sebagai 'katastrofe pangan', atau perubahan besar pada pasokan dan harga pengan secara tiba-tiba.

Dalam ulasannya di edisi 21 Mei 2022 berjudul The Food Catastrophe, majalah berbasis di Inggris itu mengulas bahwa dengan menginvasi Ukraina, Vladimir Putin akan menghancurkan kehidupan orang-orang yang jauh dari medan perang—dan dalam skala yang bahkan mungkin dia sesali. Perang menghancurkan sistem pangan global yang sebelumnya telah terpukul oleh covid-19, perubahan iklim, dan kejutan energi.

Ekspor gandum dan minyak sayur Ukraina dan Rusia sebagian besar telah dihentikan. Secara bersama-sama, kedua negara memasok 12% kebutuhan kalori dunia. Harga gandum yang naik 53% sejak awal tahun, melonjak lagi 6% pada 16 Mei, setelah India mengatakan akan menangguhkan ekspor karena gelombang panas yang mengkhawatirkan.

Tingginya harga pangan pokok ini, tulis The Economist, telah meningkatkan jumlah orang yang tidak dapat memastikan kecukupan makan dari 440 juta orang menjadi 1,6 miliar orang. Hampir 250 juta berada di ambang kelaparan. Jika perang berlarut-larut dan pasokan dari Rusia dan Ukraina terbatas, ratusan juta orang bisa jatuh ke dalam kemiskinan.

Indonesia tidak luput dari sergapan krisis pangan, krisis energi, dan ancaman inflasi. Dampaknya terasa langsung pada keuangan negara. Realisasi subsidi energi, misalnya, per April tahun ini sudah mencapai Rp56,62 triliun, lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2021, hingga April subsidi sebesar Rp40,73 triliun. April 2020 malah cuma Rp32,83 triliun.

Memang serbarepot menemukan solusi yang pas menghadapi itu semua. Cara gampang mengatasi membengkaknya subsidi energi, misalnya, ialah menaikkan harga atau tarif. Sempat ada ancang-ancang Pertamina bakal menaikkan harga BBM pertalite dan gas elpiji 3 kg. PLN juga sudah menghitung-hitung untuk menaikkan tarif listrik. Dua BUMN tersebut memang sudah sangat berat menahan lonjakan harga yang berujung pada kerugian perusahaan hingga lebih dari Rp30 triliun (Pertamina) dan lebih dari Rp70 triliun (PLN).

Namun, sekali lagi, pilihan menaikkan harga akan membuat inflasi membubung. Dampak selanjutnya, rakyat tak sanggup lagi menjangkau harga-harga karena daya beli mereka roboh dipukul inflasi. Mungkin cara sementara ialah kembali pada resep refocusing anggaran. Bukan menaikkan harga dan tarif. Anggaran infrastruktur boleh ditahan sejenak untuk dialihkan demi melindungi rakyat dari serangan atas daya beli.

Sebagian anggaran pemulihan ekonomi nasional bisa pula digunakan untuk mengamankan subsidi demi melindungi serangan bertubi-tubi terhadap pemulihan ekonomi. Namun, ada syarat dan ketentuan berlaku, yakni subsidi yang digelontorkan mesti tepat sasaran. Percuma menggeber subsidi bila masih ada yang melenceng atau dilencengkan dari sasaran sesungguhnya.

Ibarat baru sembuh dari sakit, kita memang harus siap menghadapi serangan penyakit baru. Tidak hanya satu, tetapi juga malah triple combo. Semoga memang resepnya sudah ada dan jitu pula.



Berita Lainnya
  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.