Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Fokus untuk tidak Fokus

Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group
20/5/2022 05:00
Fokus untuk tidak Fokus
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PRESIDEN Jokowi meminta para menteri dan kepala lembaga negara untuk fokus bekerja di tugas masing-masing. Sebuah permintaan yang wajar, lumrah.

Permintaan itu dilontarkan Jokowi di depan jajaran kabinetnya. Dia menyampaikan secara resmi saat memimpin agenda resmi, sidang kabinet paripurna, di Istana Negara Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kenapa Jokowi sampai mengungkapkan permintaan itu? Dia pasti tak asal bicara. Tak sembarangan meminta. Dia meminta menteri-menterinya fokus karena fokus sebagian di antara mereka mulai terbelah.

Fokus sebagian menteri kini tinggal setengah, atau bahkan tidak lagi fokus pada tugasnya karena fokus pada tugas lain. Tugas di luar kewajiban mereka sebagai abdi negara. Abdi masyarakat.

Jokowi tahu kinerja para pembantunya. Dia paham betapa godaan semakin masif mengusik konsentrasi para menteri. Godaan itu tak lain ialah tahapan Pemilu 2024 yang kian dekat. Semakin dekat pemilu, semakin tak fokus para menteri.

Tidak semua menteri, memang. Mereka kebanyakan menteri-menteri yang berasal dari partai politik. Lebih tegas lagi menteri yang merangkap jabatan sebagai ketua umum partai politik.

Ada tiga menteri yang juga menjadi orang nomor satu di partai politik. Pertama, Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (Ketua Umum Partai Golkar). Lalu, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto (Ketua Umum Partai Gerindra). Terakhir, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa (Ketua Umum PPP).

Menteri dari partai politik, tapi tak memimpin partai politik lebih banyak lagi. Tidak kurang dari 14 orang. Mereka menjadi pembantu Jokowi atas usulan partai politik. Mereka mewakili partai politik dan tentu saja membawa kepentingan partai politik.

Antara menteri dan petinggi partai politik ialah dua habitat yang berbeda. Sebagai menteri, mereka punya tugas dan tanggung jawab besar mengelola kementerian yang ujung-ujungnya demi kepentingan rakyat. Sebagai pengelola partai politik, mereka punya tugas dan tanggung jawab mengelola partai demi kepentingan partai.

Ujung dari politik dan partai politik ialah kekuasaan. Tidak lain tidak bukan. Mendiang WS Rendra bahkan menarasikan politik lebih keras lagi. Kata dia, “Politik ialah cara merampok dunia. Politik ialah cara menggulingkan kekuasaan, untuk menikmati giliran berkuasa.”

Dus, menteri yang sudah kebelet dengan kekuasaan sedang memainkan peran paradoksal. Tak cuma mereka yang dari partai, menteri dari kalangan profesional yang birahi nyapres atau nyawapres sama saja. Sehebat apa pun dia, kiranya mustahil untuk menjalankan dua tugas penting dengan sama baiknya. Yang satu pasti mengganggu yang lain. Apalagi dalam situasi sekarang yang serbaberat bin sulit.

Belakangan, publik dibuat bising oleh derap politik para menteri dan pejabat-pejabat lain. Safari, kunjungan sana-sini dengan rupa-rupa alasan, gencar dilakukan. Bolehlah mereka berdalih untuk silaturahim. Tapi silaturahim sekadar bungkus. Isinya tetap saja kepentingan politik, kepentingan untuk memburu kekuasaan.

Di tengah permintaan Jokowi agar fokus, dua menteri, Airlangga dan Suharso, bahkan mempertontonkan manuver yang vulgar. Keduanya, bersama Ketua Umum PAN yang juga Wakil Ketua MPR Zulkifli Hasan, membangun Koalisi Indonesia Bersatu pada 12 Mei 2022.

Tujuan koalisi itu apalagi kalau bukan demi Pemilu 2024. Setelah kekuasaan saat ini selesai, ada kekuasaan berikutnya. Itu tujuannya. Itulah gen politikus yang dari sononya memang meninggikan kekuasaan.

Permintaan Jokowi agar para menteri dan kepala lembaga negara fokus bekerja di tugas masing-masing wajar, lumrah. Dia tentu tak ingin kinerja pemerintahan yang dipimpin terganggu. Dia tentu tak mau dikenang sebagai presiden yang tak bisa memuaskan rakyat.

Dari sisi regulasi, Jokowi tidak salah. Tapi para menteri yang sibuk memainkan bidak-bidak politik juga tak salah. Sebagai orang politik, mereka memang harus tebar pesona, bergenit-genit ria. Tiada larangan untuk itu. Pun, tak ada larangan yang tegas bagi menteri merangkap jabatan di partai meski konsekuensinya buruk bagi rakyat.

Yang keliru ialah yang membiarkan padahal bisa menghentikan. Ketika di periode pertama Jokowi melarang menteri rangkap jabatan di partai politik, kita angkat topi tinggi-tinggi.

Itulah terobosan yang nihil di rezim-rezim sebelumnya. Saat menjadi Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri bahkan memimpin PDIP. Ketika menjadi Presiden ke-6, SBY sempat menakhodai Partai Demokrat.

Sayang, ketegasan Jokowi tak berusia panjang. Pada 2017, dia mempertahankan Airlangga yang terpilih sebagai Ketua Umum Partai Golkar sebagai menteri perindustrian. Lantas, di periode kedua, kebebasan menteri merangkap jabatan partai dibuka seluas-luasnya.

Menteri dibayar mahal oleh rakyat. Mereka eloknya mencurahkan seluruh energi yang dimiliki untuk kepentingan rakyat. Bukan malah fokus untuk tidak fokus agar terus berkuasa.



Berita Lainnya
  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.