Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Gusti Ledun

Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group
10/5/2022 05:00
Gusti Ledun
Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

TAK banyak kepala desa seperti Gusti Lendu. Di tangannya, Tapobali, desa terisolasi di Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, menjadi desa yang penuh pesona untuk berwisata.

Sumber daya alam yang memesona sebagai karunia Ilahi tak dibiarkannya hanya sedap dipandang mata tanpa melahirkan multiplier effect bagi warga desanya. Pantai Tapobali yang menghadap ke Laut Sawu, wilayah selatan Lembata, merupakan wisata unggulan yang melahirkan sektor-sektor lain yang produktif di desa tersebut.

Di bawah kepemimpinan Gusti Ledun sebagai kepala desa, Tapobali juga terus mengembangkan potensi ekonomi kreatif melalui tenunan, anyaman, tambak garam, dan lainnya (Media Indonesia, 9/5).

Di tangannya, dana desa yang baru digunakan dalam dua tahun terakhir bukan untuk bancakan, sekadar membuat tugu desa, melainkan benar-benar dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat desa, khususnya kaum mudanya agar tidak melakukan urbanisasi ke kota-kota besar.

Di era saat ini dalam semangat membangun dari pinggiran oleh pemerintahan Jokowi tak ada alasan sebuah desa tak bergairah kehidupannya, terlebih warganya menjadi tenaga kerja Indonesia di luar negeri.

Desa seharusnya berdaya ketika UU No 6 Tahun 2014 tentang Desa resmi diberlakukan. Sejak UU tersebut tujuh tahun diundangkan ratusan triliun dana desa dari APBN mengalir deras setiap tahun. Presiden Jokowi mengatakan sampai pada 2022, pemerintah menyalurkan dana desa sebesar Rp468 triliun. “Jangan dipikir ini uang kecil, ini uang gede sekali, besar sekali, dalam sejarah negara ini berdiri, desa diberi anggaran sampai Rp468 triliun,” kata Jokowi di Istora Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (29/3).

Namun, adanya payung hukum dan limpahan fulus bukan jaminan desa-desa di Indonesia akan berdaya, memikat, dan menyejahterakan warganya. Ungkapan man behind the gun sangat tepat untuk direnungkan dalam rangka memilih calon pemimpin di desa. Sumber daya manusia yang memimpin di desa ialah faktor determinan yang akan membawa ke mana sumber daya alam di desa itu berlabuh.

Sosok seperti Gusti Ledun mampu membangun Desa Tapobali berdasarkan prinsip-prinsip good governance, yakni akuntabilitas, transparansi, dan partisipatif. Kebijakan yang akuntabel, berdasarkan kajian yang matang, akan menciptakan daya pijak yang kuat, tidak akan terombang-ambing oleh gosip dan semburan kebohongan lainnya (hoaks).

Demikian pula transparansi, proses pengambilan kebijakan yang dilakukan secara terang benderang, bukan ruang gelap atau setengah kamar, akan menciptakan kepercayaan masyarakat. Semua pihak bisa memantau dan mengontrol proses pengambilan sebuah kebijakan.

The last but not least ialah partisipasi. Proses pengambilan kebijakan yang melibatkan banyak warga di desa akan melahirkan semangat gotong royong, sense of belonging, dan bisa mengakselerasi pencapaian sebuah kegiatan.

Senapas dengan prinsip tersebut, Pasal 24 UU No 6 Tahun 2014 tentang Desa menyebutkan asas-asas penyelenggaraan pemerintahan desa, yaitu kepastian hukum, tertib penyelenggaraan pemerintahan, tertib kepentingan umum, keterbukaan, proporsionalitas, profesionalitas, akuntabilitas, efektivitas dan efisiensi, kearifan lokal, keberagaman, dan partisipatif.

Jika di desa-desa di Tanah Air memiliki sosok kepala desa seperti Gusti Ledun tentu kita tak akan dipusingkan dengan laju urbanisasi yang seolah tak terbendung ini. Indonesia ialah salah satu negara yang tercepat pergerakan kaum urbannya.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) Basuki Hadimuljono mengungkapkan, pada 2045 diprediksi akan ada 220 juta penduduk RI yang tinggal di wilayah perkotaan atau sekitar 70% dari total populasi. Tren urbanisasi ini meningkat dari angka 56% yang ada saat ini.

"Pada 2045 sebanyak 220 juta penduduk RI akan tinggal di daerah perkotaan atau meningkat dari 56% jadi 70% dari total populasi," katanya saat membuka acara Indonesia Housing Forum secara virtual, Kamis (14/10/2021).

Alhasil, Indonesia akan menjadi negara urban. Bukan lagi negara agraris. Hal ini tentu menyedihkan ketika desa-desa yang nan indah ditinggalkan warganya, terutama kaum mudanya, sang penggerak perubahan, menuju kota untuk mengadu nasib. Jika hal itu terjadi, pada akhirnya desa akan menjadi arena romantisme masa kecil, seperti yang dinikmati jutaan pemudik. Desa tidak lagi menjadi pujaan hati, seperti lagu L Manik!

 



Berita Lainnya
  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.