Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Dari Alal Bahalal ke Halal Bi Halal

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
07/5/2022 05:00
Dari Alal Bahalal ke Halal Bi Halal
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

HAMPIR satu abad lampau (tahun 1344 Hijriah atau 1926 Masehi), majalah Suara Muhammadiyah menampilkan pengumuman singkat berkaitan dengan Idul Fitri. Judul pengumuman berisi iklan ucapan selamat Idul Fitri itu ialah Alal Bahalal!!. Secara lengkap, pengumuman itu berbunyi sebagai berikut:

'Toean-toean dan saudara kaum Islam teroetama kaum Moehammadijin, berhoeboeng dengan adanja hari Raja idoel fitri, perloe kita mengatoerkan silatoel - rachmi kita kepada semoea saudara kita. Soewara Moehammadijah bersedija oentoek menjampaikan alal - bahalal saudara, dengan ongkos jang ringan, ialah f0,50. Lekaslah kirim adres saudara, nanti S. M. j. a. d. saudara ampoenja nama bakal nampak.'

Iklan itu diyakini sebagai embrio istilah yang berkembang berikutnya, yakni halal bi halal. Jika alal bahalal merupakan istilah untuk ucapan selamat merayakan Idul Fitri dari warga kepada warga, kata halal bi halal lebih bermakna silaturahim yang lebih luas. Berbasis komunitas, bahkan berskala nasional.

Bila istilah alal bahalal muncul dari 'rahim' Muhammadiyah, halal bi halal adalah produk yang diinisiasi oleh salah satu pendiri Nahdlatul Ulama, KH Wahab Chasbullah. Pada suatu hari, pasca-Lebaran menjelang tahun 1950-an, KH Wahab Chasbullah menggagas acara besar yang kemudian dikenal dengan halal bi halal.

Intinya, istilah khas Indonesia itu bermakna semuanya sudah halal, tidak haram lagi. Mengapa begitu? Mbah Wahab saat dipanggil oleh Bung Karno menyimak curahan hati Presiden pertama Indonesia itu tentang kondisi Indonesia yang baru 'seumur jagung' merdeka. Republik ini didera konflik politik. Antarkelompok politik saling mengharamkan. Bahkan muncul pemberontakan di sejumlah tempat: terbesar pemberontakan PKI di Madiun dan DI/TII di Jawa Barat.

Bung Karno meminta pendapat Mbah Wahab soal bagaimana mengatasi masalah tersebut. Mbah Wahab, dengan kearifan lokalnya sebagai ulama Indonesia pun memberi resep silaturahim akbar. Lebaran dijadikan momentumnya. Istilah yang dipilih pun halal bi halal, sebuah pengembangan dan 'peningkatan' dari istilah sebelumnya alal bahalal.

Mengapa halal bi halal yang secara kata tidak ditemukan rujukan literaturnya dalam khazanah bahasa Arab? Boleh jadi, istilah tersebut merupakan kontranarasi dari sikap permusuhan dan saling mengharamkan di kalangan kelompok politik yang berseberangan di saat Indonesia sedang meneguhkan diri sebagai negara merdeka.

Ajaib. Solusi Mbah Wahab itu, untuk kurun waktu tertentu, mampu menurunkan tensi ketegangan politik yang mendidih. Pendekatan kultural itu hingga kini masih dilestarikan sebagai tradisi berkumpul dan saling bermaafan. Ia menjadi modal sosial penting bagi segenap anak bangsa ini untuk menemukan ruang publik yang luas.

Di ruang publik seperti itu diskusi terbuka dan egaliter bagi semua orang bisa terwujud. Pada ruang publik yang luas itulah, seperti yang pernah dilukiskan oleh Jurgen Habermas, warga bebas berinteraksi melakukan beragam kegiatan secara berbagi dan bersama, yang meliputi interaksi sosial, ekonomi, dan budaya dengan penekanan utama pada aktivitas sosial.

Dalam ruang publik yang banyak dan luas, perjumpaan akan sering terjadi. Pada bentuk-bentuk perjumpaan yang beragam di ruang publik seperti itulah, pikiran orang menjadi terbuka. Bila pikiran terbuka, hati pun terbuka. Alhasil, toleransi berkecambah, menjalar ke mana-mana.

Ketika Habermas skeptis terhadap agama dan menyebut bahwa agama tidak mampu menggaransi terbentuknya ruang publik, halal bi halal yang dirintis KH Wahab Chasbullah ini menjadi semacam antitesis atas teori itu. Mbah Wahab meneguhkan bahwa praktik keagamaan yang bersimbiosis dengan khazanah kultural dan lokal terbukti mampu membentuk ruang publik, sekaligus ruang katarsis.

Warisan alal bahalal dari Muhammadiyah dan legasi silaturahim akbar halal bi halal dari pendiri NU itu, bagi saya, jelas sangat relevan hingga kini. Relevansi itu terjadi karena rajutan persaudaraan sesama bangsa mulai dikoyak di sana-sini. Tenun keragaman keindonesiaan dihadapkan pada sikap-sikap dan aksi sekelompok orang yang kerap intoleran.

Mulanya intoleran, lalu bertumbuh menjadi radikal dan ekstrem, sebagian berujung pada aksi kekerasan dan teror yang mengerikan. Maka, halal bi halal itu jalan tengah dari kaum moderat. Dalam pandangan keagamaan, moderasi itu diistilahkan sebagai jalan wasathiyah, yang amat kompatibel dengan keragaman Indonesia.

Setelah ber-alal bahalal, mari lanjutkan dengan ber-halal bi halal.



Berita Lainnya
  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.