Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
SEORANG presenter televisi membuat geger jagat maya. Musababnya, ia menentang arus. Saat jutaan rakyat Indonesia berdoa dan berdegup jantungnya demi mendukung timnas sepak bola Indonesia di Piala AFF, ia malah nyinyir. Padahal, ia warga negara Indonesia.
Ketika timnas lolos ke final setelah menang atas Singapura, sang presenter itu malah tak suka. Ia menyebut perayaan kemenangan itu lebay. Sudah seperti menang Piala Dunia. Padahal, baru menang semifinal, levelnya Asia Tenggara pula. Melawan sembilan pemain pula.
Ia terang-terangan berdoa semoga timnas kalah di final. Ia secara terbuka mendukung Singapura, Thailand, Malaysia, pokoknya selain Indonesia. Tanah Airnya sendiri. Sontak saja, pernyataan kontroversial di akun media sosialnya itu memantik reaksi keras.
Media-media daring beramai-ramai mengulas pernyataan 'aneh' itu. Presenter sepak bola Darius Sinathrya juga panjang lebar memberikan 'tamparan keras' kepadanya. Termasuk tamparan soal pernyataan sang presenter yang meminta agar sikapnya itu tidak dikait-kaitkan dengan nasionalisme karena sikap nyelenehnya itu tidak ada hubungannya dengan nasionalisme.
Saya tertarik mengulik pernyataan 'jangan kaitkan sepak bola dan nasionalisme'. Benarkah sepak bola tidak ada hubungannya sama sekali dengan nasionalisme? Saya menolaknya. Justru, menurut saya, sepak bola dan nasionalisme sudah seperti dua sisi mata uang. Keduanya selalu beriringan.
Setidaknya nasionalisme secara simbolis. Walaupun skalanya Asia Tenggara, bukan dunia, bagi sebagian besar orang Indonesia sepak bola sudah telanjur melekat dalam kehidupan. Bagi banyak orang di Republik ini, sepak bola telah menyatu dengan spirit keindonesiaan.
Jan Michael Kotowski, pengajar departemen ilmu politik di Universitas New Hampshire pernah menulis artikel bertajuk Reflection on Football, Nationalism, and National Identity. Di artikel itu ia mencatat ada tiga aspek keterkaitan sepak bola dan nasionalisme. Pertama, sepak bola sebagai ekspresi atau refleksi dari identitas nasional. Kedua, sebagai bagian dari praktik nasionalisme dan politik. Ketiga, sepak bola sebagai pembawa gagasan kebangsaan.
Kaitan antara sepak bola dan nasionalisme itu menemukan bentuknya paling jelas di Brasil. Di ‘Negeri Samba’ tersebut, sepak bola dan nasionalisme ada di titik paling ekstrem. Sepak bola telah menjadi identitas, praktik, sekaligus sebagai gagasan nasionalisme Brasil. Hal itu secara apik digambarkan mantan Presiden Dilma Rousseff.
Kata Rousseff, "Kami adalah Tanah Sepak Bola karena sejarah gemilang kami di lima kejuaraan dunia dan untuk semangat yang dipersembahkan setiap orang Brasil untuk tim mereka, untuk pahlawan mereka, dan untuk Selecao, tim nasional kami. Kecintaan rakyat kami terhadap sepak bola telah menjadi bagian dari identitas nasional kami. Bagi kami, sepak bola adalah perayaan kehidupan."
Memang, membandingkan sepak bola Brasil dengan Indonesia ibarat bumi dengan langit. Sangat jauh. Brasil merupakan negara tersukses dalam sejarah Piala Dunia dengan lima kali tampil sebagai juara. Adapun Indonesia, di level Piala AFF pun sejauh ini masih seperti mimpi tanpa ujung. Kecuali, malam nanti dan pada leg kedua 1 Januari 2022, timnas sukses menekuk Thailand.
Namun, fakta yang tidak bisa dibantah, walaupun timnas belum banyak memberikan kebanggaan kepada bangsa ini seperti Brasil, kecintaan masyarakat terhadap sepak bola Indonesia tidak pernah luntur. Tidak lekang bahkan ketika induk organisasi sepak bola kita, PSSI, karut-marut. Jutaan orang di negeri ini, dengan berbagai dinamika politik yang terjadi, tetap menganggap sepak bola ialah kita dan kita ialah sepak bola.
Kita akan melihatnya lagi malam nanti, juga malam Minggu pekan ini, saat timnas Indonesia berlaga di final Piala AFF melawan Thailand. Di 'piala dunia mini' itu kita akan menyaksikan lagi doa bergemuruh untuk Asnawi Mangkualam Bahar atau Evan Dimas dan kawan-kawan. Sejenak jalan raya lengang, lalu ramai oleh gemuruh kemenangan.
Setiap kemenangan timnas Indonesia, meminjam kalimat Dilma Rousseff, sudah menjadi perayaan kehidupan. Sepak bola membawa kita pada relaksasi kehidupan, bahkan suntikan energi, membawa semangat. Apalagi, dalam hampir dua tahun terakhir, kita seperti hidup dalam roller coaster, diombang-ambing covid-19. Semoga timnas menang agar kita lengkap merayakan kehidupan.
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved