Rabu 29 September 2021, 05:00 WIB

Mengamputasi Kepala Ikan

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group | Editorial
Mengamputasi Kepala Ikan

MI/Ebet
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group.

LING Liong Sik, mantan Presiden Asosiasi China Malaysia (MCA), barangkali tidak menyangka bahwa 'teori ikan busuk' yang ia kenalkan bakal menjadi kalimat pengingat saban ada perkara korupsi. Ling mengutip nasihat kuno yang menyebut bahwa ikan membusuk mulai dari kepalanya, bukan ekornya.

Masyarakat Indonesia juga punya hukum teori ‘kepala ikan’; jika ingin membeli ikan segar, periksalah dahulu bagian kepalanya. Kalau kepala ikan itu rusak, senyawa kimiawi badan ikan itu sudah turut busuk dan rusak pula. Perilaku korup sebuah lembaga, seperti tubuh ikan, kiranya juga perlu ditengok mulai dari 'kepalanya', dari para elitenya. Kalau elitenya busuk, sekujur tubuh lembaga itu harus segera diselamatkan agar tidak rusak pula.

Maka, wajar bila Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) amat getol mencokok para 'kepala' yang busuk, atau setidak-tidaknya ditengarai mulai membusuk. Sebab, kengototan segera meringkus kepala yang busuk akan menyelamatkan sebagian badan yang masih sehat agar tidak ikut membusuk. Itu pula logika KPK saat menjemput paksa Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin untuk diperiksa sebagai tersangka penyuapan terhadap mantan penyidik KPK Stephanus Robin Pattuju.

Jika nanti terbukti bahwa kepala itu busuk, vonis hukum harus keras mengamputasinya agar terpisah dari badan. Sayangnya, untuk urusan terakhir ini, hukum terlalu lembek memisahkan kepala yang busuk dari tubuh. Saat penuntut KPK sudah menyusun dakwaan yang berat, pengadilan kerap menjatuhkan vonis ringan. Rata-rata cuma kurang dari 5 tahun. Sudah begitu, ketika koruptor menjalani hukuman, atas nama aturan, tangan-tangan keadilan teramat mudah memberi belas kasihan; remisi berkali-kali hingga beragam kemudahan saat ditahan.

Saya jadi teringat peristiwa 10 tahun silam, saat mantan Gubernur Illinois, Amerika Serikat, Rod Blagojevich dihukum 14 tahun penjara setelah terbukti bersalah. Ia bermaksud menjual kursi senat yang ditinggalkan Barack Obama karena terpilih menjadi presiden dengan maksud mendapat imbalan uang.

Waktu penahanan masih menjadi debat setelah Blagojevich menyampaikan permohonan maaf di ruang sidang dan kepada publik. "Saya tidak pernah melanggar hukum. Saya tidak pernah melewati batas," kata Blagojevich dengan suara tersendat di pengadilan. "Saya salah. Juri menghukum saya karena perilaku itu, saya bertanggung jawab. Saya penyebab semuanya. Saya tidak menyalahkan orang lain. Saya adalah gubernur, seharusnya saya lebih tahu. Saya minta maaf dengan sepenuh hati."

Tim pembela Blagojevich berharap hakim distrik James Zagel mempertimbangkan hal tersebut. Dibui 14 tahun penjara amat menyakitkan bagi dua anak Blagojevich yang masih kecil. Hakim Zagel bergeming. Ia mengatakan, daripada mengajukan peninjauan kembali masa penahanan dengan pertimbangan anaknya yang masih kecil, seharusnya hal itu sudah dipikirkan Blagojevich pada saat dia menyalahgunakan jabatan.

Pada 27 Juni 2011 juri menyatakan Blagojevich bersalah atas 18 tuduhan menerima suap dan menyalahgunakan kekuasaan serta mencoba menjual kursi senat yang ditinggalkan Barack Obama setelah menang pemilihan presiden tahun 2008. Menurut aduan yang diajukan ke penuntut federal, ada rekaman pembicaraan Blagojevich merujuk kepada kursi senat yang tersedia yang disebutnya sangat berharga dan tidak akan diberikan begitu saja.

Blagojevich melanggar etika dan merupakan gubernur pertama yang dipecat dalam sejarah Illinois. Ia pun menderita. Bukan saja karena harus mendekam di penjara selama 14 tahun, tapi juga akibat bangkrut secara ekonomi setelah hartanya disita.

Sesudah kasus suap jabatan Senator Obama terbongkar, dan Pengadilan Federal Illionis menjatuhkan denda yang lebih besar daripada uang yang ia terima dari hasil suap, aset terpidana juga disita dan pengadilan terus melacak harta kekayaannya hingga ke luar negeri.

Di penjara, akses Blagojevich benar-benar dibatasi. Ia harus melakukan pekerjaan kasar, seperti mengepel lantai, membersihkan kamar mandi, mengosek kloset, menyapu blok penjara. Kunjungan keluarga juga amat dibatasi. Maka, dari balik jeruji besi, kepada istrinya yang menjenguk, Blagojevich berbisik, "Kita sudah bangkrut. Kita tidak punya apa-apa lagi. Saya benar-benar menyesal telah melakukan ini. Saya menderita.”

Saya membayangkan para 'kepala ikan busuk' yang kini berada di beberapa penjara di Indonesia membisikkan hal serupa kepada keluarganya. Keluarganya lantas menceritakannya kepada media. Lalu, para jurnalis, setelah memverifikasi kesahihan cerita itu, mengangkatnya di media mereka. Lalu, para 'ikan' sekuat tenaga menjaga martabat keluhuran dan kemuliaan kepala mereka agar tidak membusuk sehingga akhirnya diamputasi oleh pedang keadilan. Lalu… ternyata saya baru bisa membayangkan. Mungkin esok atau lusa baru terwujud. Entahlah.

Baca Juga

MI/Ebet

Jalan Stagnan Energi Bersih

👤Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group 🕔Sabtu 27 November 2021, 05:00 WIB
PERTEMUAN puncak para pemimpin dunia yang membahas perubahan iklim, COP-26, di Glasgow, Skotlandia, memang telah berakhir awal bulan...
MI/Ebet

Megawati, Prabowo, dan Puan

👤Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group 🕔Jumat 26 November 2021, 05:00 WIB
TIGA pimpinan partai politik, Megawati Soekarnoputri, Prabowo Subianto, dan Puan Maharani, bertemu di Istana...
MI/Ebet

Simbol Negara

👤Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group 🕔Kamis 25 November 2021, 05:00 WIB
SEDERHANA saja membedakan simbol negara dengan aparat penegak hukum dilihat dari sisi tindak pidana korupsi. Simbol negara pasti tidak...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya