Headline

Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.

Sejuk, Keras, Kasar

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
12/12/2020 05:00
Sejuk, Keras, Kasar
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SEORANG teman dalam grup percakapan Whatsapp membagi tautan dari Facebook berisi ‘penjelasan ilmi ah’ tentang ‘ulama sejuk’ dan ‘ulama keras’. Meskipun memakai istilah ‘penjelasan ilmiah’, jatuhnya tetap saja menghadap- hadapkan, menggampangkan kesimpulan (cenderung stigmatisasi juga), dan jauh dari metode penjelasan ilmiah yang ketat. Kontan saja, tulisan itu memantik pro dan kontra anggota grup WA.

Di beberapa grup percakapan lainnya, dikotomi serupa dengan sebutan berbeda juga marak terjadi. Ada yang membaginya dengan istilah ‘ustaz sejuk’ dan ‘ustaz keras’. Kendati beda sebutan, framing dalam konten itu sama: cenderung nyinyir kepada mereka yang suka ‘sosok sejuk’ dan ‘menaikkan derajat’ mereka yang condong ke ‘sosok keras’.

Misalnya tulisan ‘penjelasan ilmiah’ seperti berikut ini: “Saudara sepupu saya sangat mengidolakan beberapa ulama yang dia sebut ulama sejuk. Sebaliknya, dia sangat anti dengan beberapa ulama yang dia sebut ulama garis keras. Alasan dia, ulama harus bertutur kata lembut. Mengajak dan menasihati. Bukan membuat orang jadi saling membenci. Tentu saja sikap sepupu saya ini sangat lumrah.”

Sang penulis lalu melanjutkan, “Saya bilang, tidak ada yang salah dengan sikap untuk lebih menyukai ‘ulama-ulama sejuk’ tadi. Hanya saja jadi salah kalau dilanjut dengan sikap membenci ulama-ulama yang dianggap garis keras. Ajaran Islam bukan cuma mengajak dan menasihati. Tapi juga ‘melarang’. Setiap orang Islam diwajibkan melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar. Mengajak ke kebaikan dan mencegah kemungkaran.”

Sampai di sini saya masih bisa memahami logika sang penulis. Sampai kemudian mata saya tertuju pada deretan kalimat berikutnya: “Sudah sifat manusia lebih senang diajak daripada dicegah. Lebih suka dinasihati daripada dilarang. Makanya wajar kalau pemabuk, penjudi, agen narkoba, koruptor, dan penjahat lainnya lebih senang dengan ‘ulama sejuk’ yang cuma menasihati daripada ‘uama garis keras’ yang akan melarang dan mencegah aktivitas dosa mereka.”

Sang penulis juga berkesimpulan bahwa beban ‘ulamaulama’ yang berani berceramah untuk mencegah kemungkaran jauh lebih berat dan berisiko daripada ulama yang lebih memilih ‘ceramah sejuk’.

Ulama-ulama sejuk, lanjut dia, biasanya juga akan disukai penguasa. Sebaliknya, ulama-ulama yang ‘berani nahi munkar’ akan dibenci oleh penguasa. Itu karena--ini kesimpulan dia yang gampangan--penguasa dan kekuasaan sangat identik dengan kezaliman dan orang-orang zalim. Ia pun mempertanyakan, kenapa ‘kita-kita yang bukan penjahat’ juga keberatan dengan ‘ulama garis keras’?

Sang penulis akhirnya terjebak pada kesimpulan yang berisi ‘vonis’. Kata dia, “Bagi saudara-saudara muslim (atau yang mengaku Islam) yang cuma mencintai ulama-ulama sejuk dan sebaliknya membenci ‘ulama garis keras’, menurut saya keimanan dan keislaman Anda baru separuh.”

Saya lalu menulis di WAG demi menanggapi tulisan yang katanya ‘ilmiah’ tapi nyatanya tendensius, tersebut dengan kalimat sederhana: keras itu bukan berarti kasar. Keras itu tegas dan penuh prinsip. Sedangkan kasar itu penuh amarah, kegeraman, kekotoran, dan kebencian.

Buya HAMKA, Gus Dur, Buya Syafi i Maarif, KH Musthofa Bisri itu keras dan tegas pada masalah-masalah yang prinsip, namun tidak kasar. Banyak hal prinsip mereka sampaikan dengan tegas, lugas, keras, tapi tidak kasar. Cara mereka tetaplah sejuk, tidak menebar kebencian, tanpa kata makian, pula tanpa ujaran kebencian.

Merekalah para teladan bahwa dakwah itu mengajak bukan mendepak, merangkul bukan memukul, meneguhkan bukan menceraiberaikan, menjelaskan bukan mengeluarkan makian. Apakah kesejukan mereka, ketidakkasaran mereka, merupakan bentuk ‘penghambaan’ terhadap kekuasaan? Jelas tidak. Beberapa kali para sosok tersebut berseberangan dengan pemerintah dan kebijakan negara.

Toh, mereka tetap sejuk, menyampaikan kritik dengan takaran yang keras, tapi tidak kasar. Risiko mereka juga tak kalah tinggi bila dibandingkan dengan sosok-sosok pengumbar kekasaran.

Saya kok yakin, kadar keimanan dan keislaman orangorang yang menyukai mereka sangat tinggi, jauh lebih dari separuh sebagaimana yang dipersangkakan tadi (tentu penilai kadar yang sesungguhnya ialah Yang Maha Tahu). Justru mereka itu mengamalkan perintah Tuhan: ‘Ajaklah orang-orang menuju jalan Tuhan dengan hikmah dan caracara yang baik. Bila ada perdebatan (adu argumentasi), lakukanlah dengan cara yang baik, penuh keadaban’.



Berita Lainnya
  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.