Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM setiap bencana, kata jurnalis Eric Weiner, “Kita membutuhkan orang yang disalahkan selain Tuhan….” Eric menuliskan pernyataan itu dalam bukunya, The Geography of Bliss.
Bencana yang dimaksud Eric bencana alam. Sekarang ini, kita bisa memperluas makna bencana, bukan saja bencana alam, melainkan bencana kesehatan atau bencana ekonomi gara-gara pandemi covid-19 serupa yang sedang kita alami.
Dalam hal bencana atau krisis ekonomi gara-gara covid-19, banyak negara menghadapi resesi. Banyak perusahaan di dunia rugi. Pertamina salah satunya. Pertamina mengalami bencana ekonomi. Dia mencatatkan kerugian Rp11 triliun lebih dalam laporan keuangan semester pertama 2020. Padahal, di semester pertama 2019 Pertamina untung Rp9 triliun lebih.
Kiranya bukan Pertamina semata perusahaan minyak dan gas yang rugi gara-gara pandemi covid-19. Perusahaan minyak dan gas kelas dunia macam Shell, Total, British Petroleum, Petronas, Chevron, Conoco Philips, Eni, juga rugi. Kerugian mereka malah lebih parah jika dibandingkan dengan Pertamina.
Gara-gara pandemi covid-19, banyak negara melakukan lockdown. Indonesia melakukan pembatasan sosial berskala besar. Semua itu membatasi pergerakan orang. Orang dipaksa melakukan segala hal dari rumah.
Tidak mengherankan sektor transportasi termasuk yang paling terpuruk. Transportasi menggunakan bahan bakar. Konsumsi bahan bakar praktis menurun drastis. Inilah salah satu penyebab perusahaan minyak dan gas rugi. Jatuhnya harga minyak dunia serta nilai tukar berbagai mata uang terhadap dolar yang fluktuatif memperbesar kerugian perusahaan-perusahaan minyak dan gas.
Akan tetapi, kita rupanya tetap membutuhkan orang untuk disalahkan dalam bencana kerugian yang diderita Pertamina itu. Alasan pandemi covid-19 sebagai biang keladi kerugian Pertamina dianggap garing. Covid-19 virus, bukan orang. Kita memerlukan orang, bukan virus, untuk disalahkan dalam bencana kerugian yang dialami Pertamina. Orang itu ialah Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, Komisaris Utama Pertamina.
Mencari orang untuk disalahkan serupa mencari kambing hitam. Antropolog Rene Girard bilang pengambinghitaman (scapegoating) menjadi mekanisme kuno untuk mengatasi krisis dan ketakutan. Kerugian Pertamina dianggap krisis dan menakutkan. Kita memerlukan orang untuk dikambinghitamkan dan orang itu Ahok. Orang mengambinghitamkan Ahok dalam krisis Pertamina yang menakutkan itu, meski dia berkulit putih.
Ini tumben, tak serupa biasanya. Biasanya kalau performa perusahaan buruk, yang pertama-tama disalahkan direksi, bukan komisaris. Ketika santer dikabarkan Ahok bakal menjadi komisaris Pertamina, orang sudah sibuk memperbincangkannya dan sebagian di antaranya perbincangan negatif. Ahok kiranya lebih menarik untuk disalahkan ketimbang Nicke Widyawati meski Ibu Dirut Pertamina ini lebih cantik daripada Ahok.
Tersedia seribu satu alasan untuk menyalahkan Ahok. Ahok sebagai komisaris utama dikatakan alpa mengawasi direksi sehingga Pertamina rugi. Ahok dikatakan sesumbar tanpa diawasi pun Pertamina bakal untung, tetapi nyatanya rugi. Tabiat Ahok yang meledak-ledak juga dijadikan alasan untuk menyalahkannya. Pun Ahok disalahkan karena tak membawa hoki atau peruntungan bagi Pertamina. Bukan cuma disalahkan, Ahok bahkan dibuli bertubi-tubi.
Rene Girard juga bilang yang biasanya dikambinghitamkan ialah mereka yang dianggap aneh, asing, dan minoritas. Semoga saja Ahok disalahkan bukan karena dia aneh, asing, dan minoritas.
Semua itu kiranya alasan yang dikorek-korek. Boleh jadi dasar orang menyalahkan Ahok cuma ketidaksukaan terhadapnya. Terang benderang penyebab kerugian Pertamina terutama pandemi covid-19 yang membawa dampak pada hampir semua korporasi. Buktinya, perusahaan minyak dan gas lain di dunia juga rugi, lebih rugi jika dibandingkan dengan Pertamina.
Lain perkara bila yang rugi cuma Pertamina. Bila cuma Pertamina yang rugi, bolehlah Ahok disalahkan bahkan dipecat. Mungkin mengundurkan diri, Ahok pun bersedia bila cuma Pertamina yang rugi.
Sudah betul bila Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan tidak memberhentikan Ahok. Kalau memberhentikan Ahok, Erick harus memberhentikan komisaris BUMN lain karena bukan Pertamina saja BUMN yang rugi gara-gara pandemi covid-19.
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved