Senin 20 Juli 2020, 05:00 WIB

Buaya Darat Pota

Gaudensius Suhardi, Dewan Redaksi Media Group | Editorial
Buaya Darat Pota

MI/EBET
.

BUAYA darat alias komodo di Pulau Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, hanya bisa dilihat wisatawan kaya. Kini, sedang disusun regulasinya. Tidak perlu kecewa, apalagi marah. Sebab, masih ada buaya darat yang menghuni surga tersembunyi di Watu Pajung, Manggarai Timur. Satwa itu dikenal sebagai buaya darat pota.

Penyusunan regulasi Pulau Komodo, khusus untuk wisatawan kaya, diumumkan resmi dalam siaran pers di situs Kemenparekraf.go.id 2 Juli. Hanya pemegang kartu anggota yang boleh berkunjung ke Pulau Komodo yang termasuk kawasan Taman Nasional Komodo.

Direktur Utama Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF) Shana Fatina menjelaskan terkait penerapan keanggotaan atau membership masih dalam finalisasi antara Pemprov NTT bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Disebutkan, ada pembagian ruang untuk umum dan pemegang kartu anggota. Tidak semua lokasi di TN Komodo bisa dikunjungi secara umum. Untuk kunjungan umum ada di Pulau Rinca, sedangkan Pulau Komodo diperuntukkan hanya bagi yang memiliki keanggotaan.

Pulau Komodo memang sudah digagas Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat untuk melayani wisatawan kelas atas. “Kita butuh 50.000 orang kaya yang tersebar di dunia untuk berkunjung ke Pulau Komodo, tentu dengan catatan setiap orang per tahun US$1.000 (setara Rp14 juta untuk kurs 14.000/dolar),” ujar Viktor pada 19 November 2019.

Labuan Bajo sebagai destinasi superpremium juga menjadi mimpi Presiden Joko Widodo. Ia minta pengelolaan wisata Labuan Bajo tidak bercampur dengan destinasi wisata untuk kalangan menengah ke bawah. “Labuan Bajo ini superpremium. Ini hati-hati. Saya sudah ingatkan, hati-hati. Jangan sampai campur aduk superpremium de- ngan yang menengah bawah,” ujar Jokowi pada 28 November 2019. 

Penetapan Pulau Komodo sebagai tujuan wisata orang kaya justru membuka peluang daerah lain di Flores yang juga menjadi habitat komodo. Salah satunya di Watu Pajung, Manggarai Timur. Buaya darat pota itu disebut rugu dalam bahasa setempat.

Buaya darat di Watu Pajung atau taman nasional sama saja. Sama bukan dalam pengertian sama-sama dipakai untuk mendeskripsikan seorang laki-laki yang mempunyai sifat tidak setia terhadap pasangannya. Tapi, sama-sama menjadi satwa nasional. Sebab, komodo berdasarkan Keppres Nomor 4 Tahun 1993, ditetapkan sebagai satwa nasional bersamaan dengan ikan siluk merah sebagai satwa pesona dan elang jawa sebagai satwa langka.

Menurut penelitian para ahli, komodo di Watu Pajung memiliki postur tubuh dan DNA mirip komodo di Pulau Rinca. Pada 28 Juni 2019, warga Kampung Tanjung, Desa Nanga Baras, Kecamatan Sambi Rampas, Manggarai Timur, dibuat heboh dengan kehadiran seekor komodo.

Menurut cerita warga yang dimuat di situs Menlhk.go.id, rugu yang masuk ke permukiman warga kemudian ditangkap dan dilepasliarkan. Setelah dilakukan pengambilan data biometrik melalui pengukuran dan penandaan, komodo yang nyasar ke permukiman itu berjenis kelamin jantan, ID tag 000706D12C, panjang total 225 cm, dan berat 33,8 kg, kondisi satwa sehat, serta umur telah memasuki fase dewasa.

Berdasarkan analisis perilaku, rugu itu memasuki permukiman warga karena dalam proses penjelajahan untuk mencari  pasangan  saat musim kawin, Juni-Agustus. Musim kawin buaya darat di TN Komodo juga Juli sampai Agustus. Itulah saat yang tepat untuk melihat buaya darat.

Watu Pajung sudah ditetapkan sebagai daerah tujuan wisata berdasarkan Perda Nomor 7 Tahun 2016 tentang Pengelolaan Kawasan Pariwisata Pantai Watu Pajung dan Rana Tonjong. Di Rana Tonjong juga tumbuh bunga teratai raksasa atau disebut tonjong dalam bahasa setempat. Teratai di sana terbesar kedua di dunia setelah India.

Keindahan Watu Pajung sekitar 10 km di sebelah timur Pota, ibu kota Kecamatan Sambi Rampas, ibarat surga tersembunyi. Narasi yang dimuat di situs Manggaraitimurkab.go.id sangatlah menawan. Memiliki hamparan pasir putih di sepanjang pantai, di beberapa bagian terdapat batu karang berdiri anggun dan kukuh membela- kangi perbukitan hijau ditumbuhi pepohonan.

Di bagian timur pantai Watu Pajung terdapat padang cukup luas, sedangkan di bagian barat terdapat lahan persawahan milik warga setempat. Kombinasi alam nan indah ini membuat Watu Pajung sangat menakjubkan. Dinamai Watu Pajung karena di tepi pantai terdapat sebuah batu karang yang berdiri menghadap laut menyerupai payung yang sedang mengembang.

Pengelolaan kawasan yang tercantum di perda cukup baik, ada zona inti, zona penyangga, dan zona pengembangan. Sudah dibuatkan jalan utama, trek panjang, dan trek pendek. Di dalam kawasan itu terdapat danau yang dinamai Rana Rugu, gua kelelawar, dan sarang walet. Keindahan alamnya malah melampaui destinasi superpremium.

Buaya darat pota hanya kalah pamor dari sisi promosi. Ia juga bisa membangun imajinasi dan narasi kehidupan ribuan tahun silam. Eloknya, Watu Pajung segera ditetapkan sebagai kawasan konservasi. Pemerintah setempat pernah mengusulkan hal itu pada 2013, tapi sampai sekarang tak kunjung terwujud. Jangan sampai petani menganggap rugu sebagai hama pemangsa ternak yang perlu dibasmi. Pada titik inilah diperlukan kreativitas kepala daerah.

Baca Juga

MI/Ebet

Menghindari Resesi

👤Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group 🕔Jumat 14 Agustus 2020, 05:00 WIB
DISKUSI ‘Denpasar 12’ yang digagas Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Lestari Moerdijat kemarin membahas cara...
MI/Ebet

Menghindari Resesi

👤Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group 🕔Jumat 14 Agustus 2020, 05:00 WIB
DISKUSI ‘Denpasar 12’ yang digagas Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Lestari Moerdijat kemarin membahas cara...
MI/Ebet

Daulat Uang Pilkada

👤Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group 🕔Kamis 13 Agustus 2020, 05:00 WIB
PILKADA itu ibarat keluar kandang singa masuk mulut...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya