Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
SEORANG teman menumpahkan kemarahan di laman Facebook atas sebutan bahwa IPB singkatan dari 'institut pembuat bom' atau 'institut perakit bom'. Menurutnya, itu satu penghinaan yang menyakitkan bagi anak-anak yang sedang menuntut ilmu di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia itu. Menurut teman yang alumnus IPB itu, sebutan itu juga melukai alumni IPB.
Sebutan 'institut pembuat bom' atau 'institut perakit bom' kabarnya menjadi trending topic di media sosial. Kita semua tahu sebutan itu berawal dari tertangkapnya dosen IPB atas sangkaan membuat dan menyimpan bom molotov. Bom itu rencananya dipakai untuk mengacaukan Ibu Kota.
Institut Pertanian Bogor yang disingkat IPB barangkali merupakan perguruan tinggi yang paling sering dipelesetkan kepanjangannya. Kepanjangan IPB pernah dipelesetkan menjadi 'institut publisistik Bogor'. Gara-garanya, banyak alumnusnya yang menjadi wartawan.
Namun, sebutan 'institut publisistik Bogor' tidak sampai membuat berang mahasiswa, dosen, atau alumni, termasuk teman yang menumpahkan kemarahannya di media sosial tadi.
Kata si teman, pelesetan 'institut publisistik Bogor' sesuai dengan kenyataan bahwa banyak alumnus IPB menjadi jurnalis. Apalagi, katanya, IPB kini punya jurusan komunikasi. Namun, alumni IPB yang menjadi wartawan kebanyakan tidak mengambil jurusan komunikasi, bukan alumni komunikasi.
Kepanjangan IPB pernah juga dipelesetkan menjadi 'institut perbankan Bogor' lantaran banyak alumnusnya yang bekerja di bank. Si teman menyampaikan pelesetan itu pun tak mengapa karena begitulah adanya plus ada jurusan ekonomi di IPB.
Mendengar pelesetan 'institut publisistik Bogor' dan 'institut perbankan Bogor', Rektor IPB sebelumnya, Herry Suhardiyanto, pernah berkata enteng, "Itu artinya lulusan IPB diterima di mana-mana."
Intinya, sebutan 'institut publisistik Bogor' dan 'institut perbankan Bogor' tak menjadi perkara karena banyak alumnusnya yang bekerja di media dan bank, serta IPB mengajarkan komunikasi dan ekonomi.
Akan tetapi, IPB tidak mengajarkan merakit bom, cuma mengajarkan ilmu kimia, dan yang menjadi tersangka perakit bom cuma seorang sehingga pelesetan 'institut perakit bom' tidak pada tempatnya dan mesti dipersoalkan.
Mengapa tersangka pelakunya cuma seorang, tetapi keseluruhan IPB seperti menanggung akibatnya? Ini yang disebut karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Ini memang sulit dihindari.
Sama sulitnya bagi media menghindar menulis berita 'Dosen IPB Tersangka Pembuat Bom' meski dia bertindak atas nama pribadi, bukan sebagai dosen IPB. Di zaman dahulu, media menyebut 'oknum dosen IPB' untuk menghindari generalisasi. Oknum artinya bertindak atas nama perseorangan.
Akan tetapi, 'oknum' dianggap eufimisme, pelembutan. Agak-agak haram bagi media menggunakan pelembutan. Sulit, bila tidak boleh dikatakan tidak mungkin, menghindar menghubungkan posisi seseorang di masyarakat dengan perbuatan yang dilakukannya, baik perbuatan buruk maupun baik.
Kita sering kali tidak fair. Ketika seseorang berbuat baik, kita menginginkan nama institusi disebut meski itu perbuatan pribadi. Akan tetapi, ketika orang itu berbuat jahat, kita menghendaki nama institusi disembunyikan dengan alasan bahwa itu perbuatan individu.
Pak dosen diberitakan mengundurkan diri dari posisi dosen IPB. Tujuannya supaya IPB tidak terbawa-bawa lagi. Mudah-mudahan tidak ada yang menyebut 'mantan dosen IPB'.
Dalam pelesetan kadang terkandung kritik. Dalam pelesetan 'institut publisistik Bogor' atau 'institut perbankan Bogor' mungkin terkandung kritik bahwa 'semestinya alumni IPB menjadi petani, bukan wartawan atau bankir supaya kita swasembada pangan'.
Dalam pelesetan 'institut perakit bom' atau 'institut pembuat bom' mungkin terkandung kritik bahwa radikalisme sudah menjalar ke kampus merasuki kalangan intelektual.
Pelesetan, bila di dalamnya terkandung kritik, ia dibawakan dengan gurauan. Tujuannya supaya sasaran tidak marah dikritik.
Daripada ngomel-ngomel, apalagi bila sampai menuduh polisi merekayasa kasus bom molotov itu, lebih baik kita jawab kritik dalam pelesetan itu. Misalnya, dengan upaya meredam radikalisme di kampus.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)
JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.
PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.
HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.
DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.
RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.
KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.
ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved