Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Rekonsiliasi vs Oposisi

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
05/7/2019 05:30
Rekonsiliasi vs Oposisi
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI)

Eksistensi oposisi pastilah mulia; girah rekonsiliasi sungguh terpuji. Keduanya menguatkan demokrasi. Oposisi menuntut berada di seberang. Menantang. Sementara itu rekonsiliasi mesti masuk, bersepakat tentang beberapa syarat agar sebuah bangsa kembali harmoni.

Namun, dua kebajikan itu belum tentu bermanfaat jika disatupadukan. Ia memang satu ikatan adekuat, tapi beda senyawa. Keduanya beda tugas. Beda pegas.

Oposisi yang berkelas sama mulianya dengan pemerintah yang tegak lurus. Oposisi memang harus menjadi sangkakala dan alarm tanda bahaya setiap ada intensi penyimpangan sekecil apa pun dari pemeritah. Ia pantang bungkam untuk hal ihwal yang penuh transaksi tak terpuji.

Pemilu 2019 di negeri muslim terbesar ini memang amat membelah. Kebencian pun membuncah. Rekonsiliasi jadi penting, menyambung kembali relasi yang saling menegasi. Luka akibat politik elektoral yang banal dan brutal memang mesti disembuhkan.

Namun, salah dan celaka jika ada yang memaknai rekonsiliasi untuk melemahkan oposisi. Terlebih jika melakukannya dengan bagi-bagi kursi. Apa bedanya dengan politik dagang sapi? Ketika adab demokrasi harus kian tinggi, justru bertumbuh praktik 'hengki-pengki'. Semoga ini tak terjadi.

Rekonsiliasi juga bisa bersepakat dan hormat akan posisi masing-masing. Hukum tak boleh dipermainkan. Dalam demokrasi postulatnya ialah, pemerintahan yang kukuh juga lahir dari oposisi yang kuat. Ia tak sekadar nyaring berteriak, tapi juga menawarkan solusi dengan bijak. Oposisi yang bermartabat juga mengakui kinerja pemerintah yang 'setarikan-seembusan napas' dengan rakyat.

Sinyal bubarnya kubu Adil Makmur memang telah dimaklumatkan Prabowo. Ia mengungkapkan setelah seluruh gugatan pihaknya dinegasi Mahkamah Konstitusi, berakhir pula koalisi. Partai pendukungnya dipersilakan menentukan masa depannya sendiri-sendiri. Termasuk jika mereka ingin bersekutu dengan sang seteru. Era SBY dan juga Jokowi telah pula ada presedennya.

Namun, kini alangkah elok jika para pendukung Prabowo-Sandi kompak dalam perahu persekutuannya semula: Gerindra, PKS, PAN, dan Demokrat. Koalisi ini memiliki 226 kursi (39%). Sementara itu, kubu Jokowi-Amin: PDIP, Golkar, NasDem, PPP, menguasai 349 kursi (61%).

Dengan kekuatan parlemen seperti itu, koalisi Indonesia Kerja cukup kuat di DPR. Oposisi masih bisa berfungsi sebagai check and balances. Jika Demokrat, PAN, terlebih Gerindra--karena hanya PKS yang tegas nyatakan oposisi--kekuatan pemerintah sangat gembrot (di atas 90%). Persekutuan obesitas seperti ini jelas tak sehat.

Seperti era SBY-Boediono, dengan 75% suara di parlemen, justru tak efektif. Dalam kasus Bank Century,  misalnya, partai koalisi seperti Golkar,  jadi 'pelantang' yang paling galak menyerang kabinet. Menteri Sri Mulyani pun harus hengkang. Pemerintahan seperti dikendalikan petinggi partai.

Kekhawatiran lain, pemerintahan yang kelewat kuat jadi 'janin' otoritarianisme. Celakalah demokrasi kita yang masih muda. Apa bedanya dengan era Soeharto? Apa yang dikatakan Lord Acton (1834-1902) bisa jadi benar. "Kekuasaan cenderung korup dan kekuasaan absolut merusak secara absolut."

Pemilu yang membelah memang mesti lekas disembuhkan. Namun, penyembuhan dengan obat berlebihan takaran bisa jadi penyakit baru. Kita mesti matang menimbang. Tak boleh reaktif, tapi selektif. Terlebih dalam menguatkan demokrasi.

Bangsa yang lewah dalam berbagai urusan kini memang tengah kita rasakan. Aksi perempuan labil membawa anjing ke masjid salah satu contohnya. Apa pun perempuan itu salah, tapi reaksi berlebihan dari banyak pihak, sungguh lewah. Memperkukuh demokrasi dengan merawat oposisi juga mesti tepat benar takarannya.***
 

 



Berita Lainnya
  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."