Minggu 01 Februari 2015, 00:00 WIB

Keturunan Indonesia Bantu Australia Juara

MI | Olahraga
Keturunan Indonesia Bantu Australia Juara

AFP/PETER PARKS

SEJAK bergabung dengan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) pada 2006, untuk pertama kalinya Australia menjadi juara Piala Asia. Kepastian itu didapat setelah di final, Australia menundukkan Korea Selatan 2-1 di Stadion Australia, Sydney, kemarin.

Kemenangan ini sekaligus menjadi pembalasan bagi Australia yang di fase penyisihan Grup A kalah 0-1 dari Korsel lewat gol tunggal Lee Jung-hyup menit ke-33. Tak hanya itu, ini juga menjadi pengobat kecewa setelah empat tahun lalu Australia harus puas jadi runner-up karena kalah 0-1 dari Jepang di babak perpanjangan waktu.

Adapun bagi Korsel yang pernah menjadi juara pada 1956 dan 1960, kembali harus rela menjadi runner-up untuk keempat kalinya, seperti pada 1972, 1980, 1988, dan 2015.

Dalam laga itu, Australia memimpin lebih dulu di menit ke-45 lewat gol dari Massimo Luongo. Korsel kemudian menyamakan kedudukan di menit-menit akhir babak kedua melalui Son Heungmin. James Troisi menjadi penentu kemenangan Australia lewat gol di menit ke-105 babak perpanjangan waktu.

Luongo yang menjadi pemain terbaik Piala Asia 2015 ini memiliki garis keturunan Indonesia dari sang ibu yang berasal dari Nusa Tenggara Barat. Pemain berusia 21 tahun itu bukanlah pemain dari klub yang berlaga di papan atas seperti Liga Primer ataupun di level dua Championship. Luongo hanyalah pemain yang terbuang dari Akademi Tottenham Hotspur ke klub League One (Kasta III), Swindon Town, dan kemudian dipermanenkan setelah dua musim menjalani masa pinjaman.

Pelatih Australia Ange Postecoglou gembira dengan pencapaian skuatnya. "Saat ini saya sulit berkata-kata. Saya bangga ke semua pihak. Saya tak bisa lebih gembira lagi. Keberanian pemain malam ini luar biasa," kata Postecoglou di news.com.au.

Australia sudah tiga kali berpartisipasi di pergelaran Piala Asia dengan memperlihatkan peningkatan. Setelah masuk perempat final pada 2007, mereka masuk final dan menjadi runner-up di 2011, sebelum akhirnya keluar sebagai juara tahun ini.

Sebaliknya, kekalahan ini membuat posisi Uli Stielike terancam. Amat mungkin pelatih asal Jerman itu akan didepak karena Korsel menargetkan juara setelah paceklik gelar selama 55 tahun. "Meski kami tidak memiliki piala (kalah), saya setuju pemain kami juara sejati dan mereka tetap akan ada di hati fan Korea Selatan," ujar Stielike.

"Setelah ini beberapa pemain akan kembali ke Seoul, ada juga yang ke Spanyol dan Jerman untuk bergabung dengan klub mereka. Sebagai pemain profesional itu bukan pekerjaan mudah bagi mereka." (Sat/R-1)

Baca Juga

Antara

Jelang Spain Masters, Wakil RI tak Mau Remehkan Lawan

👤Dero Iqbal Mahendra 🕔Jumat 14 Mei 2021, 17:37 WIB
Pelatnas PBSI menurunkan 15 wakil di Spain Masters Super 300. Rombongan berangkat ke Negeri Matador pada Sabtu (15/5) besok, dengan...
ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha

PSS Sleman Yakin Kompetisi akan dapat Bergulir

👤Dero Iqbal Mahendra 🕔Jumat 14 Mei 2021, 16:52 WIB
Marco menilai PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) juga telah bekerja keras untuk mewujudkan agar kompetisi dapat bergulir sesuai...
AFP/Kazuhiro NOGI

Petisi Menolak Olimpiade 2020 Diserahkan ke Pemkot Tokyo

👤Basuki Eka Purnama 🕔Jumat 14 Mei 2021, 12:45 WIB
Petisi daring yang berjudul 'Batalkan Olimpiade Tokyo untuk melindungi hidup kami' diluncurkan pada awal bulan ini oleh Kenji...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Toleransi tak Pernah Putus di Adonara

Bencana membuat masyarakat Adonara semakin rukun. Ramadan lebih mempersatukan mereka.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya