Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Angka Depresi Warga Jakarta Lebih Tinggi dari Nasional, Pemprov DKI Berdalih akibat Tekanan Kehidupan Nyata

Mohamad Farhan Zhuhri
24/11/2025 14:20
Angka Depresi Warga Jakarta Lebih Tinggi dari Nasional, Pemprov DKI Berdalih akibat Tekanan Kehidupan Nyata
ilustrasi.(MI)

STAFF Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Komunikasi Sosial, Chico Hakim merespons temuan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Adapun temuan itu terkait persentase warga Jakarta dengan usia di atas 15 tahun yang mengalami depresi lebih tinggi dibandingkan angka rata-rata nasional.

Chico tak menampik hal tersebut. Menurut dia, Jakarta menjadi kota dengan beban hidup warganya yang cukup tinggi. "Angka ini menjadi pengingat bagi kami bahwa tekanan kehidupan di ibu kota memang nyata, dan kami terus bekerja keras untuk menekan angka tersebut," kata Chico kepada wartawan, Senin (24/11).

Chico menjelaskan, pihaknya kini gencar  menjalankan sejumlah program pendampingan dan penanganan layanan psikologi masyarakat. Salah satunya adalah kanal JakCare, yang berupa ayanan konsultasi psikologis gratis 24 jam via telepon (0800-150-0119) dan aplikasi JAKI.

Selain itu, masih dilakukan skrining kesehatan jiwa gratis melalui Program cek kesehatan gratis (CKG) di puskesmas dan posyandu sudah menjangkau ratusan ribu warga. Kemudian, Dinas Kesehatan DKI Jakarta juga melakukan edukasi dan workshop kesehatan mental di sekolah-sekolah dan komunitas, serta penguatan tenaga psikolog klinis di puskesmas kecamatan.

"Kami terus tingkatkan akses dan kurangi stigma, karena Jakarta yang bahagia itu bukan cuma slogan, tapi juga ketika setiap warganya merasa didengar dan didukung," urai Chico.

Diketahui, Kementerian Kesehatan mencatat bahwa penduduk DKI Jakarta berusia di atas 15 tahun yang mengalami depresi mencapai 1,5%, sedikit lebih tinggi dibandingkan angka nasional yang berada di kisaran 1,4%.

Data ini diungkapkan dalam sebuah seminar daring yang menyoroti kondisi kesehatan jiwa masyarakat. Masalah kesehatan jiwa pada kelompok usia tersebut juga menempati posisi kedua dari sepuluh penyakit dengan jumlah kasus tertinggi.

Sementara itu, Jawa Barat tercatat sebagai provinsi dengan angka masalah kesehatan mental tertinggi, yakni 4,4%, melebihi rata-rata nasional sebesar 2%. Di Jakarta, prevalensi masalah kesehatan jiwa berada di angka 2,2% berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023.

Kemenkes menyoroti rendahnya akses pengobatan bagi masyarakat yang mengalami gangguan mental. Hanya sebagian kecil penderita kecemasan maupun depresi yang mencari bantuan profesional.

Rendahnya kesadaran terhadap gejala serta stigma negatif terkait kesehatan jiwa menjadi faktor utama yang menghambat masyarakat untuk datang ke psikolog atau psikiater. Stigma ini membuat banyak orang mengabaikan gejala awal, yang berpotensi menyebabkan kondisi semakin memburuk.

Padahal, penanganan sejak dini penting untuk mencegah depresi ringan berkembang menjadi gangguan yang lebih berat. (Far/P-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik