Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER spesialis anak dan konsultan gizi Yoga Devaera menyoroti pengaruh lingkungan dan kebiasaan dalam membentuk preferensi anak terhadap rasa manis.
Menurut Yoga, kesukaan anak terhadap rasa manis seringkali terbentuk sejak dini dan dapat terus berlanjut hingga dewasa jika tidak ditangani dengan tepat.
Baca juga : Cegah Peningkatan Penderita Diabetes, Konsumsi Gula Harus Diatur
“Sumber kalori yang sering disukai oleh anak-anak adalah yang manis. Namun, kesukaan ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Jika anak terbiasa dengan makanan atau minuman manis, kebiasaan tersebut dapat terbawa hingga dewasa,” jelas Yoga, yang juga merupakan dokter anak di RS UI.
Untuk membantu mengurangi konsumsi gula pada anak, Yoga memberikan beberapa langkah yang bisa diikuti secara bertahap.
“Jika sudah terlanjur, kita bisa mulai pelan-pelan. Pada anak-anak, pengurangan gula perlu dilakukan bertahap. Contohnya, jika biasanya mereka minum susu dengan dua sendok makan gula, kita bisa mulai menguranginya sedikit demi sedikit,” sarannya.
Baca juga : Masyarakat Diingatkan Kurangi Minuman Manis Agar Terhindar dari Diabetes
Yoga juga menekankan pentingnya strategi pengalihan secara bertahap. Misalnya, bagi anak yang terbiasa minum susu rasa stroberi atau cokelat, sebaiknya tidak langsung dialihkan ke susu putih.
“Anak mungkin tidak mau langsung beralih ke susu putih. Jadi, kita bisa mulai dengan mengganti wadahnya terlebih dahulu, seperti dari kotak ke gelas, tetapi tetap menggunakan susu yang sama. Setelah anak terbiasa, kita bisa mulai mencampur sedikit susu tanpa rasa, dan secara bertahap menambah proporsinya,” lanjutnya.
Proses ini, menurut Yoga, bisa memakan waktu cukup lama, bahkan hingga berbulan-bulan, namun penting untuk membentuk kebiasaan makan yang lebih sehat.
Baca juga : Punya Penyakit Kronis? Jauhi Makanan Minuman Manis
“Ini bukan proses 1-2 hari. Kadang-kadang membutuhkan waktu yang lama, tetapi ini bisa dilakukan. Anak yang terbiasa dengan makanan manis dapat dilatih untuk mengurangi keinginan terhadap rasa manis,” tambahnya.
Untuk orang dewasa, Yoga menjelaskan bahwa peralihan ke pola makan rendah gula bisa dilakukan lebih cepat, asalkan ada motivasi yang kuat.
“Bagi orang dewasa, perubahan bisa dilakukan lebih cepat, tergantung pada niat dan motivasi. Jika seseorang benar-benar ingin mengurangi konsumsi gula, mereka bisa melakukannya langsung,” katanya.
Ia menekankan bahwa pengurangan gula secara bertahap pada anak-anak sangat penting untuk membiasakan mereka dengan rasa yang kurang manis, guna mencegah perkembangan preferensi yang berlebihan terhadap makanan dan minuman tinggi gula di masa depan. (Z-10)
Konsumsi makanan dengan kadar gula maupun garam tinggi dapat menyebabkan kulit kehilangan hidrasi dan menjadi lebih kering.
Makanan manis sederhana dapat memicu fluktuasi gula darah yang tidak stabil. Dampaknya, rasa lapar akan muncul lebih cepat saat sedang menjalankan ibadah puasa di siang hari.
Tubuh membutuhkan gula dalam jumlah cukup, tetapi konsumsi berlebihan bisa meningkatkan risiko obesitas, diabetes, dan penyakit jantung.
Asupan gula berlebih bukan sekadar masalah kalori, melainkan ancaman bagi metabolisme anak yang masih dalam tahap perkembangan.
Kandungan gula yang disamarkan ini sering ditemukan pada jenis makanan ultraprocessed food (UPF).
Gula dapat merangsang pelepasan serotonin dan endorfin di otak, yaitu zat kimia yang membuat perasaan lebih nyaman dan bahagia.
Persepsi ini lahir dari cara pandang lama yang mengabaikan prinsip gizi seimbang. Padahal ukuran kesehatan tidak bisa hanya dilihat dari tampilan fisik semata.
Paparan gawai pada fase krusial pertumbuhan (usia 5 hingga 15 tahun) berisiko memicu gangguan tumbuh kembang yang menetap hingga dewasa.
Skrining pendengaran pada anak sejak dini menjadi kunci vital dalam menjaga kualitas hidup dan fungsi komunikasi buah hati.
Fungsi pendengaran memiliki kaitan erat dengan kemampuan bicara anak.
Orangtua diimbau untuk tidak membawa anak ke tempat yang terlalu padat guna meminimalisir risiko infeksi.
Kunci utama keberhasilan aturan pembatasan gawai bukan hanya pada larangan, melainkan pada keteladanan orangtua sebagai role model.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved