Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER spesialis anak dan konsultan gizi Yoga Devaera menyoroti pengaruh lingkungan dan kebiasaan dalam membentuk preferensi anak terhadap rasa manis.
Menurut Yoga, kesukaan anak terhadap rasa manis seringkali terbentuk sejak dini dan dapat terus berlanjut hingga dewasa jika tidak ditangani dengan tepat.
Baca juga : Cegah Peningkatan Penderita Diabetes, Konsumsi Gula Harus Diatur
“Sumber kalori yang sering disukai oleh anak-anak adalah yang manis. Namun, kesukaan ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Jika anak terbiasa dengan makanan atau minuman manis, kebiasaan tersebut dapat terbawa hingga dewasa,” jelas Yoga, yang juga merupakan dokter anak di RS UI.
Untuk membantu mengurangi konsumsi gula pada anak, Yoga memberikan beberapa langkah yang bisa diikuti secara bertahap.
“Jika sudah terlanjur, kita bisa mulai pelan-pelan. Pada anak-anak, pengurangan gula perlu dilakukan bertahap. Contohnya, jika biasanya mereka minum susu dengan dua sendok makan gula, kita bisa mulai menguranginya sedikit demi sedikit,” sarannya.
Baca juga : Masyarakat Diingatkan Kurangi Minuman Manis Agar Terhindar dari Diabetes
Yoga juga menekankan pentingnya strategi pengalihan secara bertahap. Misalnya, bagi anak yang terbiasa minum susu rasa stroberi atau cokelat, sebaiknya tidak langsung dialihkan ke susu putih.
“Anak mungkin tidak mau langsung beralih ke susu putih. Jadi, kita bisa mulai dengan mengganti wadahnya terlebih dahulu, seperti dari kotak ke gelas, tetapi tetap menggunakan susu yang sama. Setelah anak terbiasa, kita bisa mulai mencampur sedikit susu tanpa rasa, dan secara bertahap menambah proporsinya,” lanjutnya.
Proses ini, menurut Yoga, bisa memakan waktu cukup lama, bahkan hingga berbulan-bulan, namun penting untuk membentuk kebiasaan makan yang lebih sehat.
Baca juga : Punya Penyakit Kronis? Jauhi Makanan Minuman Manis
“Ini bukan proses 1-2 hari. Kadang-kadang membutuhkan waktu yang lama, tetapi ini bisa dilakukan. Anak yang terbiasa dengan makanan manis dapat dilatih untuk mengurangi keinginan terhadap rasa manis,” tambahnya.
Untuk orang dewasa, Yoga menjelaskan bahwa peralihan ke pola makan rendah gula bisa dilakukan lebih cepat, asalkan ada motivasi yang kuat.
“Bagi orang dewasa, perubahan bisa dilakukan lebih cepat, tergantung pada niat dan motivasi. Jika seseorang benar-benar ingin mengurangi konsumsi gula, mereka bisa melakukannya langsung,” katanya.
Ia menekankan bahwa pengurangan gula secara bertahap pada anak-anak sangat penting untuk membiasakan mereka dengan rasa yang kurang manis, guna mencegah perkembangan preferensi yang berlebihan terhadap makanan dan minuman tinggi gula di masa depan. (Z-10)
Asupan gula berlebih bukan sekadar masalah kalori, melainkan ancaman bagi metabolisme anak yang masih dalam tahap perkembangan.
Kandungan gula yang disamarkan ini sering ditemukan pada jenis makanan ultraprocessed food (UPF).
Gula dapat merangsang pelepasan serotonin dan endorfin di otak, yaitu zat kimia yang membuat perasaan lebih nyaman dan bahagia.
Serangan jantung kerap dikaitkan dengan kebiasaan merokok, jarang berolahraga, atau pola makan yang buruk.
Menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025, pemerintah memastikan pasokan gula konsumsi berada pada level aman.
Gula dapat ditemukan secara alami pada makanan seperti buah, sayur, dan susu, maupun ditambahkan ke berbagai produk olahan sebagai gula tambahan.
Mengingat usia buah hatinya yang masih sangat kecil, Nikita Willy lebih fokus pada pengenalan suasana dan nilai-nilai spiritual ketimbang praktik fisik berpuasa.
Kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan isu sektoral semata, melainkan persoalan kebangsaan yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Kasus gangguan jiwa anak dan remaja di Jawa Barat meningkat. RSJ Cisarua mencatat kunjungan naik hingga 30 pasien per hari, depresi jadi kasus dominan.
Edukasi seksual tidak perlu menunggu anak dewasa. Sebaliknya, langkah perlindungan ini justru harus dimulai sejak usia dini untuk membentengi anak dari pelecehan seksual.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved