Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Himpunan Obstetri dan Ginekologi Sosial Indonesia (HOGSI)-POGI, Prof Dwiana Ocviyanti menyoroti kondisi kesehatan ibu hamil yang buruk seperti kegemukan, tuberkulosis (TBC), hingga anemia menjadi pemicu kelahiran prematur.
"Tiga puluh persen hampir bayi di Indonesia itu lahirnya prematur, karena ibu Indonesia itu enggak sehat. Kita sudah punya data bahwa hampir 50% ibu Indonesia itu kalau enggak kegendutan, kekurusan, TBC, hingga anemia," tutur Dwiana, dikutip Jumat (8/8).
Prof Dwiana, dalam diskusi kesehatan, menyampaikan bahwa berdasarkan penelitian menunjukkan ibu-ibu di Indonesia lebih dari 30%-40% anemia yang berdampak pada lemahnya imunitas tubuh.
Kemudian risiko kelahiran prematur juga dipicu permasalahan kesehatan ibu hamil mengalami kekurangan energi kronik (kurus) maupun kegemukan (obesitas).
"Ibu hamil di Indonesia ini 17%-18% kurang energi kronik alias kurus. Kemudian 20% ibu Indonesia itu kegemukan, itu berisiko untuk preeklampsia tekanan darahnya naik akibatnya dia terpaksa melahirkan bayi yang kecil di dalam kandungan atau prematur," tutur dia.
Dwiana menambahkan bahwa bayi yang lahirnya kecil dengan berat badan rendah (low birth weight) karena usia kehamilannya belum cukup atau prematur hingga tidak mendapatkan gizi yang cukup dari ibunya selama
dalam kandungan berisiko menyebabkan terjadinya stunting pada anak.
Dokter yang juga dosen di Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSCM itu menekankan pentingnya kondisi kesehatan ibu selama masa kehamilan, sebab bila kondisi ibu tidak sehat tidak mungkin bisa melahirkan dan menyusui bayi secara optimal.
"Karena itulah kita berjuang supaya ibu-ibu sehat. Kita tahu bahwa air susu ibu itu yang paling baiklah untuk membuat ibu itu bisa menjaga
bayinya sehat," pungkas dia. (Ant/Z-1)
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Obesitas berkontribusi pada munculnya peradangan kronis (inflammaging) yang mempercepat kerusakan molekuler dan mengurangi kemampuan regenerasi sel.
Kurang tidur, tekanan sekolah, stres di rumah, tekanan teman sebaya dan intimidasi adalah beberapa dari stres utama yang sering dialami remaja.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved