Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
TREN kasus Penyakit Tidak Menular (PTM) dan penyakit kronis seperti obesitas, diabetes dan gagal ginjal pada anak semakin tinggi, seiring dengan pola konsumsi instan yang mudah didapatkan di pasaran. Hal itu disebabkan oleh pola konsumsi dengan gizi yang tidak seimbang dan berlebihan sejak usia dini.
Dokter Tan Shot Yen menyampaikan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 yang menunjukan 51.4 persen anak berusia 3-4 tahun mengonsumsi minuman manis lebih dari satu kali sehari.
“Kita juga perlu mengenal gula tersembunyi. Di kemasan biasanya diakhiri dengan “ol” seperti manitol, sorbitol, xylitol, hingga istilah lain. Selain itu, sirup jagung atau high fructose corn syrup yang sebagian orang kira harusnya sehat karena terbuat dari jagung, sebenarnya adalah olahan pabrik. Karena jika mau sehat makan jagung asli, bukan sirupnya,” kata Tan.
Baca juga : Pakar: Atasi Penyakit Jantung dengan Preventif, bukan Kuratif
Menurut Tan, jumlah tersebut sangat meresahkan karena gula bukan hanya menyebabkan diabetes, akan tetapi bisa menekan daya tubuh yang dapat meningkatkan infeksi akibat bakteri, virus dan jamur. Selain itu, gula juga dapat menyebabkan peningkatan kasus alergi, memperburuk penglihatan, mempermudah sakit kepala, hingga menyebabkan depresi.
“Selain gula, garam dan lemak dalam makanan anak juga perlu menjadi perhatian. Saya mengimbau untuk mengonsumsi garam dan lemak dari sumber alami, seperti garam dari sayuran dan ikan atau lemak tak jenuh dari ikan laut, kuning telur, kacang-kacangan dan alpukat,” jelasnya.
Sementara itu, Asisten Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak Atas Pendidikan dan Kesehatan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Amurwani Dwi Lestariningsih mengajak orang tua untuk memahami pentingnya pemberian gizi yang sehat khususnya dalam mengonsumsi gula, garam dan lemak.
Baca juga : Batasi Gula, Garam, dan Lemak (GGL), Langkah Penting Cegah Diabetes
“Anak-anak terancam penyakit kronis, padahal biasanya penyakit seperti ini dialami orang yang sudah lansia. Hal ini tentunya akan berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak di masa depan, sehingga kasus-kasus seperti ini perlu mendapat perhatian,” katanya kepada Media Indonesia di Jakarta beberapa waktu lalu.
Berdasarkan data Ikatan Dokter Indonesia (IDI) per tanggal 31 Januari 2023, terdapat kenaikan prevalensi kasus diabetes pada anak sampai dengan 70 kali lipat. Sementara itu, menurut data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menunjukkan prevalensi kegemukan dan obesitas pada anak usia 5-12 tahun mencapai angka sekitar 19,7 persen.
”upaya pemberian gizi yang baik pada anak adalah salah satu bentuk pemenuhan hak anak atas kesehatan yang perlu diupayakan bersama baik oleh orang tua, pemerintah, tenaga kesehatan, dunia usaha dan media massa,” ujar Amurwani.
Baca juga : Pemerintah Terbitkan PP Atur Kandungan Gula dan Garam di Pangan
Lebih lanjut, Amurwani menyampaikan pemenuhan kesehatan anak merupakan hal yang penting, jangan sampai anak tidak mendapatkan haknya untuk memperoleh makanan yang bergizi. Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan Wahana Visi Indonesia (WVI) pada tahun 2023, sebanyak 32 persen anak tidak sarapan sebelum berangkat ke sekolah.
“Pola asuh menjadi sangat penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi anak. Contohnya ketika pergi ke sekolah anak hanya diberikan uang saku, dan mereka memilih makanan tidak sehat yang asal kenyang saja,” imbuhnya.
Oleh sebab itu, orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam memahami pola konsumsi yang sehat, sampai memberikan makanan yang bergizi pada anak.
Baca juga : Reformulasi Makanan dan Minuman untuk cegah Tinggi GGL
“Sehingga anak-anak hanya jajan saja, padahal jajanan di sekolah mengandung banyak gula, garam, dan lemak yang menyebabkan risiko penyakit kronis jika sering dikonsumsi,” katanya.
Amurwani menyampaikan pemerintah telah mendorong upaya pemenuhan gizi seimbang melalui ditetapkannya Undang-undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, dan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 tentang Peraturan Pelaksananya yang membahas tentang pengendalian konsumsi gula, garam dan lemak.
“Pemerintah telah mengupayakan banyak program pencegahan PTM untuk melindungi anak-anak Indonesia. Karena perlindungan terbaik yang diharapkan itu adalah mencegah anak-anak terkena PTM. Program tersebut diantaranya edukasi, mendorong pelayanan kesehatan anak di puskesmas, termasuk mendorong puskesmas memberikan advokasi ke keluarga dan masyarakat sekitarnya,” jelasnya.
Melalui program tersebut, pemerintah mulai memberikan bimbingan ke masyarakat, edukasi ke warung yang menjajakan makanan, serta membina sekolah-sekolah untuk mengupayakan satuan pendidikan ramah anak yang bebas dari asap rokok dan memiliki kantin sehat. (H-2)
Harga garam di tingkat petani melonjak dari sebelumnya Rp1.200 per kilogram meningkat menjadi Rp2.600 per kilogram.
Kontribusi Jatim belum berbanding lurus dengan kesejahteraan petambak dan pembudidaya. Ketiadaan HPP untuk garam dan ikan membuat harga sangat fluktuatif.
Garam memiliki potensi nilai tambah yang jauh lebih besar dari sekadar bahan konsumsi rumah tangga. Garam dapat dikembangkan jadi bahan baku kosmetika, farmasi, industri, dan baterai.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menegaskan bahwa pemerintah tidak akan membuka keran impor untuk sejumlah komoditas strategis, beras, jagung, gula konsumsi, dan garam.
Dokter jelaskan alasan bayi di bawah 1 tahun tak boleh diberi garam, gula, atau madu. Simak penjelasan medis dan pilihan makanan aman.
Ia menekankan pentingnya kombinasi antara investasi teknologi, pembangunan infrastruktur, regulasi yang berpihak pada petambak.
“Cakupannya yang tahun lalu dilakukan di puskesmas dan sekolah, tahun ini kita mau lakukan di tempat kerja. Termasuk DPR RI,”
Food Policy Fellowship 2025 yang diselenggarakan oleh Pijar Foundation bekerja sama dengan Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan, resmi ditutup.
Jakarta membutuhkan langkah terstruktur untuk menekan peningkatan obesitas dan diabetes.
Para ahli kesehatan, termasuk Kementerian Kesehatan RI, secara tegas memperingatkan bahwa kurangnya gerakan merupakan pintu gerbang menuju penyakit tidak menular (PTM)
Obesitas dan diabetes, dua penyakit kardiovaskular yang semakin meningkat di Indonesia, tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga menimbulkan beban sosial dan ekonomi.
Fakta terungkap dari data kesehatan terbaru di Provinsi Sulawesi Barat, hipertensi, yang kerap dianggap sebagai penyakit orang dewasa, kini mulai mengancam generasi muda Sulawesi Barat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved