Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
PRODUKSI garam di sejumlah daerah di Pantura Jawa Tengah merosot tajam akibat cuaca dengan intensitas hujan tinggi, harga garam melonjak 100 persen lebih namun sehingga menguntungkan para pemilik gudang yang memiliki stok cukup banyak.
Pemantauan Media Indonesia Senin (15/12) sejumlah daerah pemroduksi garam rakyat di Pantura Jawa Tengah seperti Jepara, Pati dan Rembang merasakan dampak kondisi intensitas hujan yang tinggi, para petani garam tidak dapat mengolah garam akibat kurangnya terik matahari dan berlimpahnya air tawar di saluran je tambak hingga produksi garam menurun.
Menurunnya produksi garam di sejumlah daerah di Pantura Jawa Tengah tersebut, mengakibatkan harga garam (krosok) di tingkat petani melonjak hingga lebih dari 100 persen, namun petani garam tidak dapat menikmati karena tidak banyak hasil produksi yang dapat diperoleh di musim penghujan ini.
"Akibat hujan terus mengguyur ini, saya istirahat menggarap ladang, karena selain terik matahari sangat kurang, air laut yang dialirkan ke ladang garam banyak bercampur dengan air tawar," kata Hidayat,50, seorang petani garam di Batangan, Kabupaten Pati.
Hal serupa juga diungkapkan Wiyarso,45, petani garam di Lasem, Kabupaten Rembang bahwa akibat intensitas hujan yang tinggi mengakibatkan petani berhenti berproduksi sejak November lalu, bahkan ada Desember produksi garam semakin berkurang. "Sejak November berhenti tidakvada produksi, air laut yang masuk ke ladang tidak dapat mengkristal," tambahnya.
Akibat berkurang produksi garam ini, ungkap Nasir,60, di Kedung, Kabupaten Jepara harga garam krosok melonjak tajam, tetapi tidak dapat dinikmati petani karena tidak ada produksi November lalu, bahkan stok garam di tingkat petani yang dihasilkan bulan-bulan sebelumnya juga sudah kosong. "Yang untung besar dengan harga tinggi adalah pemilik gudang dengan stok masih banyak," ungkapnya.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati Hadi Santoso mengatakan produksi garam petani di daerah ini merosot tajam akibat tingginya intensitas hujan sejak November lalu, sehingga harga garam di tingkat petani melonjak dari sebelumnya Rp1.200 per kilogram meningkat menjadi Rp2.600 per kilogram.
Merosotnya produksi garam petani, menurut Hadi Santoso, menjadi penyebab utama melonjaknya harga garam saat ini, berdasarkan data hingga November lalu jumlah produksi garam di Kabupaten Pati hanya 93 ribu ton atau menurun dratis jika dibandingkan pada tahun 2024 lalu yang mencapai 324 ribu ton.
"Jumlah area tambak garam juga berkurang, karena banyak petani garam di Pati memilih mengubah ladang garamnya menjadi tambak ikan akibat tidak dapat mengolah garam," kata Hadi Santoso.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dinlutkan) Kabupaten Rembang M. Sofyan Cholid juga mengungkap penurunan produksi garam mengalami penurunan akibat kemarau basah yang berlangsung saat ini, sehingga harga garam melonjak di tingkat petani dan keuntungan diperoleh cukup besar okeh pemilik gudang yang masih mempunyai stok besar.
"Saat ini kita fokus meningkatkan kualitas garam dengan menggunakan metode geomembran dan cara tradisional, sehingga saat produksi kembali meningkat petani garam sudah mempunyai ketrampilan dan kemampuan memproduksi garam bagus," ujarnya. (H-2)
PRODUKSI garam di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, terhambat faktor cuaca. Padahal harga garam saat ini dihargai cukup tinggi.
PRODUKSI garam di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, terhambat faktor cuaca. Padahal harga garam saat ini dihargai cukup tinggi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved