Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA periode 10 bulan dari April 2020 hingga September 2021, komplikasi penyakit terkait alkohol di kalangan perempuan paruh baya meningkat sebesar 33%-56% dibandingkan sebelum pandemi, menurut sebuah studi baru.
Penulis pertama Dr. Bryant Shuey, asisten profesor kedokteran di Universitas Pittsburgh, mengatakan konsumsi alkohol di kalangan perempuan meningkat dibandingkan pria selama dekade terakhir, terutama selama pandemi.
Peningkatan konsumsi alkohol kemungkinan besar dapat menyebabkan penyakit hati parah yang berhubungan dengan alkohol, gangguan mood, masalah penarikan alkohol, dan masalah jantung dan lambung yang ditemukan dalam penelitian ini.
Baca juga : Perempuan dengan Berat Badan Normal Juga Bisa Alami SOPK
Penelitian menunjukkan tingkat konsumsi lima minuman atau lebih berturut-turut di kalangan perempuan berusia 35-50 tahun telah meningkat dua kali lebih cepat dibandingkan pria selama dekade terakhir. Tren ini tampaknya memburuk selama pandemi.
Hari-hari minum alkohol dalam jumlah banyak di kalangan perempuan meningkat sebesar 41% dengan jumlah perempuan berusia 40-64 tahun dirawat di rumah sakit akibat penyalahgunaan alkohol.
Sementara itu, pakar kecanduan Dr Scott Hadland, profesor pediatri di Massachusetts General for Children dan Harvard Medical School, mengatakan kejadian komplikasi terkait alkohol yang biasanya terjadi membutuhkan waktu selama beberapa tahun tiba-tiba meningkat secara signifikan setelah adanya covid-19.
Baca juga : BRIN Pastikan Riset Covid-19 Tetap Berjalan
Penelitian tersebut, yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Health Forum, menganalisis klaim dari database asuransi untuk orang berusia 15 tahun ke atas untuk menentukan jumlah kunjungan ke ruang gawat darurat dan rawat inap karena penyalahgunaan alkohol selama pandemi.
Dari diagnosis tersebut, antara 54%- 66% disebabkan komplikasi penyakit hati alkohol, seperti sirosis. Penarikan alkohol dan gangguan mood terkait alkohol menyumbang 29%-39% dari kunjungan.
Studi ini menemukan proporsi rawat inap terkait alkohol yang jauh lebih kecil disebabkan kardiomiopati atau aritmia jantung, 3%-5%, dan 1%-3% disebabkan pendarahan lambung akibat penyalahgunaan alkohol.
Baca juga : Golongan Darah A Paling Berisiko Terpapar Covid-19
Meskipun penelitian ini tidak dapat menentukan sebab dan akibat, salah satu penjelasan atas peningkatan ini adalah bahwa perempuan sudah mempunyai masalah alkohol sebelum pandemi. Oleh karena itu, kondisi ini menjadi kritis di masa pandemi dan semakin memperburuk kondisi.
Untuk efek negatif alkohol, perempuan lebih rentan terhadap efek negatif alkohol karena beberapa alasan. Tubuhnya memiliki kadar alkohol dehidrogenase yang rendah, suatu enzim yang dibutuhkan untuk memecah alkohol. Selain itu, tubuh perempuan memiliki sedikit lebih banyak lemak dan lebih sedikit air dibandingkan pria.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di AS, perempuan mempunyai risiko lebih tinggi terkena kerusakan hati dan sirosis akibat penyalahgunaan alkohol serta penyakit jantung dapat terjadi jika mereka mengonsumsi lebih sedikit alkohol dan minum dalam jangka waktu yang lebih singkat dibandingkan laki-laki.
Selain itu, CDC mencatat bahwa penurunan kognitif dan penyusutan otak akibat alkohol terjadi lebih cepat pada wanita dibandingkan pada pria. Perbedaan besar lainnya antara pria dan wanita adalah bagi wanita, konsumsi alkohol juga dikaitkan dengan kanker payudara, bahkan pada tingkat konsumsi yang rendah.
Baca juga : Wow, Kecombrang dan Daun Jambu Mete Hambat Replikasi Virus Korona
Jadi bagaimana Anda tahu jika penggunaan alkohol Anda telah beralih kedampak negatif?
Menurut Dr. Ibrahim Karaye, asisten profesor kesehatan populasi di Hofstra University di Hempstead, New York, salah satu tanda dampak negatif dari minuman keras berupa perubahan perilaku seperti peningkatan konsumsi, perubahan suasana hati dan pengabaian tugas.
Tanda lainnya yaitu berdampak negatif pada kesehatan fisik atau mental Anda. Ini mungkin termasuk kesulitan bangun di pagi hari atau sering berselisih paham dengan rekan kerja atau orang yang dicintai.
Sementara itu, pedoman diet saat ini menyerukan standar minuman per hari untuk pria tidak lebuh dari dua minuman, dan satu minuman untuk wanita dan orang berusia di atas 65 tahun. Namun, banyak orang meminum beberapa minuman lebih dari satu standar minuman, yaitu 12 ons bir biasa, 5 ons anggur biasa, atau 1 ½ ons minuman keras. (CNN/Z-3)
Bahayanya mengonsumi minuman beralkohol bisa mengubah fungsi sistem saraf, menurunkan kesadaran, mengganggu koordinasi, berisiko menyebabkan kecanduan
Bea Cukai Batam berhasil menggagalkan dua upaya penyelundupan dalam satu hari, yakni narkotika seberat sekitar 475 gram dan 96 botol minuman beralkohol ilegal tanpa pita cukai.
BEA Cukai melalui Kantor Wilayah (Kanwil) Bea Cukai Sumatera Utara (Sumut) dan Bea Cukai Teluk Nibung dan Polda Sumatera Utara mengamankan 73 botol minuman beralkohol tak berizin.
Minuman ini bisa menyebabkan efek memabukkan, menenangkan, atau mengubah kesadaran, tergantung jumlah yang dikonsumsi.
Bea Cukai Pasuruan memusnahkan lebih dari 8 juta batang rokok ilegal, tembakau iris, dan minuman beralkohol senilai Rp11,3 miliar.
Alkohol dalam minuman ini bersifat psikoaktif, yang dapat memengaruhi sistem saraf dan memberikan efek relaksasi, tetapi juga dapat memabukkan jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan.
Penelitian ini menawarkan rekomendasi yang dinilai dapat memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi tantangan keamanan regional.
Para ilmuan menemukan bahwa bagian otak yang awalnya dianggap hanya memproses penglihatan ternyata dapat memicu gema sensasi sentuhan.
Resiliensi petani merupakan syarat penting jika pengelolaan usaha kelapa di provinsi tersebut ingin berkelanjutan.
Hasil penelitian menemukan persoalan kental manis bukan hanya perihal ekonomi, tetapi juga regulasi yang terlalu longgar.
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI menilai Kitab Fikih Zakat karya Dr. Nawawi Yahya Abdul Razak Majene sangat relevan bagi pengelolaan zakat di era modern.
Efikasi masyarakat dan norma kelompok terbukti lebih berpengaruh terhadap partisipasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dibandingkan pendekatan berbasis rasa takut.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved