Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
SEJAK virus korona baru mewabah, banyak faktor dikaitkan dengan risiko tinggi infeksi covid-19. Termasuk kondisi medis yang sudah ada sebelumnya, obesitas, dan usia tua.
Sejumlah penelitian menemukan bahwa golongan darah juga dapat menentukan risiko kontraksi dan komplikasi organ akibat covid-19.
Studi di Kanada yang diterbitkan dalam Blood Advances menyimpulkan bahwa golongan darah A memiliki risiko lebih tinggi tertular covid-19 dibandingkan golongan darah lainnya.
Studi ini mengevaluasi data yang melibatkan 95 pasien dengan infeksi covid-19 parah. Dari 95 orang, rupanya 84% didapati memiliki golongan darah A dan membutuhkan ventilasi mekanis. Kemudian, 61% dari kelompok dengan golongan darah O dan B membutuhkan perawatan serupa.
Studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal medis Nature mendukung kesimpulan itu. Hasil evaluasi 14.000 orang di sistem rumah sakit Presbyterian New York, Amerika Serikat, menemukan bahwa orang selain golongan darah O-positif berisiko lebih tinggi tertular virus korona.
Demikian juga dengan studi yang diterbitkan pada jurnal Blood Advances meneliti 473.000 orang yang dites positif covid-19 dan sekelompok lebih dari 2,2 juta orang. Dari situ ditemukan bahwa golongan darah O memiliki risiko kontraksi covid-19 dan komplikasi organ yang lebih rendah.
Setahun lalu, temuan yang sama juga dikemukakan oleh ilmuwan Tiongkok. Dikutip Dailymail, peneliti medis di Tiongkok mengambil pola golongan darah lebih dari 2.000 pasien yang terinfeksi virus di Wuhan dan Shenzhen, kemudian membandingkannya dengan lebih dari 3.000 populasi sehat di wilayah yang sama. Hasilnya, orang dengan golongan darah A menunjukkan tingkat infeksi yang lebih tinggi dan cenderung mengalami gejala covid-19 yang lebih parah.
Mengapa ini bisa terjadi? Para ahli menyebut bahwa golongan darah yang berbeda memiliki dampak yang berbeda pula pada sistem peredaran darah dan mengubah cara darah membeku di dalam tubuh.
Direktur Penelitian di Inserm, sebuah badan penelitian medis Prancis, Jacques Le Pendu, mengungkapkan, individu dengan golongan darah O memiliki risiko lebih rendah untuk mengembangkan pembekuan, yang cenderung memiliki efek serius pada tingkat keparahan dan risiko covid-19. (Medcom.id/H-2)
Saat ini setiap tahunnya hanya sekitar 1 juta dari 9 juta lebih siswa SMA yang lulus berhasil masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN).
Fokus diskusi mencakup berbagai disiplin ilmu, mulai dari AI, Internet of Things (IoT), smart mobility, digitalisasi rantai pasok, hingga pengembangan keterampilan masa depan.
Prestasi ini menegaskan komitmen Pertamina dalam mendorong budaya inovasi yang berkelanjutan, memperkuat riset terapan, serta menghadirkan solusi teknologi.
Penderita Restless Legs Syndrome (RLS) memiliki risiko lebih tinggi terkena Parkinson dibandingkan orang yang tidak mengalami gangguan tersebut.
Riset ini bertujuan memberikan panduan bagi elit politik sekaligus edukasi bagi masyarakat mengenai kompetensi pemimpin yang benar-benar dibutuhkan di Indonesia.
Kepemimpinan transformasional kepala sekolah, budaya hijau sekolah, dan motivasi intrinsik siswa memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku ramah lingkungan.
SEBUAH penemuan luar biasa datang dari tim peneliti Rusia yang berhasil menghidupkan kembali tanaman berbunga asal Siberia, Silene stenophylla, dari biji yang telah terkubur 32 ribu tahun.
Ruang lingkup kerja sama antara lain mencakup pelaksanaan penelitian bersama dalam bidang lingkungan hidup dan transisi energi serta program pemagangan bagi mahasiswa Teknik Lingkungan ITY.
Reaksi emosional selama ini kerap dianggap persoalan selera pribadi, dipengaruhi oleh DNA masing-masing individu merespons karya seni.
Para ilmuwan dari Johns Hopkins University, Amerika Serikat, berhasil mendemonstrasikan bahwa kera besar memiliki kapasitas kognitif untuk "bermain pura-pura" (play pretend).
STUDI dari Spanyol melakukan sebuah penelitian untuk mencoba membantu diagnosis penyakit Alzheimer pada usia 50 tahun. Percobaan itu dilakukan dengan melakukan tes darah.
AHLI biologi dari Hebei University, Tiongkok, Ming Li bersama rekan-rekannya melakukan penelitian dan menemukan bahwa rambut bisa mendeteksi Parkinson
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved