Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PAKAR obstetri dan ginekologi dari Universitas Indonesia Gita Pratama mengungkapkan sindrom ovarium polikistik (SOPK) bisa dialami perempuan dengan berat badan normal tetapi perjalanan penyakitnya berbeda dengan perempuan yang obesitas.
Hal itu dia sampaikan dalam disertasi berjudul Hubungan Kadar Kisspeptin, Neurokinin B, dan Dinorfin terhadap Rasio LH/FSH serta Polimorfisme dan Metilasi DNA Gen KISS1 pada Pasien Sindrom Ovarium Polikistik Nir-obese, yang disampaikan saat sidang Promosi Doktor Program Doktor Ilmu Kedokteran FKUI, Senin (17/7).
Untuk sampai pada temuan tersebut, Gita mempelajari 120 perempuan berusia 18 hingga 35 tahun yang terdiagnosis SPOK di Klinik Yasmin RS dr Cipto Mangunkusumo Kencana dengan indeks massa tubuh kurang dari 25 kg/m2.
Baca juga : Kesenjangan Upaya Pencegahan dan Pengobatan Kanker Harus segera Diatasi
Para partisipan studi menjalani serangkaian tes seperti pemeriksaan fisik, USG, dan pemeriksaan darah untuk melihat berbagai parameter hormonal dan metabolik.
Mereka juga menjalani pemeriksaan khusus untuk melihat polimorfisme dan mekanisme epigenetik (metilasi DNA) gen KISS1 di klaster Human Reproduction, Infertility, and Family Planning (HRIFP) Indonesian Medical Education and Research Institute (IMERI) Universitas Indonesia.
SOPK merupakan kelainan endokrin (hormon) yang memengaruhi 5%-20% perempuan usia reproduksi. SOPK ditandai dengan adanya gangguan haid, peningkatan hormon androgen, serta infertilitas.
Baca juga : Ini Penyebab Masalah Tiroid Lebih Sering Dialami Perempuan
Jika tidak ditangani secara tepat, dalam jangka panjang, SOPK akan meningkatkan risiko penyakit diabetes tipe-2, sindrom metabolik, serta peningkatan angka kejadian kanker endometrium (dinding rahim).
Salah satu penemuan penelitian terdahulu memperlihatkan obesitas sebagai salah satu faktor risikonya.
"Meskipun obesitas salah satu faktor risiko yang kerap terjadi, lewat penelitian ini ditunjukkan 20%-50% perempuan dengan SOPK mempunyai berat badan yang sebenarnya normal (nir-obese)," kata Gita.
Baca juga : Penyintas HPV-DNA Positif Dipastikan Masih Bisa Hamil
Merujuk pada penelitian, Gita memperkirakan proses perjalanan penyakit perempuan yang obesitas dan berat badan normal berbeda.
Hormon yang memengaruhi sistem reproduksi perempuan yaitu luteinizing hormone (LH), yang berasal dari kelenjar hipofisis di otak, secara signifikan lebih tinggi pada perempuan dengan berat badan normal yang mengalami SOPK dibandingkan perempuan obesitas.
LH memicu ovulasi atau pelepasan sel telur dan ovarium. Peningkatan LH yang maksimal memicu ovulasi.
Baca juga : Waspada, Laki-Laki Juga Berisiko Terkena Kanker Payudara
"Hal tersebut menunjukkan gangguan hormonal pada otak (neuroendokrin) mungkin merupakan mekanisme terpenting pada pasien SOPK dengan berat badan normal," tuturnya.
Pada penelitian itu, dia juga menemukan dua mekanisme yang mungkin menyebabkan peningkatan rasio LH/FSH pada pasien SOPK yang berat badannya normal.
Dua mekanisme itu berupa penurunan dinorfin yang diperkirakan akan memengaruhi peningkatan GnRH secara langsung di otak dan peningkatan kadar anti-Mullerian hormone (AMH) yang selain secara langsung menyebabkan terhentinya pertumbuhan telur akibat penurunan enzim aromatase, juga secara langsung memengaruhi peningkatan GnRH.
Baca juga : Menteri PPPA Beri Edukasi Soal Kesehatan Jantung
"Dengan demikian, kedua hormon ini diperkirakan merupakan kunci perkembangan penyakit pada pasien SOPK nir-obese," kata Gita.
Penelitian menunjukkan pasien SOPK obesitas mengalami perbaikan gejala dengan melakukan modifikasi gaya hidup, khususnya diet dan olahraga.
Sementara pasien SOPK dengan berat badan normal lebih terkait dengan gangguan hormonal. Oleh karenanya, perbaikan gaya hidup belum bisa memberikan perubahan gejala signifikan.
Baca juga : Kadar Hormon Stres di Rambut Ternyata Bisa Prediksi Penyakit Jantung
Dia mengatakan, penemuan ini akan menjadi awal bagi pengembangan tatalaksana pada pasien SOPK, khususnya perempuan dengan berat badan normal berdasarkan kelainan yang mendasarinya, bukan hanya bersifat simtomatis atau mengobati gejala saja.
"Temuan inilah yang memicu kami untuk membuat penelitian yang dapat lebih memahami proses terjadinya penyakit (patogenesis) SOPK, khususnya pada pasien nir-obese (normal) sehingga diharapkan dapat mengembangkan tatalaksana yang tepat di kemudian hari," pungkas Gita. (Ant/Z-1)
Baca juga : Bayer Fokus Teliti Onkologi, Kardiovaskular, Neurologi, Penyakit Langka, Imunologi
Kondisi kaki dapat memberikan petunjuk penting terkait kesehatan saraf, peredaran darah, hingga penyakit sistemik.
Ancaman super flu, infeksi saluran pernapasan akibat virus influenza dengan gejala yang lebih berat dibanding flu biasa, kian menjadi perhatian.
Pekerja lapangan menghadapi risiko penyakit yang cukup serius, mulai dari leptospirosis, infeksi kulit, diare, hingga infeksi saluran pernapasan.
Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan satu anak dengan gizi buruk, satu anak stunting, dan enam anak dengan gizi kurang.
SERANGAN penyakit kutu air (balancat) dan diare mulai menyerang korban banjir di Provinsi Kalimantan Selatan.
Kolesterol yang tinggi sering disebut sebagai silent killer dan dapat menjadi penyebab dari berbagai penyakit serius.
Sedentary lifestyle atau gaya hidup yang kurang aktif bergerak dapat membuat wanita mengalami infertilitas yang disebabkan oleh Polycystic Ovary Syndrome (PCOS).
Ilmuwan Amerika berhasil menciptakan embrio manusia tahap awal dari sel kulit.
TIDAK ada perjalanan yang sama bagi setiap pasangan dalam meraih kehamilan. Ada yang berjalan mulus, tetapi banyak pula yang harus menghadapi proses panjang, penuh harapan dan air mata.
Peneliti berhasil memetakan perkembangan ovarium primata. Temuan ini membuka peluang baru untuk memahami infertilitas dan Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS).
Seperti diketahui, seiring bertambahnya usia, peluang hamil alami akan menurun karena cadangan sel telur perempuan berkurang dan kualitasnya ikut menurun.
Penelitian menunjukkan jumlah sperma pria menurun lebih dari 1% setiap tahun sejak 1950-an, dengan laju penurunan kini mencapai 2% per tahun.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved