Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
DAMPAK Infertilitas pada pria memiliki banyak bentuk, mulai dari masalah umum seperti jumlah sperma yang rendah, hingga kondisi yang lebih jarang terjadi seperti Azoospermia. Meski lebih jarang terjadi, Azoospermia diperkirakan dialami oleh sekitar 1% pria di dunia, dan dianggap menjadi penyebab sekitar 10-15% kasus kemandulan.
Dilansir dari laman Yankes Kemenkes, Azoospermia merupakan kondisi air mani yang dikeluarkan saat ejakulasi tidak mengandung sperma sama sekali. Kondisi ini juga disebut sebagai sperma kosong. Pria yang mengalami Azoospermia umumnya tidak menyadari masalah ini sampai ia melakukan pemeriksaan.
Normalnya, jumlah sperma seorang pria adalah 15-200 juta sel per milimeter air mani. Pria yang jumlah spermanya ada di bawah angka tersebut dianggap memiliki jumlah sperma yang rendah.
Azoospermia dan Oligospermia merupakan dua kondisi yang berbeda. Oligospermia adalah kondisi ketika jumlah sperma pada air mani di bawah 15 juta per milimeter. Sementara itu, pada Azoospermiaatau sperma kosong, sel sperma tidak ada sama sekali.
Azoospermia dapat terjadi oleh berbagai macam kondisi. Berdasarkan penyebabnya, Azoospermia terbagi dalam dua jenis, yaitu Azoospermia Obstruktif di mana jenis ini terjadi akibat penyumbatan di saluran organ reproduksi pria, seperti epididimis atau saluran sperma (vas deferens).
Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan penyumbatan tersebut adalah cedera, infeksi atau peradangan, kista, operasi di bagian panggul, prosedur vasektomi, cystic fibrosis, yang menyebabkan penyumbatan akibat lendir di vas deferens, dan ejakulasi retrograde, yaitu kondisi ketika air mani tidak keluar dari penis, tetapi masuk ke saluran kemih.
Penyebab kedua adalah Azoospermia Non-Obstruktif, di mana jenis ini dapat terjadi akibat gangguan hormon, atau kelainan genetik yang membuat pria tidak bisa menghasilkan sperma sama sekali.
Beberapa penyebab tesebut adalah gangguan hormon, seperti hipogonadisme dan hiperprolaktinemia dan kelainan genetik atau kromosom, seperti sindrom Klinefelter, sindrom Kallmann, serta Y-chromosomal microdeletions.
Selain akibat kondisi di atas, Azoospermia jenis ini juga dapat terjadi akibat kelainan struktur dan fungsi testis, yang dapat disebabkan oleh beberapa kondisi di antaranya torsio testis, tidak adanya testis (anorchia), kriptorkismus, testis gagal memproduksi sperma (sertoli cell-only syndrome), peradangan pada testis (orchitis), tumor atau kanker testis, varikokel, penyakit tertentu, seperti diabetes dan gagal ginjal, efek samping obat-obatan, dan efek samping paparan radiasi, seperti akibat radioterapi atau kemoterapi.
Gejala utama Azoospermia adalah ketidakmampuan untuk memiliki anak (mandul). Selain gejala tersebut, umumnya Azoospermia tidak menimbulkan gejala apa pun. Akan tetapi, pada Azoospermia yang disebabkan oleh suatu kondisi, penderita dapat merasakan gejala tertentu, antara lain gangguan ereksi, kehilangan gairah seksual, nyeri, pembengkakan, atau benjolan pada testis, serta tidak adanya tanda-tanda pubertas pada pria, seperti perubahan suara, pertumbuhan jakun, atau pertumbuhan rambut di wajah dan kelamin.
Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, termasuk pemeriksaan pada penis dan skrotum. Untuk menetapkan diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang, yaitu tes air mani, untuk mengetahui jumlah sperma di dalam air mani, tes hormon, untuk memeriksa kadar hormon dalam tubuh, pemindaian, seperti USG testis, USG transrektal, atau CT scan, untuk melihat kondisi testis dan salurannya, tes genetik, untuk mendeteksi tanda-tanda kelainan genetik, seperti sindrom Klinefelter, dan biopsi testis, untuk mendeteksi kelainan yang menyebabkan gangguan pada produksi sperma.
Pengobatan Azoospermia disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya, usia pasangan pasien, dan hasil tes yang telah dilakukan.
Beberapa metode pengobatan yang dapat dilakukan adalah operasi yang dilakukan untuk mengatasi Azoospermia yang disebabkan oleh penyumbatan di saluran reproduksi pria. Dokter dapat memperbaiki saluran yang tersumbat, atau membuat saluran jika saluran reproduksi tidak berkembang akibat kelainan bawaan.
Setelah pasien menjalani operasi, dokter akan melakukan pemeriksaan sperma lanjutan 3-6 bulan setelah pasien dioperasi. Jika produksi sperma pasien telah normal, pasien diperbolehkan untuk mulai merencanakan memiliki anak dengan pasangannya.
Metode selanjutnya adalah terapi hormon yang dapat diberikan kepada pasien yang mengalami Azoospermia akibat gangguan hormon. Terapi ini dapat meningkatkan kadar hormon testosteron yang berfungsi dalam pembentukan sperma.
Pada beberapa kasus, Azoospermia non-obstruktif tidak dapat diatasi, terutama yang disebabkan oleh kelainan genetik. Pada kondisi ini, pasien masih tetap bisa memiliki anak dengan menjalani program bayi tabung. (Des/I-2)
Azoospermia merupakan kondisi saat tidak ditemukan satu pun sel sperma pada air mani pria.
Azoospermia, atau sering disebut sebagai kondisi sperma kosong, adalah salah satu gangguan kesuburan pada pria yang kerap tidak terdeteksi.
AZOOSPERMIA, atau sering disebut sebagai kondisi sperma kosong, adalah salah satu gangguan kesuburan pada pria yang kerap tidak terdeteksi.
Azoospermia dapat menyebabkan infertilitas dan menyerang sekitar 1 dari 100 populasi umum.
Sedentary lifestyle atau gaya hidup yang kurang aktif bergerak dapat membuat wanita mengalami infertilitas yang disebabkan oleh Polycystic Ovary Syndrome (PCOS).
Ilmuwan Amerika berhasil menciptakan embrio manusia tahap awal dari sel kulit.
TIDAK ada perjalanan yang sama bagi setiap pasangan dalam meraih kehamilan. Ada yang berjalan mulus, tetapi banyak pula yang harus menghadapi proses panjang, penuh harapan dan air mata.
Peneliti berhasil memetakan perkembangan ovarium primata. Temuan ini membuka peluang baru untuk memahami infertilitas dan Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS).
Seperti diketahui, seiring bertambahnya usia, peluang hamil alami akan menurun karena cadangan sel telur perempuan berkurang dan kualitasnya ikut menurun.
Penelitian menunjukkan jumlah sperma pria menurun lebih dari 1% setiap tahun sejak 1950-an, dengan laju penurunan kini mencapai 2% per tahun.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved