Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
MASALAH infertilitas atau kesulitan memiliki keturunan kini menjadi perhatian serius, terutama bagi kaum pria. Dokter Spesialis Andrologi Eka Hospital Grand Family PIK, dr. Christian Christoper Sunnu, mengungkapkan bahwa kondisi medis yang disebut Azoospermia atau sperma kosong kian marak terjadi akibat kombinasi gaya hidup yang tidak sehat hingga faktor medis tertentu.
Azoospermia merupakan kondisi saat tidak ditemukan satu pun sel sperma pada air mani pria. Secara kasat mata, kondisi ini sering kali ditandai dengan tekstur air mani yang terlihat encer dan bening layaknya air. Menurut Christian, kondisi ini menyumbang sekitar 20% dari total kasus infertilitas di seluruh dunia.
Di Indonesia sendiri, tantangan ini cukup nyata. Tercatat sekitar 4-6 juta pasangan muda mengalami kesulitan memiliki anak, dengan 30% di antaranya dipicu oleh faktor infertilitas pada laki-laki. Christian juga menyoroti fenomena global yang cukup mengkhawatirkan.
"Jumlah sperma laki-laki di dunia telah menurun lebih dari 50% dalam setengah abad terakhir," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Rabu (17/12).
Dalam dunia medis, Azoospermia terbagi menjadi dua tipe utama berdasarkan penyebabnya:
1. Tipe Sumbatan (Obstruktif)
Terjadi karena adanya blokade pada saluran reproduksi. Pemicunya beragam, mulai dari infeksi lama akibat perilaku seks tidak aman tanpa kondom, faktor genetik, hingga trauma fisik yang keras pada area testis akibat benturan atau kecelakaan.
2. Tipe Non-Sumbatan (Non-Obstruktif)
Kondisi ini berkaitan langsung dengan kegagalan produksi sperma di dalam testis. Faktor utamanya mencakup gaya hidup buruk seperti merokok, konsumsi alkohol, serta konsumsi ultra processed food.
Selain itu, faktor lain seperti varikokel, infeksi virus (seperti gondongan atau covid-19), penggunaan obat-obatan tertentu, hingga suntik hormon yang sembarangan juga menjadi penyebab utama.
Christian menegaskan bahwa kedua tipe sperma kosong ini memiliki tingkat kerumitan yang tinggi untuk ditangani secara medis.
"Kedua tipe sperma kosong sangat sulit disembuhkan. Sampai saat ini belum ada terapi yang dapat meningkatkan jumlah sperma dari nol hingga benar-benar normal," ujarnya.
Meskipun pada tipe nonsumbatan dapat diringankan melalui suntik hormon atau terapi stem cell, langkah ini tetap bukan jaminan 100 persen untuk mengembalikan jumlah sperma ke angka normal.
Oleh karena itu, bagi pasangan yang menghadapi masalah ini, prosedur bayi tabung atau In Vitro Fertilization (IVF) sering kali menjadi jalan keluar medis yang direkomendasikan.
Sebagai langkah pencegahan, Christian menekankan pentingnya menjaga kesehatan buah zakar sebagai organ vital produksi sperma. Kerusakan pada organ ini sering kali bersifat permanen dan sulit dipulihkan.
"Penting sekali untuk menjaga kesehatan buah zakar pria sejak kecil dan tidak menunggu hingga sudah menikah untuk mulai berobat," pungkasnya. (Ant/Z-1)
Mengeluarkan sperma adalah proses alami dan aman jika dilakukan wajar. Dampak negatif biasanya muncul jika dilakukan berlebihan tanpa menjaga pola tidur, gizi, dan gaya hidup sehat.
Kesuburan pria tidak hanya dipengaruhi oleh faktor genetik atau kondisi medis tertentu. Ada sejumlah kebiasaan sehari-hari yang tanpa disadari dapat menurunkan kualitas dan jumlah sperma.
TIDAK ada perjalanan yang sama bagi setiap pasangan dalam meraih kehamilan. Ada yang berjalan mulus, tetapi banyak pula yang harus menghadapi proses panjang, penuh harapan dan air mata.
Stres dalam jangka panjang bisa meningkatkan kadar level hormon kortisol dan prolaktin yang berbahaya karena menekan hormon kesuburan.
Penelitian ungkap sel telur aktif memilih sperma terbaik melalui sinyal kimia dan seleksi DNA, bukan sekadar menunggu pembuahan secara pasif.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved