Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

Ubiquinone: Kunci Menjaga Kualitas Sperma Beku

Muhammad Ghifari A
02/2/2026 22:10
Ubiquinone: Kunci Menjaga Kualitas Sperma Beku
Ilustrasi(Doc Hellosehat)

DALAM dunia fertilitas, tidak semua sperma memulai perjalanan dari titik awal yang sama. Pada sebagian pria, jumlah sperma yang tersedia sangat sedikit, sebuah kondisi yang dikenal sebagai severe oligozoospermia. Dalam situasi ini, setiap sel sperma memiliki nilai yang luar biasa tinggi.

Bagi pasangan dengan kondisi tersebut, teknologi reproduksi berbantu seperti bayi tabung dan intracytoplasmic sperm injection (ICSI) kerap menjadi satu-satunya pilihan. 

Namun, sebelum sperma digunakan, sering kali diperlukan proses kriopreservasi atau pembekuan sperma, terutama bila sperma diperoleh dalam jumlah terbatas atau melalui tindakan pembedahan.

Sayangnya, proses beku cair bukanlah proses yang ramah bagi sperma. Penelitian sejak lama menunjukkan bahwa pembekuan dapat menyebabkan kerusakan mekanis dan stres oksidatif yang berujung pada penurunan tajam motilitas sperma setelah dicairkan kembali, sebagaimana dilaporkan Thomson pada 2009.

Masalah ini menjadi lebih kompleks pada pria dengan severe oligozoospermia. Sperma pada kelompok ini umumnya lebih rapuh, memiliki cadangan energi rendah, serta lebih rentan terhadap gangguan mitokondria dan kerusakan DNA. 

Aitken (2024) menegaskan bahwa sejak awal sperma pada kondisi ini sudah berada dalam keadaan biologis yang lebih rentan. Tak mengherankan jika angka keberhasilan kehamilan dengan sperma beku pada kelompok ini masih relatif terbatas, meskipun telah menggunakan teknologi seperti ICSI (Esteves, 2018).

Berangkat dari tantangan tersebut, perhatian peneliti tertuju pada upaya melindungi sperma selama proses pembekuan. Salah satu senyawa yang menarik perhatian adalah ubiquinone atau Coenzyme Q10, antioksidan alami yang berperan penting dalam produksi energi di mitokondria.

Pada sperma, mitokondria berfungsi sebagai sumber energi untuk menggerakkan ekor. Tanpa pasokan energi yang memadai, sperma akan kehilangan motilitasnya, padahal kemampuan bergerak merupakan salah satu syarat utama agar sperma dapat digunakan dalam proses fertilisasi. 

Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perlindungan fungsi mitokondria berkaitan erat dengan perbaikan motilitas sperma (Giacone, 2017).

Sebuah penelitian laboratorium di Universitas Airlangga mencoba menguji konsep ini secara lebih spesifik. Penelitian tersebut menilai apakah penambahan ubiquinone secara in vitro ke dalam media pembekuan dapat membantu menjaga kualitas sperma setelah dicairkan kembali, khususnya pada pria dengan severe oligozoospermia kelompok yang selama ini relatif jarang menjadi fokus penelitian.

Hasilnya menunjukkan temuan yang menjanjikan. Sperma yang dibekukan dengan tambahan ubiquinone mengalami penurunan motilitas yang lebih kecil setelah pencairan dibandingkan sperma tanpa ubiquinone. Artinya, lebih banyak sperma yang tetap mampu bergerak setelah melalui proses beku cair.

Namun, efek perlindungan ini tidak terlihat pada semua parameter. Ketika viabilitas sperma dievaluasi, perbedaan antara kelompok dengan dan tanpa ubiquinone tidak menunjukkan hasil yang bermakna. Pola ini sejalan dengan temuan Tas dkk. (2023), yang menyebutkan bahwa efek ubiquinone lebih konsisten pada aspek energi dan motilitas dibandingkan stabilitas membran sel.

Meski peningkatan motilitas tampak tidak besar, makna klinisnya sangat signifikan. Pada kasus severe oligozoospermia, prosedur ICSI sering kali hanya mengandalkan segelintir sperma yang layak. Dalam kondisi ini, keberadaan satu atau dua sperma motil tambahan dapat menentukan apakah fertilisasi dapat dilakukan atau tidak (Kuznyetsov, 2015).

Dari sisi praktis, ubiquinone menawarkan keunggulan tersendiri. Senyawa ini relatif aman, telah lama digunakan sebagai suplemen, dan biayanya tidak tinggi. Dengan karakteristik tersebut, ubiquinone berpotensi menjadi tambahan sederhana namun strategis dalam protokol pembekuan sperma, terutama pada kasus infertilitas pria berat atau di pusat fertilitas dengan sumber daya terbatas.

Meski demikian, penelitian ini tetap memiliki keterbatasan, terutama pada jumlah sampel dan belum dievaluasinya aspek lain seperti integritas DNA sperma. Namun, temuan ini menyampaikan pesan penting: dalam reproduksi berbantu, perlindungan kecil di tingkat sel dapat membawa dampak besar bagi harapan pasangan untuk memiliki keturunan.

Ubiquinone mungkin bukan solusi tunggal, tetapi ia membuka peluang baru untuk menjaga kualitas sperma bahkan ketika setiap sperma benar-benar berarti.

Sumber: Universitas Airlangga



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya