Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
PAKAR obstetri dan ginekologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Hariyono Winarto mengatakan perempuan yang pernah terinfeksi human papillomavirus (HPV) atau HPV-DNA positif masih memiliki peluang untuk hamil karena kondisi itu tidak berhubungan langsung dengan kehamilan.
"HPV-DNA positif sebenarnya tidak berhubungan langsung dengan kehamilan. Jadi, keberhasilan kehamilan itu lain lagi sebenarnya faktor-faktor yang berperan. Jadi tetap bisa hamil, yang sudah pernah HPV DNA positif," kata Hariyono, dikutip Jumat (24/11).
Kecuali, sambung Hariyono, bila memang ada faktor lain yang saat pasien diterapi karena HPV positif akhirnya mengganggu kehamilan.
Baca juga: Cara Alami Atasi Morning Sickness pada Ibu Hamil
"Misalnya ada infeksi di saluran telur dan lainnya, bisa terjadi gangguan untuk hamil," tutur dia.
Diagnosis HPV-DNA positif berarti seseorang terinfeksi HPV tipe risiko tinggi, tetapi bukan berarti dia positif kanker, melainkan berisiko sangat tinggi untuk terkena kanker leher rahim atau serviks di masa mendatang.
Selain tentang peluang hamil, Hariyono juga membahas tentang boleh atau tidaknya pasien HPV-DNA positif divaksin.
Baca juga: Ibu Hamil Diminta Waspadai Faktor Keturunan Stroke
"Kalau belum pernah vaksin tetap ada gunanya vaksinasi untuk mencegah reinfeksi. Kalau divaksinasi lagi, kalau ada infeksi lagi berarti tubuh sudah mulai memiliki kekebalan," ujar Hariyono.
Dia menambahkan, pasien tidak perlu menunggu negatif HPV untuk bisa divaksin. Tetapi yang penting dia belum terkena kanker serviks.
Tes HPV bermanfaat untuk mendeteksi keberadaan human papillomavirus, virus yang dapat menyebabkan berkembangnya kutil kelamin, sel serviks abnormal, atau kanker serviks.
Merujuk Mayo Clinic, tes ini biasanya dilakukan mereka yang berusia 30 tahun atau lebih untuk mendeteksi keberadaan HPV dari leher rahim namun bukan berarti mendiagnosis seseorang terkena kanker.
Tipe HPV tertentu seperti 16 dan 18 meningkatkan risiko seseorang terkena kanker serviks. Tes HPV dilakukan secara rutin di bawah usia 30 tahun tidak disarankan, karena tidak terlalu membantu.
Sementara itu, berbicara penularan, HPV menyebar melalui hubungan seksual dan sangat umum terjadi pada orang muda. Namun, infeksi HPV sering kali hilang dengan sendirinya dalam waktu satu atau dua tahun.
Selanjutnya, perubahan serviks yang menyebabkan kanker biasanya memerlukan waktu beberapa tahun, sering kali 10 tahun atau lebih, untuk berkembang. (Ant/Z-1)
Ancaman super flu, infeksi saluran pernapasan akibat virus influenza dengan gejala yang lebih berat dibanding flu biasa, kian menjadi perhatian.
Pekerja lapangan menghadapi risiko penyakit yang cukup serius, mulai dari leptospirosis, infeksi kulit, diare, hingga infeksi saluran pernapasan.
Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan satu anak dengan gizi buruk, satu anak stunting, dan enam anak dengan gizi kurang.
SERANGAN penyakit kutu air (balancat) dan diare mulai menyerang korban banjir di Provinsi Kalimantan Selatan.
Kolesterol yang tinggi sering disebut sebagai silent killer dan dapat menjadi penyebab dari berbagai penyakit serius.
Musim flu di New York tahun ini datang lebih awal dan menyebar lebih cepat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Tim dokter FKUI dan relawan UI Peduli memberikan dukungan psikososial dan layanan medis bagi penyintas banjir dan longsor di Samar Kilang, Aceh.
FKUI melaporkan bahwa akses layanan kesehatan di sejumlah wilayah terdampak banjir di Aceh, berangsur pulih, khususnya di Kota Langsa, Aceh Tamiang
Ribuan warga Kota Ternate, Maluku Utara, menerima layanan kesehatan gratis dan edukasi medis dalam kegiatan BUMI 3.0 yang digelar FKUI dan alumni FKUI angkatan 1994 (Komet'94).
Di tengah kondisi banjir yang melanda wilayah Jabodetabek, FKUI turut menyoroti pentingnya akses layanan kesehatan bagi masyarakat yang terdampak.
Dies Natalis ke-75 FKUI bukan sekadar perayaan tapi juga refleksi perjalanan panjang FKUI dalam mencetak saintis dan profesional medis berkualitas dan mampu berkontribusi bagi bangsa.
50% pasien kanker prostat di Indonesia baru melakukan deteksi ketika kondisi penyakitnya telah berada pada stadium lanjut.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved