Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER spesialis penyakit dalam Sukamto Koesnoe mengimbau masyarakat agar tidak mengabaikan infeksi Respiratory Syncytial Virus (RSV), terutama yang rentan menyerang anak-anak hingga lansia.
Dalam diskusi kesehatan di Jakarta, Rabu (6/8), Sukamto menegaskan bahwa RSV bukan penyakit ringan seperti yang kerap diasumsikan masyarakat.
"RSV itu merupakan ancaman kesehatan yang sering terabaikan. RSV sebetulnya sudah lama. Perlu dipahami oleh teman-teman RSV bukan penyakit ringan, bukan selesma yang sering kali kita biarkan dengan istirahat sendiri," kata Sukamto Koesnoe.
Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) itu menjelaskan RSV merupakan virus yang mudah menular dan menyerang saluran pernapasan dan paling berbahaya menyerang dua ujung spektrum yaitu bayi dan lansia.
"Virus ini menyebar dengan mudah melalui kontak langsung, kontak dengan penderita, bahkan melalui sentuhan pada benda yang terkontaminasi. Paling berbahaya menyerang dua ujung spektrum yakni bayi dan lansia," tutur dia.
RSV juga menyerang kelompok berisiko tinggi seperti bayi prematur hingga orang dengan sistem imun lemah. Faktor risiko untuk tertular dan terjadi pemberatan pada orang-orang dengan penyakit kronis, seperti jantung, ginjal, penyakit paru seperti PPOK dan asma.
Adapun salah satu gejala RSV pada anak-anak dan dewasa umumnya ditandai dengan demam tinggi.
Namun, menurut Sukamto, hal itu berbeda terjadi pada lansia, ketika cenderung tidak mengalami demam karena sistem imun mereka
sudah menurun atau imunosenesens.
"Sehingga kalau terinfeksi seringkali tidak demam tetapi terjadi perubahan kesadaran yang namanya sindrom delirium akut, berubah menjadi
gelisah atau dia tidur saja atau yang tadinya dimensia ringan saja menjadi berat dan seterusnya," imbuh dia.
Sukamto mengatakan gejala tampak ringan seperti batuk pilek, hidung tersumbat sesak nafas diawal seringkali di masyarakat dianggap normal pada lansia.
Tidak hanya itu, penyebab RSV yang menyerang pada kelompok berisiko tinggi bisa memicu komplikasi serius seperti pneumonia, radang paru akut, hingga pemburukan seperti bisa gagal jantung.
"Karena gejalanya tidak terlalu jelas, kemudian keluarga, anaknya, caregiver-nya, masyarakat menganggap itu gejalanya yang biasa pada lansia, sering kali lansia yang terinfeksi RSV itu menjadi terlambat ditangani," kata dia.
Lebih lanjut, Sukamto membagikan kiat yang bisa dilakukan sebagai upaya melindungi diri sendiri dan orang lain dari RSV seperti cara yang konvensional yakni mencuci tangan, hindari menyentuh wajah, jaga jarak dengan orang sakit hingga etika batuk bersin dengan tutup mulut dan hidung.
"Paling penting dan ini breakthrough terbaru adalah vaksinasi, pada ibu hamil untuk melindungi bayinya dan melindungi orang dewasa terutama yang berusia 60 tahun. PB PAPDI telah memasukkan rekomendasi tersebut yang kemudian kita tuangkan ke dalam Jadwal Imunisasi Dewasa," pungkas dia. (Ant/Z-1)
Penyakit infeksi dengan fatalitas tinggi seperti Virus Nipah menuntut kewaspadaan sejak gejala awal
ISPA tidak menyerang semua orang dengan dampak yang sama. Terdapat kelompok tertentu yang jauh lebih berisiko mengalami kondisi ini.
Keempat penyakit tersebut adalah Avian Influenza (flu burung), Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-CoV), Super Flu, dan infeksi virus Nipah.
Infeksi cacing secara kronis dapat menurunkan produksi ayam petelur, baik dari segi kuantitas maupun bobot telur.
Pekerja lapangan menghadapi risiko penyakit yang cukup serius, mulai dari leptospirosis, infeksi kulit, diare, hingga infeksi saluran pernapasan.
Pada pasien anak yang dirawat inap akibat radang paru akut (pneumonia), ditemukan bahwa mereka yang mengalami gejala berat, sering kali memiliki lebih dari satu patogen di dalam tubuhnya.
Berdasarkan data Kemenkes, grafik kasus campak sempat melonjak tajam pada pekan pertama Januari 2026 dengan total 2.220 kasus.
Obesitas bukan sekadar persoalan penampilan atau gaya hidup. Ini penyakit kronis yang risikonya besar terhadap kesehatan.
Kemenkes menyebut terdapat 3 penyakit yang banyak ditemukan pada pemudik lebaran 2026 yakni hipertensi (darah tinggi), cephalgia (nyeri kepala), dan gastritis (maag).
GURU Besar Ilmu Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi-Hepatologi FKUI-RSCM, Prof Ari Fahrial Syam mengungkapkan terdapat beberapa penyakit yang sering muncul setelah lebaran.
DI balik suasana penuh kebahagiaan Hari Raya Idul Fitri, penderita penyakit autoimun perlu memberikan perhatian khusus terhadap kondisi kesehatannya agar terhindar dari kekambuhan
Obesitas sangat memengaruhi keseimbangan hormon, terutama pada perempuan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved