Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Spanyol Susul Australia, Larang Media Sosial untuk Anak di Bawah 16 Tahun

Thalatie K Yani
04/2/2026 06:05
Spanyol Susul Australia, Larang Media Sosial untuk Anak di Bawah 16 Tahun
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez umumkan rencana pelarangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun demi memberantas 'Wild West' digital.(Media Sosial X)

SPANYOL resmi menjadi negara Eropa terbaru yang mengumumkan rencana ambisius untuk melarang penggunaan media sosial bagi anak-anak di bawah usia 16 tahun. Langkah ini diambil sebagai upaya pemerintah dalam melindungi generasi muda dari dampak negatif dunia siber yang kian mengkhawatirkan.

Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, menyampaikan pengumuman tersebut dalam ajang World Governments Summit di Dubai pada hari Selasa. Ia menegaskan komitmennya untuk mengakhiri apa yang ia sebut sebagai anarki di ruang digital.

"Kami akan melindungi mereka dari 'Wild West' digital," tegas Sánchez. "Saat ini, anak-anak kita terpapar pada ruang yang tidak pernah dimaksudkan untuk mereka navigasi sendirian. Media sosial telah menjadi tempat adiksi, pelecehan, pornografi, manipulasi, dan kekerasan. Kami tidak akan lagi menerima itu. Kami akan melindungi mereka."

Verifikasi Usia yang Lebih Ketat

Rencana ini mencakup serangkaian perubahan besar, termasuk menuntut pertanggungjawaban eksekutif perusahaan teknologi atas konten ilegal atau berbahaya di platform mereka. Sánchez menekankan sistem verifikasi usia nantinya tidak boleh sekadar formalitas.

"Bukan hanya kotak centang, tetapi hambatan nyata yang berfungsi," jelasnya. Pernyataan ini merujuk pada kelemahan sistem di negara lain, seperti di Australia, di mana anak-anak kerap memanipulasi pengecekan usia hanya dengan menggunakan foto orang dewasa.

Selain itu, undang-undang baru ini akan mengkriminalisasi manipulasi algoritma yang memperkuat konten ilegal demi keuntungan. Sánchez menepis anggapan teknologi bersifat netral. Menurutnya, bersembunyi di balik kode komputer untuk membiarkan disinformasi tersebar demi laba tidak lagi dapat diterima.

Investigasi Terhadap Platform Raksasa

Spanyol juga berencana menyelidiki dan menuntut pelanggaran yang dilakukan berbagai platform, termasuk alat AI milik X (Grok), TikTok, dan Instagram. Langkah ini sejalan dengan investigasi Komisi Eropa terhadap Grok terkait kekhawatiran pembuatan gambar seksual orang sungguhan.

Di Prancis, ketegangan kian memuncak setelah kantor X (sebelumnya Twitter) digerebek oleh unit kejahatan siber terkait dugaan ekstraksi data ilegal dan keterlibatan dalam kepemilikan pornografi anak. Pemilik X, Elon Musk, merespons keras pengumuman Sánchez dengan menyebut sang Perdana Menteri sebagai "tiran dan pengkhianat rakyat Spanyol."

Tren Global dan Tantangan Politik

Spanyol menyusul langkah Australia yang telah menerapkan larangan serupa tahun lalu. Negara-negara lain seperti Prancis, Denmark, Austria, dan Inggris juga tengah mempertimbangkan batasan usia nasional mereka. Presiden Prancis Emmanuel Macron bahkan menargetkan larangan bagi anak di bawah 15 tahun sudah berlaku pada September mendatang.

Meski demikian, Sánchez menghadapi tantangan politik di dalam negeri. Pemerintah koalisi sayap kirinya tidak memiliki mayoritas kursi di parlemen. Sementara partai oposisi utama (Partai Rakyat) menunjukkan dukungan, partai sayap kanan Vox secara tegas menolak rencana tersebut.

Di sisi lain, perusahaan media sosial berargumen bahwa larangan ini tidak akan efektif, sulit diterapkan, dan justru berisiko mengisolasi remaja yang rentan. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya