Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

PM Pedro Sanchez Beberkan Alasan Spanyol Tolak Perang di Iran

mediaindonesia.com
05/3/2026 12:37
PM Pedro Sanchez Beberkan Alasan Spanyol Tolak Perang di Iran
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez (kiri) dan Presiden AS Donald Trump.(AFP)

MESKI menghadapi tekanan ekonomi dan politik, Spanyol tetap teguh menolak perang di Iran. Dalam pidato kenegaraannya, Perdana Menteri Pedro Sanchez menyampaikan pesan singkat namun tegas: “No to the war”, atau tidak untuk perang.

Sanchez menegaskan, posisi Spanyol bukan berarti mendukung Teheran, melainkan panggilan kemanusiaan agar Iran, Israel, dan Amerika Serikat segera menghentikan kontak senjata.

"Dua puluh tiga tahun lalu, kita pernah diseret ke dalam perang Timur Tengah oleh pemerintahan AS yang lain. Dampaknya adalah gelombang ketidakamanan terbesar yang pernah dirasakan benua kita sejak runtuhnya Tembok Berlin," ujar Sanchez, mengingatkan memori Perang Irak 2003.

Ia memperingatkan, membiarkan konflik ini berlanjut sama saja dengan “bermain api” dengan nyawa jutaan orang. Sanchez juga mengkritik keras para pemimpin dunia yang gagal mengedepankan jalur diplomasi.

"Sangat tidak bisa diterima jika para pemimpin yang gagal menjalankan tugasnya justru mencoba menutupi kegagalan itu dengan tameng perang," tegasnya.

Sikap tegas Madrid memicu ketegangan dengan Washington. Pedro Sanchez secara terbuka menolak serangan militer AS-Israel ke Iran, langkah yang memunculkan ancaman boikot perdagangan dari Presiden AS Donald Trump.

Sebagai bentuk protes nyata, Spanyol melarang penggunaan pangkalan militernya untuk mendukung operasi militer Amerika Serikat, menjadikan Madrid sebagai salah satu suara paling lantang di Uni Eropa yang mempertanyakan legalitas serangan tersebut.

Donald Trump membalas dengan keras, mengancam akan menghentikan total perdagangan dengan Spanyol. "Kita akan hentikan semua perdagangan dengan Spanyol. Kita tidak ingin lagi berhubungan dengan mereka," tegas Trump dalam keterangan pers bersama Kanselir Jerman, Friedrich Merz.

Posisi Dilematis Jerman

Sementara itu, Jerman mengambil sikap lebih berhati-hati. Kanselir Friedrich Merz tidak mendukung Spanyol secara terbuka, namun juga tidak membenarkan ancaman Trump. Jerman berada di posisi sensitif karena sedang membahas kontribusi Spanyol di NATO.

Saat didesak wartawan, Merz hanya menjelaskan bahwa ia membahas masalah ini secara tertutup dengan Trump. Ia menekankan bahwa Spanyol adalah anggota penting Uni Eropa yang tidak bisa diperlakukan semena-mena.

"Saya tidak ingin memperpanjang perdebatan ini di ruang publik," kata Merz singkat.

Sikap dingin Merz memicu kekecewaan di Madrid. Menteri Luar Negeri Spanyol bahkan mengaku terkejut dan menilai respons tersebut tidak pantas bagi seorang pemimpin Eropa yang seharusnya mendukung persatuan mitra.

Sikap Spanyol mendapat dukungan dari Wakil Presiden Komisi Eropa, Teresa Ribera. Ia menilai ancaman Trump berbahaya bagi stabilitas global dan menyayangkan cara Washington memperlakukan mitra-mitra Eropa.

"Ketegangan akibat perlakuan Washington terhadap mitra-mitranya mulai dari PM Inggris Keir Starmer, Presiden Prancis Emmanuel Macron, hingga Pedro Sanchez telah meresahkan publik serta mengancam stabilitas perdamaian dan kerja sama ekonomi global," jelas Ribera.

Presiden Prancis Emmanuel Macron juga dikabarkan menghubungi Sanchez sebagai bentuk solidaritas. Macron sebelumnya mempertanyakan legalitas serangan dan menegaskan bahwa Paris tidak dapat menyetujui operasi yang dilakukan di luar hukum internasional. (Ant/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya