Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Donald Trump Klaim Akhiri 8 Perang dalam 8 Bulan, Benarkah?

Thalatie K Yani
20/1/2026 05:04
Donald Trump Klaim Akhiri 8 Perang dalam 8 Bulan, Benarkah?
Donald Trump mengklaim telah menghentikan 8 perang besar demi gelar Nobel Perdamaian. Benarkah?(White House)

DONALD Trump kembali memicu diskusi publik setelah menyebut dirinya sebagai "Presiden Perdamaian". Dalam pernyataan terbarunya, ia mengklaim telah menghentikan "8 perang plus" hanya dalam waktu delapan bulan. Sebuah pencapaian yang menurutnya layak diganjar Hadiah Nobel Perdamaian.

Namun, benarkah konflik-konflik tersebut telah berakhir? Analisis terhadap daftar klaim Trump menunjukkan realitas yang jauh lebih kompleks di lapangan.

Israel, Hamas, dan Iran: Gencatan Senjata yang Rapuh

Trump mendapatkan pujian luas atas perannya menengahi gencatan senjata antara Israel dan Hamas. Namun, para ahli mengingatkan ini hanyalah tahap awal.

"Ini adalah pencapaian besar tetapi sangat rapuh," ujar Michael O’Hanlon, pakar kebijakan luar negeri dari Brookings Institution. Ia menambahkan perdamaian permanen membutuhkan solusi dua negara yang jauh lebih sulit dicapai.

Terkait konflik 12 hari antara Israel dan Iran, Trump mengeklaim keterlibatan AS dalam serangan ke situs nuklir Iran mempercepat berakhirnya perseteruan. Meski gencatan senjata terjadi, O’Hanlon mencatat, "Tidak ada kesepakatan mengenai perdamaian permanen atau bagaimana memantau program nuklir Iran ke depan."

Diplomasi Tekanan: India, Pakistan, hingga Kamboja

Di Asia Selatan, Trump mengeklaim mediasi AS berhasil menghentikan serangan udara antara India dan Pakistan dalam empat hari. Sementara Pakistan berterima kasih, India justru mengecilkan peran AS, menyatakan  pembicaraan dilakukan secara langsung antar-militer.

Trump juga menggunakan "diplomasi tarif" untuk menekan Thailand dan Cambodia agar menghentikan konflik perbatasan. Ancaman penghentian negosiasi pajak impor terbukti efektif membuat kedua negara yang bergantung pada ekspor ke AS itu sepakat melakukan gencatan senjata tanpa syarat.

Klaim yang Dipertanyakan: Mesir dan Serbia

Beberapa poin dalam daftar Trump mengundang tanda tanya besar. Di Afrika, Trump mengklaim menyelesaikan konflik antara Mesir dan Ethiopia terkait bendungan Sungai Nil. Faktanya, meski ia berjanji menyelesaikan masalah tersebut dengan cepat, hingga kini belum ada kesepakatan formal yang tercapai.

Hal serupa terjadi pada klaimnya terkait Serbia dan Kosovo. Trump mengeklaim telah mencegah "perang besar" dengan ancaman pemutusan perdagangan. Namun, sejarawan Profesor Margaret MacMillan menegaskan, "Serbia dan Kosovo tidak sedang bertempur atau saling menembak, jadi itu bukan perang yang harus dihentikan."

Daftar Konflik yang Diklaim "Berakhir" oleh Trump:

  1. Israel dan Hamas (Gencatan senjata tahap awal)
  2. Israel dan Iran (Gencatan senjata de facto setelah 12 hari)
  3. Pakistan dan India (Intervensi diplomatik singkat)
  4. Rwanda dan DR Kongo (Kesepakatan ditandatangani, namun pertempuran masih berlanjut)
  5. Thailand dan Kamboja (Gencatan senjata di bawah ancaman tarif)
  6. Armenia dan Azerbaijan (Kesepakatan damai atas wilayah Nagorno-Karabakh)
  7. Mesir dan Ethiopia (Sengketa air; tidak ada perang fisik)
  8. Serbia dan Kosovo (Ketegangan diplomatik, bukan perang aktif)

Meski Trump bersikeras "Dunia tidak aman kecuali kita memiliki kendali penuh," efektivitas jangka panjang dari kesepakatan-kesepakatan ini masih harus diuji waktu. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya